Ahmad Hassan: Tokoh Ormas Persis Keturunan India yang Jago Berdebat

0
1054

BincangSyariah.Com – Kiprah Ahmad Hassan di Jawa Barat memiliki corak yang khas dan istimewa dibanding dengan ulama pembaharu yang lainnya. Berdebat dan menulis adalah keahlian Hassan dan mengantarkannya untuk berani berdebat dengan presiden pertama Indonesia, Soekarno. Saat tinggal di Bandung, ia aktif memberikan secercah informasi tentang Islam pada Soekarno dan pandai mempertahankan pendapat didepan lawannya.

Sikap Hassan dalam berdebat sangatlah berbeda. Ia terlihat garang namun tetap santun dalam berkawan. Menurut Subhan SD dalam bukunya Ulama-Ulama Oposan mengutarakan bahwa hubungan keduanya sangat unik. Saat Soekarno berada di tempat pembuangannya di Ende, Hassan sering mengirimkan surat yang isinya informasi keislaman. Keduanya saling merespon satu sama lain demi berjalannya sebuah diskusi keislaman. Lantas siapakah Ahmad Hassan sehingga ia memiliki relasi baik dengan Soekarno? Seberapa pentingkah pemikirannya terhadap masyarakat sekitarnya saat itu.

Masa Kecil di Singapura

Ia dikenal dengan sebutan Ahmad Hassan. Nama aslinya adalah Hassan Ibn Ahmad. Ia lahir 31 Desember 1887 di Tamil, Singapura. Namanya merupakan pengaruh dari budaya Singapura, sehingga nama aslinya harus bertransformasi dari Hassan Ibn Ahmad menjadi Ahmad Hassan.

Kedua orangtuanya sama-sama keturunan dari India. Namun yang tercatat dalam buku Ensiklopedia Islam Indonesia, karya Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hanya sisi Ayah yang berasal dari India sementara ibunya asli Indonesia. Keduanya pernah menetap di Surabaya dan tak lama pindah ke Singapura sampai akhir hayatnya.

Ayah Ahmad Hassan bernama Ahmad Sinna Wappu Maricar dan bergelar Pandit. Menurut Deliar Noer dalam bukunya Gerakan Modern Islam di Indonesia disebutkan bahwa gelar tersebut diberikan oleh pembesar Singapura karena ia seorang ahli agama dan aplikatif dalam mengajarkannya. Sedangkan ibunya, Muznah memiliki keturunan Mesir. Ia memiliki perhatian lebih terhadap pendidikan.dari kedua orangtuanya, Hassan tumbuh dan berkembang sebagai pemuda yang aktif di bidang pendidikan.

Baca Juga :  Karena Sering Memberi Makanan, Nabi Ibrahim Diangkat Menjadi Khalilullah

Ahmad Hassan mendapatkan pendidikan agama awal langsung dari kedua orangtuanya. Dari ayahnya, ia banyak mempelajari kebahasaan diantaranya bahasa inggris, Arab, Tamil, dan Melayu. Di saat yang sama ia bersekolah di Victoria Bridge School di Geylang. Sayangnya ia berhenti di tingkat 4 saat itu. Namun, kemahiran dalam berbahasa sudah ia dapatkan saat bangku sekolah.

Saat umur 12 tahun, ia belajar bahasa Arab kepada Said Abdullah Musawi. Darinya, ia banyak belajar sastra bahasa arab dan komponen-komponennya seperti nahwu, sharaf, dan balaghah. Menurut Syafiq Mughni dalam bukunya Hassan Bandung Pemikir Islam Radikal menyebutkan, selain belajar sastra, ia pun mulai mendalami agama kepada Syaikh Abdul Latif,Syaikh Hassan, dan Syaikh Ibrahim. Syaikh Latif berasal dari Singapura, dan kedua terakhir gurunya memiliki darah keturunan India.

Di umur 24 tahun, Hassan menikahi Maryam, perempuan keturunan Tamil, Singapura. Pernikahannya dikaruniai tujuh orang anak. Semuanya dididik oleh tangan Hassan sendiri dlam sekolah Persatuan Islam. Pada usia 71 tahun, tepatnya 10 November 1958, Hassan wafat dan jasadnya dimakamkan di Bangil.

