Abu Gharaniq; Raja Muslim Penakluk Malta Eropa Selatan

1
961

BincangSyariah.Com – Di abad pertengahan, nampaknya nasib kurang baik dialami negara–negara di sekitaran Laut Mediterania. Karena masuk dalam jalur strategis perdagangan, mereka kerap kali diburu oleh sejumlah kekuatan adidaya. Tidak terkecuali negara semungil Malta. (Baca: Pengaruh Kedokteran Islam terhadap Peradaban Eropa)

Malta adalah sebuah negara kepulauan di Eropa Selatan. Karena berada di selatan, otomatis wilayahnya berdekatan dengan kawasan Arab Maghribi terutama Tunisia dan Libya. Dalam sejarahnya, Malta pernah diduduki dinasti-dinasti besar seperti Fenisia, Islam, Romawi, Normand, Spanyol, Prancis hingga Britania Raya.

Nah, jika bicara soal penaklukan Malta oleh umat Islam, salah satu tokoh yang paling menarik untuk dibahas adalah Abu Gharaniq. Sekilas tokoh ini memang tidak terlalu populer jika dibanding para panglima ternama lainnya, seperti Khalid bin Walid, Amr bin Ash atau Uqbah bin Nafi’. Namun, jika ditelusuri lebih detail ternyata ia punya andil besar terhadap kelangsungan hidup umat Islam terkhusus di kawasan Sisilia, Malta dan sekitaran laut Mediterania lainnya.

Sebenarnya nama aslinya adalah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Aghlab (Muhammad II). Namun sering disebut Abu Gharaniq sebab dalam kisahnya sang raja gemar berburu burung bangau. Bahkan dalam sumber–sumber sejarah terungkap bahwa ia pernah sengaja membangun satu istana seharga 30.000 dinar khusus untuk menyalurkan hobi berburunya itu. Harga yang begitu fantastis untuk sebuah hobi.

Kehidupan barunya selaku pejabat tertinggi publik dimulai pada tahun 250 H. Pada saat  itu Abu Gharaniq resmi dilantik sebagai raja Aghlabiah ke VIII menggantikan pamannya, Ziyadatullah II yang meninggal di tahun yang sama. Reputasinya cukup mengesankan. Ia dikenal loyal, cinta keadilan dan memperlakukan rakyatnya dengan baik. Satu lagi, dia juga tidak gila harta. Suatu ketika setelah ia wafat, saudaranya pergi untuk mengecek harta kekayaannya di baitul mal namun tidak menemukan apapun.

Ibnu Idhari dalam Bayan Mughrib  mencatat,  di masa pemerintahan Abu Gharaniq peperangan dan upaya – upaya pelebaran kekuasaan ke sejumlah titik lebih sering dikerahkan. Terutama di kawasan sekitar Sisilia, Italia. Saat itu Sisilia adalah wilayah otonom yang menginduk ke Ifriqiyya (sekarang Tunisia dan sekitarnya) dibawah pemerintahan pusat Dinasti Aghlabiah. Gubernur Sisilia pun dipilih sendiri oleh raja Aghlabiah, atau diusulkan oleh masyarakat sekitar kemudian disahkan oleh raja.

Baca Juga :  Rasulullah Tolak Permohonan Abu Umamah yang Ingin Mati Syahid

Perang yang menyita banyak perhatian publik masa Abu Gharaniq diantarnya perang sariyyah alfu faris (seribu kuda). Saat itu Khafajah pimpinan Sisilia melakukan agresi militer ke Qasriyana. Dinamakan perang seribu kuda karena konon ada seribu kuda yang mati dalam pertempuran tersebut. Tiga tahun kemudian (254 H) panglima yang sama berhasil mengalahkan panglima ternama Romawi, Patricius dan berhasil menduduki Sirakusa.

