Adi bin Hatim; Sahabat yang Menyaksikan Tiga Kebenaran Perkataan Rasulullah

0
572

BincangSyariah.Com – Nama ‘Adi cukup umum dipakai masyarakat Arab pra Islam. Tidak jarang mereka menamai keturunannya dengan nama Adi dengan harapan agar si anak tumbuh sebagai prajurit yang gagah berani. (Baca: Ini Potret Orang yang Paling Gagah Berani)

Begitupula Adi bin Hatim, keluarganya menaruh harapan besar terhadap dirinya. Sebab suatu saat nanti ia akan menggantikan peran sang ayah untuk memimpin kabilahnya sebagaimana adat masyarakat pada masa itu.

Di dataran Arab kabilah Tay sangat terpandang. Mereka sudah sangat lama menetap disana. Dan di keluarga inilah Adi dididik. Sifat dermawannnya diwariskan dari lingkungan terdekatnya khususnya dari sang ibu.

Muhyiddin dalam bukunya Adi bin Hatim Al Jawad Ibn Al Jawad  menjelaskan ibu Adi bin Hatim adalah sosok wanita yang gemar bersedekah memberi makan kepada orang – orang yang kelaparan.

Adi menjalani hidupnya dengan cukup sederhana. Di setiap pagi dari kediamannya ia memandangi lalu lalang warga yang hendak pergi bekerja. Mereka saling menyapa dan berbagi senyum.

Sampai suatu hari kebahagiaannya ini mulai terganggu. Orang – orang sekitarnya mulai membicarakan agama baru yang dibawa oleh seorang yang mengaku Nabi. Adi cukup gusar dan jengkel dengan hal ini. Apalagi mendengar kabar kemenangan beruntun yang Nabi Muhammad peroleh atas kaum musyrikin.

Selama dua puluh tahun lamanya Adi memendam rasa bencinya. Dia beranggapan bahwa Nabi Muhammad hanyalah seorang raja yang seperti pada umumnya ingin menguasai kelompok – kelompok kecil di Jazirah Arab beserta harta – harta mereka.

Dengan kehadiran kelompok baru ini, Adi hawatir jabatannya di kabilah Tay akan terancam. Oleh karena itu ia begitu membenci Nabi Muhammad meskipun sebenarnya belum pernah bertemu secara langsung.

Baca Juga :  Kisah Peter Sanders, Menemukan Islam Lewat Fotografi

Ibnu Hisyam menceritakan saat Nabi Muhammad hampir sampai di wilayah Bani Tay, Adi sudah tidak tahan lagi. Pada akhirnya, ia mengumpulkan sejumlah unta lalu kabur ke Syam bersama keluarganya.

Rencana kepindahannya ke negeri Syam yang kala itu dikuasai Romawi untuk menemukan kehidupan yang lebih baik tidak berjalan sesuai ekspektasi. Ternyata kehidupannya disana jauh lebih buruk.

Melihat keresahan Adi, Saffanah saudara perempuan Adi menceritakan sesuatu. Dengan tenang Saffanah bercerita soal orang – orang muslim yang pernah ia jumpai. Kebetulan Saffanah pernah singgah di Madinah dekat masjid Rasulullah Saw.

Kemudian ia mulai mengisahkan bahwa Rasulullah adalah sosok yang amat dicintai masyarakat. Bagaimana tidak, beliau berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia dan sangat perhatian. Para pengikutnya berlomba – lomba dalam kebaikan dan ketaatan.

Adi mulai berfikir dan mempertimbangkan apa yang telah dibicarakan saudarinya. Hati dan pikirannya mulai tergerak. Dan pada bulan Sya’ban tahun 9 H, Adi kembali ke Madinah untuk mengetahui lebih detail soal Rasulullah dan ajaran yang dibawa beliau.

Adi menemukan Rasulullah sedang berada di dalam masjid. Kemudian ia menghampiri Rasulullah. “Anda siapa wahai pemuda ?” tanya Rasulullah. “Saya Adi bin Hatim”, jawab Adi.

