Tafsir Surah Adh-Dhuha Ayat 6-8: Allah Bimbing Nabi Muhammad Saat Bingung

0
699

BincangSyariah.Com – Pada ayat sebelumnya, Allah membantah kaum Quraisy yang mengatakan bahwa Allah tidak akan menurunkan wahyu kembali kepada Nabi Muhammad Saw. Dan dijelaskan juga bahwa keadaan akhirat nanti lebih baik dari pada dunia yang sekarang. Ayat selanjutnya dari Surah Adh-Dhuha, masih mencoba meyakinkan dan menguatkan hati Nabi Muhammad Saw.

Allah berfirman dalam QS Adh-Dhuha ayat 6-8:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا(۶) فَآوَى وَوَجَدَكَ ضَالا فَهَدَى (۷) وَوَجَدَكَ عَائِلا فَأَغْنَى (۸)

(6) a lam yajidka yatīman fa āwā (7) wa wajadaka ḍāllan fa hadā (8) wa wajadaka ‘ā`ilan fa agnā.

Artinya: (6) Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu? (7) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk? (8) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu Dia memberikan kecukupan?

Awal ayat ke-6 ini diawali dengan huruf istifham, yakni huruf a lam. Dalam tafsir Jalalayn, istifham ini bermakna taqrir atau menetapkan. Penetapan pada ayat ini adalah, Allah-lah yang melindungi Nabi Muhammad sebagai orang yatim. Kata yatim berasal dari yutm yang berarti tersendiri, atau yang istimewa. Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi Muhammad disebut yatim karena keistimewaannya.

Menurut Quraish Shihab, hal tersebut jelaslah keliru. Karena melihat dari 23 kata yatim dalam al-Quran tidak satu pun mengartikannya sebagai hal yang istimewa, melainkan orang yang tidak mempunyai ayah, sering mendapat penganiayaan dan ketidakadilan.

Allah kembali mengingatkan kembali Nabi Muhammad Saw. tatkala ia kebingungan. Kemudian, Allah memberikannya petunjuk yang luar biasa. Sayyid Qutb dalam tafsirnya mengatakan, petunjuk inilah nikmat yang paling besar di antara nikmat yang lainnya. Tatkala kita dibimbing oleh Allah Swt. untuk senantiasa mengambil jalan yang benar untuk mencapai ridho-Nya.

Baca Juga :  Saat Isra Mi'raj Nabi Lewati Sidratul Muntaha, Apa itu Sidratul Muntaha?

Ada sebagian yang salah paham dengan makna dhalla dalam ayat tersebut. Bahkan di Indonesia sendiri, pernah viral seorang ustadz yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw pernah sesat. Sesat di sini dalam artian kafir atau tidak beragama. Pendapat tersebut jelaslah keliru, karena bagaimanapun seorang Nabi terhindar dari segala macam dosa.

Fakhruddin ar-Razi menyebutkan setidaknya ada 20 makna dhalla dalam ayat ini. Sebagian di antaranya adalah makna yang tidak logis. Az-Zamakhsyari dan Abu Hayyan berpendapat dhalla di sini menunjukan kejadian dahulu ketika Nabi tersesat di Mekkah dan di Syam, kemudian Allah menunjukkan jalannya.

Menurut Quraish Shihab, pendapat tersebut juga sangat tidak logis jika dihubungkan dengan ayat ini. Menurutnya, dhalla di sini menunjukan segala sesuatu yang tidak mengantar kepada kebaikan, baik berupa tindakan maupun ucapan. Dan makna tersebut bukan berarti pernah kafir ataupun tidak beragama.

Kemudian, Allah mengingatkan Nabi Muhammad, tatkala ia kekurangan (fakir). Dan Allah-lah yang memberikannya kecukupan (qona’ah). Dalam tafsir Jalalayn, disebutkan bahwa kecukupan disini berarti diberikan harta, baik dari ghonimah atau berdagang. Dan dalam satu riwayat hadits dikatakan, “Tiadalah kaya itu karena banyaknya harta, tetapi kaya itu adalah kaya jiwa.”

Walaupun makna dari ayat tersebut khusus untuk Nabi Saw. Tetapi, kita selaku muslim yang beriman harus senantiasa yakin, bahwa segala karunia yang kita dapatkan semata-mata pemberian dari Allah Swt. Entah berupa harta, ilmu, keimanan, kesehatan, dan sebagainya.

Wallahu a’lam bi ash-showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here