Menjadi Rujukan Keagamaan Persis

Menurut Mughni, sedikitnya ada empat tokoh yang mempengaruhi Hassan dalam menyikapi persoalan agama. Pertama adalah ayahnya sendiri, Tabib Raja al-Seroang, Syaikh Abdul Rahim, dan Jailani. Buah pemikirannya mengenai hukum tahlilan, talqin, dan sebagainya adalah hasil transformasi dari pemikiran keempat tokoh tersebut. Selain itu, Hassan juga terpengaruh dengan beberapa bacaan majalah seperti Majalah al-Manar (Mesir), al-Imam, dan al-Munir yang terbit di Padang. Kemudian, sebagai tambahannya ia giat mengkaji kitab-kitab perbandingan mazhab yang banyak dikaji ulama bercorak reformis, misalnya kitab Bidayat al-Mujtahid karya Ibn Rusyd, Naylu al-Attar karya al-Syaukani, dan Zaid al-Ma’ad karya Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah.

Baca Juga :  Hadis-hadis Keutamaan Kefakiran

Mengenai kedekatannya dengan organisasi Persis, ia mulai pada tahun 1926. Ia aktif berkontribusi di dalam organisasi yang didirikan di Bandung pada tahun 1921 ini. Karena keilmuannya saat itu, ia sampai dijuluki “Tuan Guru Pertama Persis.” Pengaruh Hassan dalam tubuh Persis sangatlah kuat. Bahkan, banyak dari kalangan masyarakat yang sering mengidentifikasi Persis melalui sosok Hassan. Persis adalah Hassan, pun sebaliknya.

Pindah ke Bangil

Kemudian, pada tahun 1941, ia memutuskan untuk berhijrah ke kota Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Menurut Ahmad Mansyur dalam bukunya Api Sejarah, dijelaskan bahwa perpindahannya terjadi disebabkan oleh kekalahannya dalam berdebat dengan Mama Ajengan Sukamiskin. Dikisahkan bahwa dalam perjanjian tersebut yang kalah berdebat harus meninggalkan kota Bandung. Jadilah Ahmad Hassan menjadi pengajar dan pendiri Persis di kota Bangil dengan melanjutkan semangat ajaran Persis seperti sebelumnya.

Menulis Tafsir al-Furqan

Menurut Iqlima Leomy dalam bukunya Faham Fundamentalisme Ahmad Hassan dalam Tafsir al-Furqan, tafsir al-Furqan yang ditulis oleh Ahmad Hassan ditulis secara berangsur-angsur sebanyak tiga periode. Pada periode pertama, terbit  pada tahun 1928 di Bandung dengan menggunakan bahasa Melayu. Kemudian pada tahun 1941, Hasan menyelesaikan tafsir ini sampai akhir surat Maryam. Terakhir, pada tahun 1953 ia berhasil mencetak tafsir yang sudah dibuat 30 juz. Tafsir yang telah ia tulis telah menjadi rujukan para masyarakat Persis yang ada di Jawa Barat saat itu. Pada tahun 1956, ia aktif menulis buku yang dibutuhkan oleh masyarakat Persis diantaranya tafsir surah Yasin dan tafsir al-Hidayah.

Goresan pena yang telah ia tulis sepanjang masa 28 tahun tersebut merupakan respon mengenai keadaan sosial yang ada di Indonesia. Pada abad ke 20, Tafsir Jalalayn hadir dan mudah untuk dibaca oleh kalangan masyarakat, tafsir al-Furqan hadir juga sebagai penyegar dan kajian tafsir yang baru dan modern di Indonesia.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Nisa ayat 58 tentang Perintah Menunaikan Amanat

Penyajian tafsirnya disajikan dalambentuk global atau Ijmali. Ia kupas penjelasan kosa kata (Mufradat) berikut Asbab al-Nuzul, Munasabah Ayat, dan beberapa kisah dalam al-Quran. Islah Gusmian dalam bukunya Khazanah Tafsir Indonesia menjelaskan bahwa gaya tafsir al-Furqan dapat digolongkan kedalam gaya bahasa ilmiah. Dalam uraiannya, ia lebih sering melibatkan pemikirannya dibandingkan dengan emosi pembaca.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here