Ada Kemungkinan Iblis Dapat Masuk Surga. Kok Bisa? Ini Perdebatan Ulama

0
254

BincangSyariah.Com – Aliran Asy’ariyyah merupakan salah satu aliran Ahlu Sunnah yang membasiskan pandangan-pandangannya tentang alam semesta kepada hukum probabilitas, yaitu hukum yang serba mungkin. Misalnya kuda bisa saja melahirkan kambing; kenyang bisa saja terjadi akibat tidak makan; manusia bisa menjadi binatang dan seterusnya yang semuanya bermuara kepada ide atau gagasan tentang keserbamutlakan kehendak Tuhan.

Adalah imam al-Juwaini dalam karyanya al-Aqidah an-Nizhamiyyah fil Arkan al-Islamiyyah menegaskan tentang hukum jawaz/tajwiz/probabilitas ini bagi gerak laju alam semesta. Beliau menekankan pandangan mengenai kebebasan Pencipta dan ketidakbebasan ciptaan-Nya. Beliau mengatakan “la yajib ala al-Haq sya’un (Allah tidak terbebani oleh hukum apa pun)”.

Ketika kita mencoba membaca al-Aqidah an-Nizhamiyyah fil Arkan al-Islamiyyah karya al-Juwaini, akan terkesan ada dua prinsip pemikiran yang melandasinya:

Pertama, alam dan seisinya bisa berubah menjadi apapun berdasarkan kepada hukum kemungkinan. Batu bisa bergerak dari bawah ke atas, api bisa nyala ke dari atas ke bawah, arah timur bisa berubah menjadi arah barat dan sebaliknya, dan seterusnya. Tidak ada hukum yang mutlak atau pasti. Yang ada hanyalah ‘adah atau kebiasaan.

Kedua, bahwa semua yang serba mungkin ini tercipta dan mengandaikan adanya Pencipta. Pencipta yang mampu mengubah alam menjadi salah satu dari dua kemungkinan; misalnya kucing bisa saja melahirkan anjing dan yang menjadikan kucing melahirkan anjing atau tetap melahirkan kucing lagi hanyalah Pencipta yang Maha Berkehendak.

Berdasarkan kerangka inilah, muncul kaidah akidah yang menarik di kalangan Asy’ariyyah, yakni bahwa Allah itu Fa’ilun Muridun wa la yajib alaihi syai’un (Allah itu Maha Pencipta dan Maha Berkehendak dan tidak terbebani oleh sesuatu yang berasal dari luar Diri-Nya).

Baca Juga :  Ini Alasan Mengapa Iblis Masuk Neraka Selamanya di Akhirat Nanti

Kaidah ini digunakan dengan sangat menarik oleh kalangan Sufi, terutama dalam menjelaskan fenomena karamah yang terjadi di kalangan para wali.

Ada kitab bagus yang mencoba mengharmonisasikan pendekatan ilmu kalam (yang berbasis nalar logis) dan ilmu tasawuf (berbasis kasyaf, penyingkapan hal yang gaib lewat kedalaman dan kemurnian ruhani) dalam menjelaskan kaidah-kaidah berkeyakinan bagi orang Islam (al-‘Aqaid). Kitab tersebut berjudul “al-Yawaqit wal Jawahir” yang ditulis oleh seorang Wali besar bergelar al-Quthb ar-Rabbani, Imam As-Sya’rani. Tujuan ditulisnya karyanya ini ialah untuk mensingkronkan akidah menurut ahli pikir/ahli kalam dan ahli kasyaf/ahli tasawuf.

Alih-alih Imam as-Sya’rani mengharmonisasikan pendekatan kalam dan pendekatan kasyaf dalam akidah, beliau malah lebih cenderung mengandalkan metode kasyaf dibanding ilmu kalam, metode yang menurutnya bisa terhindar dari kesalahan. Namun demikian, ulasannya tentang kaidah akidah Asy’ariyyah bahwa Allah itu “tidak terbebani sesuatu dan itu artinya dapat berkehendak secara bebas tanpa dibatasi oleh hukum-hukum apa pun” menarik untuk dibaca lebih lanjut.

