Agama: Sarana dalam Menghadapi Masalah Hidup

0
10

BincangSyariah.Com – Masalah hidup akan selalu ada selama zaman terus bergerak dan membuat manusia kian menggila. Saat ini, dalam menghadapi hidup, manusia tak cukup bermodalkan ketahanan fisik semata. Kini, manusia juga mesti memiliki ketahanan psikis agar kesehatan mentalnya tak terganggu.

Agama dan Psikologi

Hubungan antara agama sebagai keyakinan dengan terapi psikis manusia sangat signifikan. Agama dinilai bisa digunakan untuk mencegah timbulnya problematika kejiwaan manusia, masalah hidup manusia yang tiada habisnya. Caranya adalah dengan jalan penyerahan diri kepada sesuatu yang transendental. Sesuatu yang transendental yang dimaksud adalah Tuhan yakni Allah Swt.

Sikap penyerahan diri individu inilah yang akan memberikan sikap optimis pada diri seseorang. Lewat sikap tersebut, akan timbul perasaan positif dalam bentuk rasa bahagia, senang, puas dan sebagainya. Perasaan tersebut membuat seorang manusia mampu terhindar dari rasa frustrasi dalam hidup.

Psikologi agama mengemukkan empat motif penyebab manusia mampu memaksimalkan agama dan menghilangkan problematika psikis yang dialaminya dalam hidup atau menyelesaikan masalah hidupnya.

Ada empat fungsi agama yang bisa membantu seorang manusia dalam menghadapi masalah hidupnya. Empat fungsi agama ini ditulis oleh Prof. Dr. H. Ramayulis dalam buku berjudul Psikologi Agama (2003).

Agama Menjaga Kesusilaan

Dalam setiap agama, ada ajaran dan bentuk-bentuk serta nilai-nilai bagi kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut dijadikan sebagai acuan dan petunjuk bagi manusia. Agama menjadi kerangka acuan dalam berpikir, bersikap, dan berbuat sesuai dengan keyakinan yang dianutnya.

Syaiful Hamali dalam Psikologi Agama (2014) menuliskan bahwa sistem nilai yang berdasarkan agama bisa memberi pedoman untuk individu dan masyarakat. Sistem nilai tersebut terwujud dalam bentuk keabsahan dan kebenaran dalam kehidupan individu dan masyarakat.

Agama menjelma menjadi penjaga tata tertib dan kesusilaan masyarakat. Penjagaan tersebut kemudian dirumuskan dalam bentuk kaidah-kaidah moral dengan jangkauan yang luas. Jangkauan tersebut sampai ke daerah-daerah kejiwaan yang paling dasar, yaitu hati nurani manusia yang merupakan tindakan kongkret dalam semua bidang kehidupan.

Jika kaidah-kaidah moral itu dipercaya dan diterima berasal dari Tuhan, maka nilai-nilai tersebut mampu menjadi jaminan dalam menjaga kesusilaan dalam masyarakat. Agama dan moral adalah dua unsur yang penting dalam menjaga kesusilaan dan ketertiban masyarakat.

Seorang manusia tidak bisa hidup di sisi Tuhan jika kenyataan hidupnya tidak sesuai dengan norma-norma agama. Manusia wajib hidup dengan menjunjung tinggi moral dan menjaga kesusilaan demi untuk Allah Swt. dan dirinya sendiri yaitu dengan mendengar atau perantaraan suara hatinya sendiri. Sebab, suara hati itu tidak pernah bohong.

Agama Menguatkan Intelektual

Manusia adalah makhluk berakal yang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Meski begitu, kadang-kadang akal manusia juga tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan yang menyelimuti pemikirannya.

Peranyaan-pertanyaan mendasar bagi manusia adalah: Dari mana manusia datang? Apa tujuan manusia hidup di dunia ini? Mengapa manusia ada? Dan kemana akhirnya manusia kembali setelah mati?

Kebimbangan hidup membuat manusia mencari agama untuk bisa mendapatakan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan intelektual. Pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab tersebut biasanya dilatarbelakangi dan diresapi oleh keinginan eksistensial dan psikologis.

Syaiful Hamali dalam Psikologi Agama (2014) menuliskan bahwa ada keinginan dan kebutuhan manusia akan orientasi dalam kehidupan serta untuk dapat menempatkan diri secara berarti dan bermakna di tengah-tengah kejadian dalam semesta alam.

Maka dari itu, manusia dituntut untuk memiliki orientasi hidup yang pasti. Hidup hanya sementara dan akan berakhir lagi. Hidup seolah hanya sia-sia saja. Ketidaktahuan manusia akan orientasi kehidupan ini sebenarnya bisa ditemukan jawabannya melalui agama, tentu dengan penjabaran yang lebih rinci dan jelas.