Kendati mampu mengendalikan sederet kawasan Romawi, namun amat disayangkan hanya dalam kurun waktu kurang dari 4 tahun, Abu Gharaniq telah kehilangan tiga gubernur andalannya di Sisilia. Mereka adalah Khafajah (w.255H), Muhammad bin Khafajah (w.257 H) dan Ahmad bin Yakub bin Madha (w.258 H). Naasnya, dua diantaranya terbunuh bukan dalam peperangan melainkan oleh mata – mata yang menyusup ke dalam lingkungan tentara kerajaan.

Selain Sisilia, konsentrasi Abu Gharaniq tertuju pada Malta. Adapun upaya pembebasannya menurut Al Baladzuri dalam Futuh Buldan telah dimulai jauh – jauh hari sejak era Utsman bin Affan. Kemudian estafet perjuangan ini terus diwariskan dari masa ke masa selama beratus – ratus tahun. Sampai pada akhirnya proses penaklukan sukses disempurnakan oleh Abu Gharaniq pada tahun 255 H (Khulasat Tarikh Tunis).

Al-Baladzuri menuturkan di masa Utsman,  Hubaib bin Maslamah berperan sebagai ujung tombak. Ia diintruksikan untuk bergerak dari Syamsyath, Armenia menuju Malta. Ia beserta para prajuritnya berhasil melaksanakan tugas dengan baik. Hanya saja setelah itu Malta dapat kembali diambil alih oleh Romawi.

Duel sengit selanjutnya terjadi saat Muawiyah bin Abi Sufyan didaulat menjadi Gubernur Syam dan Al – Jazirah. Ia mengirim kembali Hubaib bin Maslamah. Terjadi pertempuran dahsyat antar kedua kubu. Dan lagi – lagi Hubaib mendulang kemenangan telak. Tidak mau kehilangan momen langka ini, Muawiyah kemudian menempatkan orang – orang Islam disana serta menunjuk satu pemimpin untuk menjadi wakilnya.

Baca Juga :  Abdul Aziz bin Musa; Tokoh Muslim Penyempurna Pembebasan Portugal

Sebenernya Muawiyah sudah mangambil ancang – ancang untuk menggempur Malta dengan memobilisasi kekuatan gabungan dari Syam, Al – Jazirah dan wilayah sekitaranya. Namun rencananya gagal sebab musim panas sudah tiba terlebih dahulu.

Tahun 83 H, Khalifah Abdul Malik memperluas wilayahnya dengan mendirikan pemukiman Muslim di Torando. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Malta. Sesekali beberapa intelejennya menyusup ke Malta untuk mengintai situasi dan kondisi terkini kekuatan lawan.

Selanjutnya beralih ke masa Umar bin Abdul Aziz. Sebab hawatir jika umat Islam di Torando akan menjadi sasaran utama agresi militer Romawi. Mereka pun diminta untuk berhijrah ke Malta. Lalu sang khalifah memberi amanah Ja’unah bin Harist, pemuda dari Bani Amir Sha’sha’h untuk memimpin wilayah tersebut.

Romawi memang mendera kekalahan di sejumlah peperangan. Namun mereka tidak menyerah begitu saja. Tahun 123 H, tidak tanggung – tanggung 20.000 personil Romawi menggempur Malta. Mengingat pasukan musuh yang begitu fantastis, masyarakat sekitar meminta bantuan Hisyam bin Abdul Malik yang kebetulan sedang berada di Rashafah.

Segera sang khalifah mengutus prajuritnya serta kavalerinya untuk mengamankan Malta. Sebelum kedua kubu bertemu, Romawi ternyata sudah meninggalkan Malta. Demi memastikan keamanan warganya terjamin, Hisyam bin Abdul Malik rela turun langsung ke lapangan. Ia berjalan menyusuri daratan Malta dan kemudian mendirikan sebuah markas militer disana.

Tahun  133 H, Raja Konstantin  berhasil mengalahkan bala tentara Muslim. Awalnya mereka berusaha agar tidak menyerahkan Malta, namun kondisi justru memburuk. Mereka sangat terdesak sehingga tidak mampu lagi melawan. Mereka pun keluar dari Malta sembari meminta jaminan keamanan saat perjalanan menuju wilayah perbatasan. Pihak Romawi mengabulkan permintaan tersebut.