Membuktikan Kemutlakan Tuhan dengan Kasyaf: Kasus Iblis Masuk Surga

Berdasarkan kaidah ini, Imam As-Sya’rani mengutip kisah perdebatan at-Tusturi dengan Iblis yang disebut oleh Ibnu Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyyah. Ibnu Arabi menceritakan perdebatan sengit antara Iblis dan at-Tusturi soal bahwa Iblis bisa masuk ke dalam rahmat Allah dan itu artinya bisa masuk surga. Kedua-duanya menghadirkan argumen yang sangat kuat sehingga masing-masing sampai pada titik kebingungan dan puncak kelelahan.

Namun di akhir perdebatan tersebut, Iblis kemudian membantai at-Tusturi dengan ayat Alquran: warahmati wasi’at kulla sya’in (dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu). Iblis menegaskan bahwa diri-Nya termasuk ke dalam kata ‘sya’in’ tersebut. Itu artinya ayat ini berbicara tentang keumuman, dan Iblis termasuk ke dalam makna umum ayat ini. Syai’un juga dalam pandangan Iblis bersifat ankarun nukrah (nakirah yang paling nakirah), kata sandang yang sangat umum dan lebih umum dari kata bermaknan umum lain. Simpulnya, Iblis dan orang-orang durhaka lainnya tetap mendapatkan rahmat-Nya.

Baca Juga :  Mengucapkan Kalimat Tauhid di Akhir Hayat, Otomatis Membuat Seseorang Masuk Surga?

Namun pandangan ini dibantah lagi oleh at-Tusturi dengan argumen kebahasaan juga. At-Tusturi menjawab bahwa ayat itu telah dibatasi keumumannya (taqyid) hanya bagi orang-orang yang bertakwa. Jadi rahmat yang seolah umum itu menurut at-Tusturi dibatasi oleh ayat yang menegaskan bahwa rahmat Allah hanya bagi orang-orang yang bertakwa. Si Iblis pun mengemukakan argumen yang tak kalah kuatnya dari argumen yang disampaikan oleh at-Tusturi.

Kata Iblis: at-taqyiid sifatuka la sifatuhu ta’ala (keterbatasan itu sifatmu bukan sifat-Nya Allah ta’ala). Dibantai demikian, at-Tusturi makin bingung namun kemudian akhirnya ia tersadar bahwa urusan masuk surga atau masuk neraka bagi seorang hamba itu hanya Allah saja yang memiliki kehendak bebas. Artinya semuanya tidak diatur oleh batasan-batasan yang kita tentukan sendiri.

Setelah menarasikan kisah ini dari kitab al-Futuhat al-Makkiyyah karya Ibnu Arabi, Imam as-Sya’rani dalam al-Yawaqit wal Jawahir fi Aqaid al-Kaba’ir (bisa dibaca ulasan lengkapnya di jilid 1, h. 111-112) menegaskan pandangan Ibnu Arabi lagi demikian:

قال الشيخ محي الدين: وكنت قديما ما رأيت أقصر حجة من إبليس ولا أجهل منه فلما وقفت له على هذه المسألة التي حكاها عنه سهل رضي الله عنه تعجبت وعلمت أن إبليس قد علم علما لا جهل فيه فله رتبة الإفادة لسهل في هذه المسألة.

Ibnu Arabi berkomentar terhadap peristiwa ini dengan mengatakan: “Dulu aku berkeyakinan bahwa di kalangan makhluk-Nya, tidak ada yang argumennya lebih omong kosong dan bahkan lebih bodoh dari argumen Iblis. Namun setelah mengetahui cerita at-Tusturi ini (melalui kasyaf) aku jadi terheran dan sampai berkeyakinan bahwa Iblis itu sangat pandai berargumen, sampai-sampai ia bisa mengalahkan at-Tusturi (falahu rutbatul ifadah).”

Jadi dalam perspektif ini, Imam as-Sya’rani melalui cerita yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi secara kasyfi telah berhasil mensingkronkan pendekatan kalam dan pendekatan tasawuf. Kendati demikian, Imam as-Sya’rani, untuk lebih memperjelas lagi kecenderungan kasyfi-nya, tampaknya lebih menekankan validitas kasyfi dalam menjelaskan akidah ketimbang ilmu kalam.

Baca Juga :  Dua Mata yang Tidak Disentuh Api Neraka

Kasyaf yang mengandalkan olah hati dan jiwa menurut imam as-Sya’rani melalui kutipan-kutipan dari kitab al-Futuhat al-Makkiyyah dipandang lebih aman dari kesalahan (ma’sum/mahfuzh) daripada ilmu kalam yang berdasarkan olah pikir. Allahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here