Agama bisa memberikan pemuasan intelektual manusia yang tidak bisa didapatkan dalam logika filsafat dan ilmu pengetahuan. Kepuasan intelektual dalam agama bisa menjadi sarana untuk menguatkan kesehatan mental.

Agama Mengatasi Ketakutan

Merasa tidak hidup dalam ketenteraman adalah pengalaman emosional yang dialami oleh seseorang saat merasa takut, risau, atau merasa terancam oleh sesuatu yang tidak mudah ditentukan penyebab terjadinya.

Perasaan-perasaan tersebut berawal dari perasaan takut yang muncul dari dalam dirinya. Ketakutan yang dirasakan termasuk dalam ranah perasaan dengan ciri-ciri tertentu yang bisa dilihat dari beberapa aspek. Usman Effendi dan Juahaya S. Praja, Pengantar Psikolog (1985) mengemukan bahwa perasaan memiliki ciri-ciri sebagai tanda bagi seseorang. Berikut ciri-ciri yang dimaksud:

Pertama, perasaan bisa dilihat identitasnya yaitu kuat atau lemahnya perasaan itu misalnya perasaan jengkel sekali, agak jengkel, sangat gembira, sedikit gembira dan sebagainya.

Kedua, perasaan bisa dilihat kualitasnya sehingga kita dapat membedakan perasaan sedih dengan gembira, kecewa dengan takut, dan sebagainya.

Ketiga, perasaan yang menghinggapi seseorang dalam jangka waktu tertentu (duration) ada perasaan yang sebentar hilang, tapi ada pula perasaan yang bertahan lama. Perasaan yang sukar dihilangkan disebut sebagai persevensi.

Nico Syukur Dister dalam Pengalaman dan Motivasi Beragama: Pengantar Psikologi Agama (1982) membedakan dua macam ketakutan yang dialami manusia.

Pertama, ketakutan yang ada obyeknya, seperti takut pada majikan, takut pada musuh, takut pada anjing, takut pada dosen penguji dan sebagainya.

Kedua, ketakutan yang tidak ada obyeknya, takut begitu saja, cemas hati: orang memang takut, tapi tidak tahu kenapa ia takut atau apa yang ia takuti.

Ketakuan yang ada obyeknya bisa diatasi dengan mengurangi atau menghilangkan obyek-obyek yang menakutkan tersebut dari dalam diri manusia. Ketakutan dalam konteks kesehatan mental adalah ketakutan yang tidak ada obyeknya. Hal tersebut lebih membingungkan manusia daripada ketakutan yang ada obyeknya.

Agama mampu menghilangkan rasa takut yang ada obyeknya atau rasa takut yang tidak ada obyeknya dengan segala peraturan-peraturannya. Apabila manusia mengontrol diri, sesungguhnya ketakutan yang terbaik adalah rasa takut saat berusaha menjauhi laranganNya. Ketakutan juga mestinya ada dalam diri manusia saat meninggalkan perintahNya.

Agama Mengatasi Frustrasi

Manusia memiliki berbagai macam kebutuhan yang harus dipenuhi baik kebutuhan fisik sepeti makan, minum, pakaian dan kebutuhan, atau kebutuhan psikis seperti keamanan, ketenteraman, persahabatan, penghargaan, dan cinta kasih. Secara psikologis, seorang manusia selalu terdorong untuk memuaskan kebutuhan dan keinginannya. Jika gagal untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, ia akan mengalami frustrasi.

Frustrasi adalah kondisi seseorang yang dalam usaha dan perjuangannya mencapai satu tujuan kemudian terhambat, sehingga harapannya menjadi gagal dan ia pun merasa sangat kecewa. Individu yang mengalami frustrasi dalam hidupnya akan membawanya kepada tingkah laku keagamaan jika kekecewaan yang dialami tersebut diganti dengan obyek lain.

Prof. Dr. H. Ramayulis dalam Psikologi Agama (2003) menuliskan bahwa menurut pengamatan psikolog, keadaan frustrasi akan menimbulkan tingkah laku keagamaan. Orang yang mengalami frustrasi tidak jarang bertinglah laku religius atau keagamaan untuk mengatasi frustrasinya.

Orang tersebut membelokkan arah kebutuhannya atau keinginannya kepada tingkah laku keagamaan. Kebutuhan tersebut terarah kepada kebutuhan duniawi. Sebagai misal harta, kedudukan, penghargaan, cinta, dan sebagainya,

Karena kegagalannya dalam memperoleh kebutuhan-kebutuhan atau keinginan tersebut, manusia sah-sah saja jika mengarahkan keinginannya tersebut kepada Tuhan dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan atau keinginannya tersebut dari Allah Swt.[]

Baca: Doa Nabi Untuk yang Menghadapi Masalah Hidup

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here