Ada Manuskrip Kitab Hadis di Buton, Sulawesi Tenggara

1
279

BincangSyariah.Com – Gambar berikut ini merupakan lembar pertama dari manuskrip kitab hadis berjudul “Durrat Al-Aḥkām Min Ḥadīth Sayyid Al-Anām” karya Muhammad ‘Aydrus Qaimuddin ibn Badaruddin al-Buthuni, Sultan Buton ke-29 (1824-1851 M) sekaligus seorang Ulama.

Durratu al-Ahkam
Manuskrip Kitab Durratu al-Ahkam, yang berisi tentang hadis-hadis. Manuskrip ditemukan di Buton, Sulawesi Tenggara. Sumber: DREMSEA Repository

Sebagai catatan awal kitab Durrat Al-Aḥkām adalah kitab hadis yang ditulis dalam bahasa Arab di atas kertas Eropa. Dan terdapat rubrikasi menggunakan tinta merah untuk penekanan pada kalimat wa qouluhu ta’aala dan al-hadits al-awwal serta pada kalimat lainnya. Adapun tema-tema hadis di dalam kitab ini berkaitan dengan pentingnya niat, pembicaraan tentang rukun Islam dan Iman, anjuran berbuat ihsan, pahala yang besar bagi pelaku kebaikan, tanda-tanda hari kiamat, keistimewaan al-Quran, doa-doa harian, keutamaan ibadah malam, serta anjuran memegang sunnah Nabi dan lain-lainnya.

Menariknya, manuskrip ini adalah tulisan tangan seorang Sultan di Kerajaan Islam Buton wilayah Sulawesi Tenggara yang hidup diperalihan abad 18-19.  Naskah ini merupakan salah satu dari sekian banyak karya-karya yang dihasilkan oleh para tokoh intelektual Nusantara. Sekaligus membuktikan sudah cukup kuatnya akar tradisi penulisan kitab keislaman, termasuk tema hadis di wilayah Nusantara.

Menurut Prof. Dr. Oman Fathurrahman dalam artikelnya yang berjudul The Roots of The Writing Tradition of Ḥadīth Works in Nusantara: Hidāyāt al-Ḥabīb by Nūr al-Dīn al-Rānīrī menyebutkan bahwa tradisi penulisan kitab-kitab Hadis di kalangan para ulama Nusantara tidaklah sesepi yang dikesankan selama ini. Meskipun dari segi jumlah memang kalah jauh dibanding dengan bidang keilmuan lainnya, terutama tasawuf dan fiqih.

Manuskrip Kitab “Durrat Al-Aḥkām” berasal dari Kota Baubau (Sulawesi Tenggara) dan tersimpan sebagai koleksi masyarakat atas nama La Ode Zaenu. Naskah tersebut telah didigitalisasi oleh Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA).

Sayangnya, dalam manuskrip digital tersebut tidak memiliki kolofon yang memberikan informasi kapan dan di mana kitab ini diselesaikan. Hipotesa awal saya memperkirakan kalau naskah inikemungkinan besar ditulis di Buton, pada rentang kurun masa antara 1824-1851 M yang merupakan masa jabatan Muhammad `Aydrus sebagai Sultan Buton ke-29. Hal ini berdasarkan muqaddimah kitabnya, beliau mengatakan:

اما بعد: فیقول العبد الفقیر الحقیر الراجی رحمة ربّ المعین محمّد عیدروس قائم الدّین ابن الفقیر بدرالدّین البطونی بلدا والبادیة مسکنة غفر الله له ولوالدیه ولمشائخه ولجمیع المسلمین، لما کانت هجرة النّبي علیه أفضل الصّلاة والسّلام وأزکی التحیة والإکرام، ألف ومائتین وستین سنة، طلب منّی بعض الأحبّاء رحمهم الله تعالی أن الّف له مختصرا فی الأحادیث سید البریة، و جمعت له نحو أربعة آلاف حدیث او زایدا عنها بعضها معدودة و بعضها غیر معدودة.

(Ammā ba`du: Berkata seorang hamba yang fakir lagi hina yaitu, Muhammad `Aydrus Qaimuddin ibn Badaruddin al-Buthuni yang mengharapkan rahmat Allah Yang Maha Penolong. Semoga Allah mengampuninya, juga kedua orang tuanya, serta guru-gurunya dan seluruh kaum muslimin. Ketika tahun 1260 Hijriyah, sebagian orang meminta diriku untuk menyusun ringkasan hadis-hadis Nabi dan menghimpunnya sekitar 4.000 hadis atapun lebih dari itu, baik yang sebagiannya terhitung maupun yang tidak).

