Abul Husain Nuri Belajar Menjaga Ketenangan dalam Bermeditasi dari Kucing

0
1097

BincangSyariah.Com – Abul Husain Ahmad bin Muhammad an-Nuri, adalah murid Sari as-Saqathi dan sahabat karib al-Junaid. Sebagai seorang tokoh sufi terkemuka di kota Baghdad, Abul Husain melakukan disiplin diri seperti yang dilakukan oleh al-Junaid.

Ia dijuluki Nuri (Manusia yang Memperoleh Cahaya) karena setiap kali ia berbicara di suatu ruangan pada malam yang gelap, dari mulutnya keluar cahaya sehingga seluruh ruangan tersebut menjadi terang.

Syibli meriwayatkan: Aku pergi mengunjungi Nuri. Aku dapati ia sedang bermeditasi dan tak sehelai rambutnya pun yang bergerak.

“Dari siapakah engkau belajar meditasi yang seperti ini?” Aku bertanya kepadanya.

“Dari seekor kucing yang duduk di lobang tikus” jawab Nuri,

“Binatang itu malah lebih tenang daripada aku”

Ketika kucing sedang mencari tikus atau mangsanya, si kucing ini sangat terlihat fokus sekali terhadap mangsanya tersebut. Kucing selalu fokus pada satu buruannya, walaupun ada tikus yang lebih besar lewat di dekat si kucing, si kucing tidak peduli, matanya tetap pada buruan awal. Tubuhnya diam tidak bergerak dengan tetap  tetap fokus sambil membuat posisi kucing-kucing yang tepat untuk siap menerkam buruannya.

Kunci dalam meditasi adalah menjaga ketenangan selama berdzikir, tubuh senantiasa diam tidak boleh bergerak sama sekali, kecuali terpaksa maka boleh bergerak tetapi tidak boleh frontal agar tidak membuyarkan kondisi ketenangan tersebut.

Walaupun kelihatannya orang yang dzikir/meditasi itu diam tidak bergerak fokus terhadap obyek meditasinya yaitu nafas atau bacaan dzikirnya, tapi hakekatnya  berproses masuk ke dalam untuk menuju tahapan dan kesadaran dalam diri.

Tubuh tetap diam dan tidak bergerak ketika berdzikir/meditasi adalah kunci memasuki lapisan kesadaran dalam diri, jika dalam beberapa menit tetap bersabar dan tubuh tetap diam, maka dengan perlahan kesadaran akan berpindah dari kesadaran fisik menuju ke kesadaran jiwa.

Baca Juga :  Konsep “Wahyu” dalam Agama Kristen

Ditandai seperti kita kesedot ke dalam, atau seakan-akan tubuh kita melayang, padahal masih tetap dalam posisi duduk dzikir di lantai. Ketika masuk ke dalam kondisi kesadaran jiwa, maka akan merasakan hening, khusyu’ dan ketentraman  yang luar biasa.

Jika sudah terbiasa dzikir/meditasi dalam kondisi di atas secara kontinyu dan istiqomah, maka kondisi hening dang ketenangan tersebut akan terbawa dalam prilaku sehari-hari. Sehingga tidak mudah lagi terjebak dengan hawa nafsu, karena telah terbiasa mengendalikan jiwanya.

Ketika dzikirnya semakin dalam dan jiwa kita semakin bersih bercahaya, maka ketika dzikir kesadaran kita masuk ke dalam lagi menuju ke kesadaran Ruh. Jika sudah tahap ini, maka kita akan bisa merasakan Mi’roj Ruhani. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho di dalam langit ruhani.

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here