Khalifah Al-Mansur tampak gusar melihat situasi tadi. Maka tahun 140 H, ia mengirim 70.000 personil gabungan dipimpin Gubernur Al – Jazirah, Abdul Wahab bin Ibrahim dibantu  oleh Hasan bin Quhtubah asal Khurasan. Selama enam bulan keduanya bahu membahu merekonstruksi kembali kepulauan Malta. Hasilnya, sejumlah bangunan seperti masjid, markas militer dan pemukiman warga sukses dibangun.

Baca Juga :  Ini Dua Tipe Orang yang Paling Dicintai Setan

Di era Khalifah Harun Ar-Rasyid, Malta kembali digempur. Beruntung, berkat pertahanan yang mumpuni Romawi lagin- lagi gagal menduduki negeri mungil itu. Kemudian di era Khalifah Al-Ma’mun, Romawi menyerbu wilayah Zabthrah. Meski mampu menangkal serangan ini, namun kerugian besar dialami umat Islam. Sejumlah benteng pertahanan roboh dan sejumlah lahan ternak tidak bisa diselamatkan.

Tahun 210 H, mengetahui kekuatan Muslim yang kian meningkat,  utusan Romawi menawarkan perdamaian. Namun, Al-Ma’mun menolaknya dan memutuskan untuk mengejar pasukan Romawi yang sebelumnya telah menghancurkan wilayahnya. Dalam pertempuran itu prajurit Romawi dibuat kocar – kacir, sehingga banyak diantara mereka wafat terbunuh.

Gesekan – gesekan antar keduanya, terus berlangsung hingga berujung di masa Abu Gharaniq. Pasca mengamankan sejumlah wilayah di Sisilia seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ia mulai menargetkan pengamanan utuh terhadap Malta.

Mun’im Al Himyari dalam Raudhat Al-Mi’thar memaparkan detik – detik penaklukan Malta. Dalam karyanya itu dijelaskan, Abu Gharaniq mengutus Khalaf Al – Khadim sahabat dekat Ziyadatullah II untuk melakukan penaklukan. Sayangnya, saat pengepungan Malta, sang jenderal gugur. Kemudian Abu Gharaniq meminta Gubernur Sisilia, Muhammad bin Khafajah untuk mengutus panglima terbaiknya. Maka tugas itu diberikan pada Sawadah bin Muhammad.

Sawadah mampu merobohkan sederat benteng pertahanan Romawi.  Raja Malta, Amrus tertangkap kemudian ditawan. Menandakan kemenangan ada di pihak serdadu Muslim. Sejak saat itu, kondisi Malta berangsur kondusif sehingga mampu bertahan dalam pemerintahan Islam selama kurang lebih dua ratus tahun. Setidaknya sebelum negeri mungil ini kembali lepas dari genggaman umat Islam di awal abad 10 M.

Abu Gharaniq meninggal pada Jumadil Ula tahun 261 H. Semasa hidupnya terhitung ia telah mengabdi selama 10 tahun lebih sebagai pimpinan tertinggi Ifriqiyya (Tunisia dan sekitarnya). Atau dengan kata lain, ia telah berkhidmat untuk empat pemerintahahan yakni Al-Musta’in, Al-Mu’taz, Al-Muhtadi dan beberapa hari di era  Al-Mu’tamid.

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Masih ingat dengan tuduhan kasus genosida Kekaisaran Utsmaniyah terhadap etnis Kristen?  Perdebatan menyoal otoritas Masjid Biru Yerevan antar Azerbaijan dan Iran? Atau kisah-kisah perjuangan para Hemshin? Ya, sederet peristiwa kontroversial ini terjadi di negeri Armenia. (Baca: Abu Gharaniq; Raja Muslim Penakluk Malta Eropa Selatan) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here