Selang beberapa saat, Rasulullah berdiri dan mengajak Adi pergi ke rumah beliau. Di perjalanan, tiba – tiba seorang wanita tua menghampiri Rasulullah. Rasul berhenti cukup lama untuk mendengarkan apa kebutuhan wanita tua tadi.

“Apakah betul ia seorang raja ?”, gumam Adi. Bagaimana mungkin seorang raja mau bercengkrama dan mendengarkan keluhan wanita tua.

Sesampainya di rumah, Rasulullah mengambil sebuah tempat duduk berbentuk mirip seperti bantal. “Duduklah disini”, ucap Rasulullah. “Tidak wahai Rasul, silahkan engkau duduk disini”, timpal Adi. “Tidak, tapi engkaulah yang akan duduk disitu”, jelas Rasulullah.

Baca Juga :  K.H. Hasyim Muzadi: Ulama Organisatoris, Promotor Islam Moderat

Adi pun duduk diatas bantal tersebut sementara Rasulullah duduk di atas tanah tanpa alas. “Ini bukanlah kepribadian seorang raja”, batin Adi. Rasulullah secara tidak langsung mengajarkan bagaimana Islam sangat menghormati tamu.

Kehangatan Rasulullah saat menjamu tamu – tamunya ini tidak hanya terjadi sekali. Buktinya, setiap kali Adi mengunjungi kediaman Rasulullah, ia selalu disambut dengan begitu hangat.

Kepribadian Rasul ini diikuti oleh para sahabat. Misalnya, suatu hari Adi hendak bersilaturahmi, ternyata di dalam rumah Rasulullah para sahabat tengah berkumpul. Saat melihat Adi, para sahabat menyediakan satu tempat kosong di sisi Rasul untuk ditempati Adi.

Dikisahkan dalam Suwar min Hayat As – Sahabah  karya Abdurrahman Ra’fat, Adi bin Hatim menjadi mualaf setelah berbincang dengan Rasulullah. Beliau menjadi saksi tiga perkataan Rasulullah yang menjadi kenyataan.

Rasulullah memulai perbincangan dengan bertanya soal ajaran yang dianut Adi yakni Rukusiya, percampuran antara agama Nasrani dan Shabiah. Adi heran dan tidak menayangka ternyata Rasul mengetahui banyak tentang agamanya itu lengkap beserta praktik – praktik keagamaannya. Adi mengkonfirmasi kebenaran setiap ucapan Rasul karena memang itulah kebenarannya.

Kemudian Rasul berkata “Wahai Adi, sesungguhnya ada tiga hal yang mencegah kamu memeluk agama Islam. (Pertama) kamu melihat kemiskinan mereka. Demi Allah telah dekat hari dimana harta mereka akan berlimpah sehingga tidak ada lagi yang berkekurangan.

(Kedua) yang mencegah kamu dari masuk ke agama ini adalah kamu melihat  sedikitnya jumlah muslimin dan banyaknya musuh mereka. Demi Allah kamu akan mendengar suatu hari tatkala seorang perempuan dengan untanya bepergian dari Quds menuju rumah ini tanpa rasa takut sedikit pun kecuali takut kepada Allah.

Baca Juga :  Kisah Urwah Al-Bariqi; Sahabat Paling Kaya di Kufah Setelah Didoakan Nabi

(Ketiga), yang mencegah kamu masuk agama ini adalah kalu melihat para penguasa dan raja bukan dari kalangan muslim. Demi Allah telah dekat hari dimana istana negeri Babilonia akan ditaklukan”. Setelah berdialog langsung dengan Rasul, di hari itu juga Adi bin Hatim mengucap syahadat dan berislam.

Tiga perkataan Rasul ini menjadi kenyataan. Di masa Umar bin Abdul Aziz masyarakat hidup sejahtera sehingga tidak ada umat Islam yang berhak menerima zakat. Setelah menaklukan Quds, seseorang dapat dengan aman bepergian dari Baitullah ke wilayah tersebut. Umat Islam berhasil menaklukan istana – istana megah wilayah Babilonia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here