Adab yang Harus Dimiliki Seorang Guru Menurut Imam Ghazali

1
2585

BincangSyariah.Com – Menurut Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, seorang pengajar layaknya ‘pembesar’ di kerajaan langit jika ia  mempelajari suatu ilmu, kemudian mengamalkannya dan setelah itu mengajarkannya kepada orang lain dengan ikhlas.

Siapa saja yang menekuni tugas sebagai pengajar, berarti ia tengah menempuh suatu perkara yang sangat mulia. Oleh karena itu, ia harus senantiasa menjaga adab serta tugas yang menyertainya, di antaranya;

Adab yang pertama, sayang kepada para murid serta menganggap mereka seperti anak sendiri. Sebab seorang guru adalah Ayah yang sejati bagi murid-muridnya. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw.,

إنما أنا لكم كالوالد لولده

“Sesungguhnya posisiku terhadap kalian, laksana seorang Ayah terhadap anak anaknya.” (HR. Abu Dawud)

Menurut Imam Ghazali, jika seorang Ayah menjadi sebab atas keberadaan anak-anaknya pada kehidupan dunia yang fana ini, maka seorang guru justru menjadi sebab bagi bekal kehidupan murid-muridnya yang kekal di akhirat nanti. Dengan demikian, menjadi wajar apabila seorang murid tidak dibenarkan untuk membeda-bedakan antara hak guru dan hak kedua orang tuanya.

Adab yang kedua, meneladani Rasulullah Saw. Dalam hal ini, pengajar tidak diperkenankan menuntut upah dari aktivitas mengajarnya. Sebagaimana Allâh Ta‘âla telah berfirman, “Kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula [ucapan] terima kasih.” (Al-Insan; 09).

Kendati seorang pengajar berjasa atas ilmu yang didapat oleh para muridnya, namun mereka (para murid) juga memiliki jasa atas dirinya. Karena, para muridlah yang menjadi sebab ia (pengajar) bisa dekat kepada Allâh, dengan cara menanamkan ilmu serta keimanan di dalam hati mereka.

Adab yang ketiga, memberikan nasihat mengenai apa saja demi kepentingan masa depan murid-muridnya. Contoh, melarang mereka mencari kedudukan sebelum mereka layak untuk mendapatkannya. Juga melarang mereka menekuni ilmu yang tersembunyi (batin), sebelum menyempurnakan ilmu yang nyata (zahir).

Baca Juga :  Binatang-binatang dalam Al-Qur'an (Bagian I)

Adab yang keempat, memberi nasihat kepada para murid dengan tulus, serta mencegah mereka dari akhlak yang tercela. Dalam hal ini tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang kasar, melainkan harus diupayakan menggunakan cara yang sangat bijak. Sebab, cara yang kasar justru dapat merusak esensi pencapaian.

Idealnya, sang pengajar harus terlebih dahulu berlaku lurus, setelah itu ia menuntun para murid untuk berlaku lurus pula. Kalau prinsip ini dilanggar, maka nasihat yang disampaikan menjadi tidak berguna. Sebab, memberikan keteladanan dengan bahasa sikap itu jauh lebih efektif daripada menggunakan kalimat atau nasihat secara lisan.

Wallahu’alam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here