Merujuk pada keterangan di atas, kitab ini memiliki latar belakang penulisan dari orang-orang yang meminta Sultan Muhammad `Aydrus untuk menyusun ringkasan kitab hadis tersebut pada tahun 1260 H/ 1844 M. Artinya penulisan kitab ini terjadi ketika Sultan Muhammad ‘Aydrus masih menjabat sebagai raja di Kesultanan Islam Buton

Hadis pada manuskrip yang telah didigitalisasi oleh DREAMSEA berjumlah 115 hadis, sesuai dengan halaman terakhir yang menyebutkan al-Hadits al-Khomis ‘Asyar ba’da al-Mi’ah (Hadis ke-115). Seperti disebutkan di awal, jika dikatakan penulisnya berusaha menghimpun 4000 hadis, jumlah hadis juz pertama jelas hanya sebagian kecil.

Pertama, berkaitan dengan keterangan pada mukadimah kitab, bahwa Sultan Muhammad `Aydrus menyusun ringkasan hadis Nabi dan menghimpunnya sekitar 4.000 hadis lebih, baik yang dihitung maupun yang tidak. “Kenapa demikian?” Menurut saya, hadis-hadis yang terhitung ataupun tidak ini tergambar dari setiap penyebutan hadisnya di mana sang penulis kitab mencantumkan juga riwayat lain dari hadis yang memiliki kesamaan seperti, penyebutan hadis ke-1, yakni,

إنما الأعمال بالنیات وإنما لکل امرئ ما نوی

Innamaa al-A’maalu bi an-niyyat wa innamaa likulli-m-ri’in maa nawaa

Dalam pembahasannya disebutkan juga riwayat hadis lain yang semisal, yakni,

نیة المؤمن خیر من عمله

niyyatu al-mu’imin khoyrun min ‘amalihi

Sehingga dalam membahas satu buah hadis, penulis bisa menyebutkan 2-3 hadis.

Kedua, pada deskripsi manuskrip digital, kitab ini memiliki 58 halaman. Namun, naskah terakhir hanya sampai pada halaman 55. Artinya ada 3 halaman lainnya yang tidak diberi nomor yakni, judul kitab dan 2 halaman terpisah yang didalamnya terdapat penjelasan hadis sampai hadis ke-760. Seperti gambar di bawah ini,

Sumber: DREMSEA Repository

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa, masih banyak naskah lainnya mengenai kitab ini. Menurut saya bila hadis-hadis yang dihimpun oleh Sultan Muhammad `Aydrus berjumlah 4.000, maka dibutuhkan banyak sekali halaman untuk menuliskannya. Sedangkan naskah yang sudah tergitalisasi baru terkumpul 58 halaman. Manuskrip ini pun merupakan juz pertamanya, seperti yang terlihat pada bagian judul kitab yang bertuliskan al-Juz al-Awwal min Kitab Durratu al-Ahkam. Hal ini menunjukan bahwa masih ada juz yang lainnya.

Sultan Muhammad ‘Aydrus dilahirkan di kota Wolio. Sejak kecil ia tumbuh dalam lingkungan kaum bangsawan (ningrat), sehingga ia mendapatkan ilmu pengetahuan dan keislaman yang sangat kental. Maka tidak heran bila ia menjadi seorang Sultan yang meneruskan kepemimpinan ayahnya di Kesultanan Buton dan menjadi seorang ulama. Ayahnya bernama Badaruddin yang merupakan Sultan Buton ke-27 (1799-1822 M), bergelarkan Sultan Asraruddin.

Pada tahun 1822 M, Sultan Asraruddin turun tahta dengan mengundurkan diri atas permintaannya sendiri. Tetapi Muhammad `Aydrus tidak langsung menggantikan tahta sang ayah, terlebih dahulu naiklah Sultan Muhammad Anharuddin sebagai Sultan ke-28 dan anak perempuannya dinikahi oleh Muhammad `Aydrus sehingga ia menjadi menantunya.

Para sejarawan mencatat bahwa Muhammad ‘Aydrus baru naik tahta menjabat sebagai Sultan Buton pada tahun 1824 M untuk menggantikan Sultan Anharuddin yang usia kekuasaanya terbilang sangat pendek yakni 1822-1823 M. Sehingga Muhammad `Aydrus menjadi Sultan Buton ke-29, bergelarkan Sultan Qaimuddin I.

Pada kepemimpinannya Kesultanan Buton mengalami kemajuan. Ia telah melakukan beberapa perubahan pada sistem ketatanegaraan dan administrasi yang berdasarkan pada hukum Islam dan menetapkan beberapa undang-undang baru yang mengatur hak dan kewajiban kaum ningrat serta masyarakat. Sultan `Aydrus juga mewajibkan penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dalam lingkungan Keraton Wolio. Sultan Qaimuddin I juga banyak menulis kitab untuk menambah ilmu pengetahuan masyarakatnya. Salah satu dari karyanya adalah Kitab Durrat al-Aḥkām min Hadīth Sayyid al-Anām ini. Wallahu A`lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here