Abu Lubabah; Sahabat Nabi yang Gantung Diri di Tiang Masjid Nabawi

0
448

BincangSyariah.Com—Ia adalah Abu Lubabah bin Abdul-Mundzir Al-Anshari Al-Madani. Sebagaimana disebutkan dalam al-Ishabah fii Tamyiiz as-Shahabah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 857 H), Abu Lubabah merupakan Nuquba (sebutan ketua dari salah satu kelompok Anshar), sahabat mulia, dan sekaligus kesatria perang yang hidup sejak zaman Nabi SAW sampai Khalifah Ali bin Abi Thalib. Allah Yarham.

Al-kisah, tidak lama setelah Nabi SAW datang ke Madinah dan menyusun syariat serta menyampaikan beberapa undang-undang yang dibawakan Jibril dari Allah SWT, terdengar kabar akan terjadinya Perang Badar, yakni perang yang terjadi antara kaum muslim melawan kaum Quraisy Mekkah.

Mengetahui Nabi SAW sedang bersiap-siap untuk berangkat berperang, Abu Lubabah berinisiatif untuk ikut mempersiapkan diri. Tidak lupa seperangkat pedang dan baju perang telah ia gunakan sebelum menghadap Nabi SAW dan kemudian berangkat berperang bersama.

Namun takdir berkata lain. Dikarenakan Madinah tidak ada sosok yang dapat menjaganya, Nabi SAW memerintahkan Abu Lubabah untuk tidak ikut berperang. Sabdanya: “Penjagaan keamanan kota dan seisinya itu tidak kalah pentingnya dengan berperang di medan laga”.

Dengan rasa haru, Abu Lubabah menuruti perintah Nabi SAW. Abu Lubabah menjalankan perintah dengan sangat baik. Sebab ia tidak ikut berperang, Abu Lubabah berinisiatif untuk mempersiapkan segala bentuk tambahan perlengkapan perang.

Sembari mempersiapkan tambahan perlengkapan perang, Abu Lubabah dengan penuh kecemasan selalu keluar masuk kota untuk mengetahui kabar terbaru mengenai Nabi SAW dan para kaum muslimin yang berangkat berperang.

Tepat pada 17 Ramadhan tahun kedua hijriah Perang Badar pun pecah. Setelah bertempur habis-habisan hampir dua jam penuh, kemenangan pun jatuh kepada kaum muslimin.  Dan kabar itu pun sampai ke telingan Abu Lubabah. (Baca: Sejarah Perang Badar Kubro; Terjadi 17 Ramadhan Tahun Ke-2 H)

Baca Juga :  Kisah Umaimah: Ibunda Abu Hurairah

Sorak sorai kegembiraan terluapkan dari Abu Lubabah dan segenap kaum muslimin yang berada di Madinah. Tapi tidak untuk kaum Yahudi. Dengan sangat terang-terangan, kaum Yahudi menampakkan rasa kedengkian terhadap Abu Lubabah dan segenap kaum muslimin yang sedang bergembira.

Mengetahui sebuah perjanjian telah di langgar oleh kaum Yahudi Madinah, Nabi SAW mengadakan pertemuan di sebuah pasar di perkampungan Bani Qainuqa’. Sabdanya: “Apa terjadi pada kaum Quraisy hendaklah dijadikan pelajaran. Aku ini adalah seorang nabi utusan Allah”.

Dengan penuh kedengkian, kaum Yahudi berkata,”Hai Muhammad! Janganlah engkau takabbur atas kemenangan yang baru saja engkau raih. Engkau hanya menang melawan orang yang tidak memiliki keahlian dalam berperang!”.

Semenjak saat itu, secara terang-terangan perjanjian yang dibuat dilanggar oleh kaum Yahudi Madinah. Puncak kemarahan Nabi SAW pun tiba. Dengan disertai sahabat-sahabatnya kecuali Abu Lubabah, Nabi SAW mengepung perkampungan mereka selama 15 hari. Tidak lupa berbagai perlengkapan perang pun dibawa.

Merasa sudah tidak nyaman lagi, kaum Yahudi memutuskan keluar. Abdullah bin Abi Salul, salah seorang sahabat menghampiri Nabi SAW seraya memasukkan tangannya ke kantong Nabi SAW. “Lepaskanlah aku!”, hardik Nabi SAW.

“Aku tidak akan melepaskan engkau sebelum membebaskan 400 orang tanpa senjata dan 300 orang bersenjata. Mereka telah melindungiku dari peperangan yang memusnahkan segalanya dahulu”, jawab Abdullah.

“Mereka aku serahkan kepadamu! Allah melaknat mereka”, jawab Nabi SAW.

