Ahmad Wahib: Mencatat Pemikiran dalam Catatan Harian

1
1162

BincangSyariah.Com – Pembaharuan Islam yang digagas oleh Ahmad Wahib adalah reinterpretasi dari ajaran agama tentang perbedaan antara agama dan ilmu agama. Baginya, pembaharuan yang ada harus berangkat dari manusia itu sendiri.

Dalam pembaharuan, masyarakat harus menjadi “teman” dialog utama dalam setiap pembaharuan Islam yang ditujukan untuk mereka. Kegiatan pemikiran dan peta ide-ide pembaharuan Ahmad Wahib dalam memahami Islam sebenarnya sudah muncul lebih awal, tapi sayangnya tidak dikenal secara luas.

Kisah Hidup Semasa Kecil

Ahmad Wahib lahir di Sampang pada 9 November 1942. Ia tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nuansa keagamaan. Keluarganya adalah keluarga yang taat dalam beribadah, sama seperti keluarga di Madura pada umumnya.

Semasa kecil, Ahmad Wahib pernah mengenyam pendidikan di madrasah dan pesantren. Pendidikannya di pesantren tidak berlangsung lama karena ia memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).

Ayah Ahmad Wahib bernama Sulaiman yang berprofesi sebagai seorang pengasuh pesantren. Sang Ayah mempunyai pengaruh kuat dalam komunitasnya. Selain itu, ayah Ahmad Wahib juga dikenal sebagai tokoh agama terkemuka di daerahnya, hanya saja beliau agak berbeda dengan tokoh agama di Madura pada umumnya.

Di Madura, ada banyak tokoh agama sangat memiliki pemahaman konservatif dan fanatik dalam hal tradisi keagamaan. Ayah Ahmad Wahib bersikap sebaliknya. Beliau lebih bersikap terbuka dan liberal. Sikap ayahnya yang terbuka dan liberal inilah yang kemudian menurun dan berkembang dalam diri Ahmad Wahib.

Sikap terbuka dari sang ayah terbukti dalam pemilihan sekolah bagi anak-anaknya. Berbeda dengan anak-anak Madura lainnya yang lebih memilih untuk masuk ke pondok pesantren, ayah Ahmad Wahib yang merupakan tokoh santri pertama di Sampang justru menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah umum.

Baca Juga :  Hafiz Syirazi: Sufi Penyair Kontroversial

Sikap terbuka itulah yang memberikan kebebasan bagi Ahmad Wahib untuk memasuki jalur pendidikan umum. Ia memilih untuk masuk ke Sekolah Menegah Atas dengan mengambil Jurusan Ilmu Pasti di Pamekasan. Dari sekolah inilah Ahmad Wahib mulai diajari tentang tata cara berpikir secara rasional.

Singkat cerita, Ahmad Wahib berhasil lulus dari pada 1961 dan melanjutkan pendidikannya di Yogyakarta. Ia memilih menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Pasti dan Alam (FIPA) Universitas Gadjah Mada.

Proses belajarnya di perguruan tinggi ikut memberi andil yang besar bagi pembentukan watak pemikiran Ahmad Wahib sampai ia mempunyai pemikiran yang begitu berpengaruh, terutama tentang Islam. (Baca: Ibnu Taymiyyah, antara Salafi dan Liberal)

Pemikiran Ahmad Wahib

Banyak pemikir Islam yang menyatakan bahwa pembaharuan Islam yang digagas oleh Ahmad Wahib adalah reinterpretasi dari ajaran agama tentang perbedaan antara agama dan ilmu agama. Pemikiran Ahmad Wahib terangkum dalam buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib (1981).

Dalam pemikiran pembaharuan Ahmad Wahib, dua hal tersebut jatuh pada kekeliruan yang sama. Pertama, keliru memahami bahwa wahyu turun berdasarkan historical setting-nya dan salah menerima wahyu mentah-mentah tanpa interpretasi lebih lanjut.

Kedua, jatuh pada menafikan peran agama, padahal pada mulanya agama bertujuan untuk menjelaskan realitas dan mengarahkan, setidaknya menjadi perwakilan moral.

Dalam catatan tanggal 6 Maret 1970, Ahmad Wahib menulis bahwa proses pembaharuan adalah proses yang tidak pernah selesai, tapi selalu menjadi selesai. Peninjauan kembali secara terus menerus terhadap pikiran-pikiran yang sudah ada karenanya merupakan suatu keharusan.

Jika ada organisasi pembaharuan yang sudah berhenti mencari dan bertanya, sudah puas dengan ide-ide yang ada, tidak mengadakan kritik terhadap ide-ide yang tumbuh di dalamnya, sudah berhenti gelisah dan gundah, sudah tidak ada lagi gejolak dan pergolakan ide di dalamnya, tidak ada benturan-benturan ide yang intensif di tubuhnya, maka pada saat itulah organisasi pembaharuan sudah berhenti menjadi organisasi pembaharu.

Baca Juga :  Perkembangan Penerjemahan Al-Qur'an di Indonesia

Pembaharuan, menurut Ahmad Wahib, muncul dari sikap bertanya yang tidak berakhir dan direalisasikan dalam wacana intelektual jujur dan terbuka. Pembaharuan lahir dari pikiran yang gelisah dan tidak pernah putus asa untuk terus bertanya, pikiran yang tidak pernah puas dengan apa yang telah dicapai dan selalu ingin sibuk untuk berada dalam suasana yang tertekan.

Banyak hal yang ditinggalkan Ahmad Wahib dan sebagian besarnya belum selesai untuk dipikirkan dan ditanyakan kembali. Sumbangan terbesar Ahmad Wahib bagi pembaharuan pemikiran Islam bukanlah pada gagasan-gagasannya, sebab ia tidak diberi banyak waktu untuk melengkapi pemikirannya dengan argumen-argumen yang komprehensif dan sistematis.

Sumbangan yang paling berharga darinya justru terletak pada pertanyaan-pertanyaannya, yang diliputi semangat dan spirit yang gigih dalam mencari kebenaran. Ahmad Wahib bersama Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Abdurrahman Wahid, dan lain-lain telah menorehkan jejak dalam pemikiran Islam Indonesia, khususnya dalam suatu corak pemikiran pembaharu.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here