Adakah Ulama yang Tidak Takut kepada Allah? Begini Penjelasan Tafsir Ibnu Katsir

0
1986

BincangSyariah.Com – Al-Qur’an surat Fathir (35): 28 menyebutkan secara jelas bahwa: sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” Beberapa literatur bahasa Arab (seperti Mu’jam al-Gani dan Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia) dan tafsir (seperti Tafsir al-Kassyaf, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, at-Tafsir al-Munir, dan Tafsir al-Azhar) menyebutkan bahwa ulama hanyalah terbatas kepada orang yang memiliki ilmu pengetahuan, terutama di bidang ketuhanan dan syariat Islam. Sehingga binatang, tumbuhan, dan bebatuan tidak termasuk ulama meskipun merasa takut kepada Allah (lihat Tafsir Surah Fathir Ayat 28; Kriteria Ulama yang Takut pada Allah).

Menurut H. Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), kata innama (sesungguhnya hanyalah) dalam kajian ilmu Nahwu merupakan adatu hashr yang berfungsi sebagai pembatas. Oleh karena itu, makna ayat “innama yakhsa allah min ‘ibadih al-‘ulama’” adalah “lain tidak hanyalah orang-orang yang berilmu jua yang akan merasa takut kepada Allah.” Dengan kata lain, orang yang bisa merasakan takut kepada Allah hanyalah orang yang berilmu. Sebab, apabila seseorang tidak memiliki ilmu pengtahuan tentang Allah dan kekuasaan-Nya, maka dia tidak akan merasa takut kepada-Nya (Tafsir al-Azhar, jilid 8: 5931).

Lebih lanjut Hamka menjelaskan bahwa apabila memerhatikan Fathir (35): 27-28, maka cakupan makna ulama sangat luas. Dengan demikian, kata ulama tidak hanya terbatas kepada orang-orang yang mengetahui ketentuan dan hukum Islam tertentu, atau orang-orang yang mengkaji dan menguasai literatur fikih-ushul fikih, atau orang-orang yang mengenakan jubah dan serban, tetapi juga meliputi orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Sebab, cakupan ilmu pengetahuan sendiri sangat luas dan tidak terbatas kepada ilmu-ilmu agama.

Begitu pula dengan sumber pengetahuan yang tidak hanya terbatas kepada kitab-kitab saja, tetapi alam semesta juga merupakan sumber pengetahuan. Oleh karena itu, seseorang bisa saja berguru kepada alam, yaitu dengan melihat, mengamati, dan menyelidikinya secara baik-baik dan mendalam. Sehingga dia akan menemukan keagungan dan kekuasaan Allah Yang Maha Dahsyat, yang pada gilirannya akan menimbulkan rasa takut dalam hatinya. Kalau hati seseorang sudah timbul rasa takut, maka dia akan melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya (hlm. 5931-5932).

Baca Juga :  Kiai dan Ulama

Dalam kesempatan lain, Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Sufyan ats-Tsauri (dari Abi Hayyan at-Tamimi dari seseorang) bahwa ulama terbagi menjadi tiga macam: pertama, seorang alim yang mengenal Allah dan perintah-Nya. Dialah orang yang takut kepada Allah dan mengetahui hukum-hukum dan ketetapan agama. Kedua, seorang alim yang mengenal Allah dan tidak mengenal perintah-Nya. Dialah orang yang takut kepada Allah dan tidak mengetahui hukum-hukum dan ketetapan agama. Ibnu Mas‘ud menyebutkan bahwa ulama sejati bukan karena banyak hapal hadis, tetapi karena banyaknya rasa takut kepada Allah.

Ketiga, seorang alim yang mengenal perintah Allah dan tidak mengenal-Nya. Dialah orang yang mengetahui hukum-hukum dan ketetapan agama dan tidak takut kepada Allah. Ahmad bin Shalih al-Mishri berkata bahwa rasa takut kepada Allah tidak bisa dicapai dengan hanya banyak menghapal hadis. Berbeda dengan hukum-hukum agama yang wajib diikuti, baik dari al-Qur’an, hadis, pendapat sahabat, tabi‘in, dan para ulama yang tidak bisa didapatkan kecuali dengan banyak menghapal. Menurut Imam Malik, ilmu itu bukan karena banyak menghapal. Namun, ilmu itu adalah cahaya yang dinyalakan oleh Allah dalam sanubari. Ibnu Katsir mengatakan bahwa maksud cahaya di sini adalah memahami lmu pengetahuan dan pengertian-pengertiannya (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 2000: 1554).

Hamka menyebutkan bahwa ulama jenis ketiga ini banyak ditemui dalam kehidupan masyarakat Muslim masa sekarang, yaitu orang-orang yang hanya pandai hukum-hukum dan ketetapan agama dan tidak takut sama Allah. Oleh karena itu, Allah mencabut cahaya dalam hati mereka. Sehingga pengetahuan agamanya seperti pengetahuan tukang pembela perkara yang hanya pandai menyajikan ayat-ayat tertentu, baik untuk kepentingan tertentu maupun menyenangkan kliennya (Tafsir al-Azhar, hlm. 5932).

Baca Juga :  Sufyan al-Tsauri: Samudera Ilmu dari Kufah

Dengan demikian, tidak heran apabila dalam pesta demokrasi di bumi Nusantara, seperti Pemilihan Presiden, Gubernur, Walikota, dan Bupati seringkali diramaikan oleh geliat beberapa ulama yang pandai mengampanyekan ayat-ayat dan hadis-hadis tertentu untuk menghantam calon tertentu dan memenangkan calon tertentu. Dalam praktiknya, pihak-pihak tertentu sengaja memanfaatkan beberapa ulama tersebut untuk menarik simpati masyarakat dan menumbangkan lawan politik mereka. Sebab, cara ini dianggap sangat efektif dan menyumbang banyak terhadap kemenangan salah satu calon.

Selain itu, Hamka, mengutip syair Syekh Muhammad Abduh, mengkritik ulama-ulama yang berpikiran sempit dan mau menang sendiri. Sehingga menjadikan bid‘ah sebagai sunah dan khurafat sebagai bagian agama, suka bertikai dan berpecah belah dalam masalah khilafiyyah (furu‘/cabang) agama, dan suka mengafirkan Muslim lain yang tidak sepaham. Oleh karena itu, keulamaan telah bergeser jauh dari pewaris para nabi menjadi salah satu “feodalisme religius” dalam kehidupan masyarakat Muslim (Tafsir al-Azhar, hlm. 5932-5933). Wa Allah A‘lam wa A‘la Wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here