Abu Thalhah, Sahabat Dermawan yang Dipuji Allah

0
2043

BincangSyariah.Com – Menjamu tamu merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Dalam sebuah Hadits riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa siapa saja yang beriman hendaklah memuliakan tamunya dengan sangat baik.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ».رواه البخاري

Cara memuliakan tamu dapat diwujudkan dengan menyambut dengan suka cita, menghidangkan makanan dan minuman, mengajak ngobrol dengan sopan, dan mengantarkan sampai pintu ketika tamu pulang. Namun demikian, menjamu tamu dengan menyediakan makanan tidak harus menunggu kaya dan memiliki kelebihan makanan yang melimpah. Seorang sahabat dari kaum Anshar bernama Abu Thalhah Zaid bin Sahl Al-Anshari adalah contohnya.

Dalam Hadits riwayat Abu Hurairah diceritakan bahwa ketika umat muslim belum memenangkan perang Khaibar, terdapat seorang laki-laki dari kalangan Muhajirin yang mendatangi Nabi untuk bertamu. Nabi kemudian mendatangi para istrinya untuk menyiapkan jamuan tamu tersebut. Akan tetapi para istri menjawab bahwa mereka tidaklah memiliki apa-apa kecuali air untuk minum. Melihat kondisi tersebut, Nabi kemudian mengumumkan kepada para sahabat dan bertanya “Siapa yang sanggup menjamu tamuku ini?”.

Tawaran nabi tersebut disanggupi oleh Abu Thalhah Zaid dengan mantap “aku siap menjamu tamu tersebut ya rasul”.
Ia pun kemudian pulang untuk menemui istrinya dan berkata ”Jamulah tamu nabi ini”. Mendengar ucapan suaminya tersebut, si istri pun menjelaskan kondisi keluarganya yang pada saat itu tidak memiliki makanan kecuali sisa makan malam untuk anak-anaknya.

Mendengar hal tersebut sahabat langsung mencari cara dan berkata kepada istrinya, “kalau begitu, siapkan saja makanan tersebut, kemudian matikan penerangan rumah, dan tidurkan anak-anak jika mereka mau makan.” Seketika itu juga sang istri melaksanakan instruksi suaminya.

Baca Juga :  Mengambil Nasehat dari Setan

Ketika makanan telah siap, sang istri menidurkan anak-anaknya kemudian ia berdiri seakan-akan sedang membetulkan peneranganya yang rusak, padahal ia justru mematikanya.

Dalam keadaan gelap tersebut, keduanya menjamu tamu tersebut untuk makan. Abu Thalhah beserta istri menemaninya untuk makan. Akan tetapi karena jumlah makanan yang terbatas, keduanya tidak ikut serta makan. Keduanya berpura-pura makan dengan membunyikan peralatan makan agar tamunya tidak mengetahui apa yang sebenarnya mereka lakukan. Apa yang keduanya lakukan tidaklah luput dari pandangan Allah sang maha mengetahui.

Pada keesokan harinya, ketika Abu Thalhah bertemu Nabi Muhammad, beliau menyampaikan “Wahai zaid Allah sangatlah bangga dan ridla dengan apa yang telah kamu lakukan semalam”. Kisah Abu Thalhah Zaid Al-Anshari ini kemudian menjadi sebab turunya ayat Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 9 yang berbunyi;

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٩)

Artinya: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.”
Wallahu A’lamu Bis Showab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here