Sekembalinya Nabi SAW beserta sahabat ke Kota Madinah, terdengar kabar kelompok Quraisy di bawah kendali Abu Sufyan bin Harb telah membakar perkebunan kurma dan sempat membunuh seorang Anshar.

Tak elak, mendengar kabar tersebut, Nabi SAW mulai murka. Setelah sempat berusaha mengutus beberapa sahabat untuk mengejar Abu Sufyan namun gagal, Nabi SAW beserta sahabat mempersiapkan perlengkapan perang lengkap untuk mengepung Bani Quraizhah.

Baca Juga :  Ternyata Ini Jumlah Huruf di dalam Al-Qur’an

Abu Lubabah yang terpancing emosi menyelinap masuk bersama rombongan lainya tanpa sepengetahuan Nabi SAW. Kendali Kota Madinah yang semula di pegang Abu Lubabah, olehnya, diserahkan kepada Abdullah ibn Umi Maktum.

Setelah 25 hari Bani Quraizah terkepung dan mulai kehabisan kebutuhan sehari-hari, datanglah Ka’ab bin Asad sebagai juru penengah. “Wahai orang Yahudi! Kalian sudah mengetahui apa yang sudah menimpa kalian sebelumnya. Saya akan menawarkan tiga pilihan,” kata Ka’ab.

“Apa itu?” sahut Bani Quraizhah.

“Kalian harus mengakui kenabian Muhammad. Sungguh Ia adalah seorang Nabi yang kalian jumpai di Taurat,” jawab Ka’ab.

“Kami tidak akan meninggalkan hukum Taurat dan menggantinya dengan yang lainnya”, jawab Bani Quraizhah.

“Kalau begitu bunuh anak dan istri kalian. Saat berperang dan kalian kalah tidak meninggalkan beban. jika kalian menang, nanti cari penggantinya,” tawar Ka’ab.

“Kami bisa saja melakukan itu, tapi apakah ada kehidupan setelah itu?” sahut Bani Quraizhah.

“Kalau begitu, berhubung saat ini malam Sabtu yang agung, tidak mungkin bagi Nabi SAW untuk menggangu, kalian bisa menyerangnya,” jawab Ka’ab.

Menyadari bahwa mereka tidak mempunyai pilihan, Bani Quraizhah meminta Nabi SAW untuk mengutus Abu Lubabah menjadi penasehat. Mengetahui bahwa Abu Lubabah ikut dalam pengepungan tersebut, Nabi SAW yang merasa heran kemudian mengabulkannya.

Abu Lubabah mendatangi Bani Quraizhah dan mendapatkan sambutan penuh haru oleh para istri dan anak dari Bani Quraizhah memohon belas kasihan. “Sudah barang tentu penduduk Madinah akan mengampuni kalian,” jawab Abu Lubabah.

“Muhammad akan membunuh kami, engkau menyetujuinya?”, tanya salah seorang pimpinan Bani Quraizhah.

“Iya”, sahutnya sembari memegang lehernya dengan tangan isyarat bahwa mereka benar akan segera dibunuh sehingga jangalah mau menerima tawaran itu.

Baca Juga :  Jasad Tak Memiliki Nama Saat Ruh Keluar

“Demi Allah! Tidaklah tumitku bergeser melainkan aku sadar bahwa aku telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya”, kata Abu Lubabah seraya berlari kembali menuju ke Madinah meninggalkan Nabi SAW beserta para sahabat.

Bukanlah rumah yang menjadi tujuan utama Abu Lubabah sesampainya di Madinah, melainkan Masjid Nabawi. Dicarinya sepotong tali untuk menggantung dirinya di salah satu tiang Masjid Nabawi.

“Aku tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum Allah dan Rasul-Nya mau menerima taubatku! Sungguh aku telah berpergian ke tanah Bani Quraizhah, sedang aku diberi amanat untuk memimpin Madinah oleh Nabi SAW”, teriak Abu Lubabah.

Mendegar kabar Abu Lubabah menggantungkan dirinya di tiang masjid, Nabi SAW bersabda: “Kiranya Abu Lubabah datang menemuiku, niscaya aku akan mengampuninya dan memintakan ampun kepada Allah untuknya. Tapi karena Abu Lubabah telah bertindak sendiri, maka aku tidak akan mungkin melepaskannya sebelum Allah mengampuninya”.

Sesaat setelah teriakan Abu Lubabah, tepat pada waktu sahur ketika Nabi SAW sedang berada di rumah Umi Salamah, Allah SWT dengan indah menegur dan mengampuni Abu Lubabah dalam rangkaian surat at-Taubah [9]: 102. Nabi SAW pun mendatangi Abu Lubabah dan melepaskan ikatan yang menggantung Abu Lubabah di tiang Masjid Nabawi.

Wallahu’alam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here