Abu Bakar as-Shiddiq Sang Penyelamat Negara Madinah

0
370

BincangSyariah.Com – Abu Bakar as-Shiddiq naik ke tampuk kekhilafahan sebagai pengganti Nabi dalam urusan politik umat di tengah-tengah ancaman akan hancurnya kedaulatan negara Madinah. Kondisi kritis tersebut diakibatkan oleh perseteruan antara kaum Muhajirin dan Anshar soal pengganti kepemimpinan pasca Nabi wafat, munculnya benih-benih ketidaktaatan politik kabilah-kabilah Arab terhadap Negara Madinah dan lahirnya nabi-nabi palsu dari berbagai wilayah Jazirah Arab yang mengimitasi model kenabian Nabi Muhammad SAW demi untuk menggalang kekuatan politik dan melawan dominasi Quraisy.

Di tengah kondisi yang amat kritis ini, Abu Bakar menolak berbagai macam tawaran para kabilah untuk tidak membayar zakat meski tetap melaksanakan shalat. Abu Bakar yang mengerti betul soal tradisi kekabilahan Arab sangat paham bahwa keengganan kabilah-kabilah Arab untuk membayar zakat kepada negara Madinah merupakan petanda akan keinginan mereka untuk melepaskan diri dari dominasi Quraisy sebagai suku terkuat.

Terkait hal ini, seperti yang dituturkan Ibnu Qutaybah dalam kitab al-Imamah wa as-Siyasah, Abu Bakar mengucapkan kata-katanya yang terkenal: Demi Allah, kalau seandainya mereka tidak mau membayar zakat seperti yang mereka lakukan kepada Nabi, aku akan memerangi mereka.

Kata-kata ini keluar dari lisan Abu Bakar yang mengerti betul bahwa tidak membayar zakat berarti sama saja dengan tidak mengakui dominasi dan supremasi negara Madinah, atau dengan kata-kata lain, tidak merasa menjadi bagian dari suatu negara. Tidak membayar zakat berarti ingin membentuk gerakan separatis yang melawan negara.

Sebagai seorang sahabat Nabi yang paling pakar soal tradisi kekabilahan, Abu Bakar paham bahwa semua aspek di masyarakat kabilah berdiri di atas perimbangan kekuatan. Karena itu, menunjukkan kekuatan dan dominasi di hadapan masyarakat kabilah ini adalah sebuah kemestian untuk menjaga eksistensi negara.

Karena itu, Abu Bakar langsung mengutus pasukan Usamah bin Zaid yang sebelumnya telah disiapkan Nabi untuk melakukan ekspansi ke perbatasan wilayah Suriah. Tak lupa pula Abu Bakar mengambil kebijakan-kebijakan strategis untuk menghadapi berbagai kemungkinan serangan dadakan yang dilakukan oleh kabilah-kabilah tertentu yang menemuinya terutama untuk bernegosiasi soal keinginan mereka tidak membayar zakat kepada negara Madinah.

Baca Juga :  Tips Menjalin Persaudaraan Sesama Manusia

Dan memang hampir saja negara Madinah diserang dan dihancurkan secara dadakan oleh kabilah-kabilah tersebut namun Abu Bakar dengan sangat cerdik memperlihatkan siasat-siasat jitu untuk menghadapinya. Demikianlah seperti yang dituturkan oleh at-Tabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk.

Abu Bakar telah menyelamatkan negara Madinah yang didirikan oleh Nabi Muhammad SAW dari ambang kehancuran. Langkah selanjutnya ialah bagaimana negara Madinah tetap memperluas dominasi dan superioritasnya atas kabilah-kabilah Arab yang pernah murtad atau yang menunggu kesempatan untuk menyerang.

Perang-perang melawan kaum murtad di masa Abu Bakar merupakan bentuk penaklukan kembali keseluruhan wilayah Jazirah Arab sekaligus sebagai bentuk refondasionalisasi negara Madinah.

Kaum muslimin sebelumnya telah diserang oleh kaum murtad. Di berbagai wilayah, mereka dirampok dan diusir. Salah satu sasaran empuk bagi serangan kaum murtad ialah para amil zakat yang bertanggung jawab mengumpulkan zakat dari berbagai macam kabilah. Reaksi Abu Bakar dan para komandan militernya terhadap peristiwa ini sangatlah kuat dan keras. Banyak kaum murtad yang terbunuh.

Banyak pula kaum murtad yang ditawan dan diambil ghanimahnya. Negara Madinah di bawah kepemimpinan Abu Bakar kembali memperoleh dominasi dan superioritasnya atas kabilah-kabilah Arab yang murtad.

Praksis berdasarkan kebijakan Abu Bakar yang telah berhasil memerangi gerakan-gerakan separatis yang mengancam keutuhan negara, hampir semua wilayah Jazirah Arab tunduk di bawah negara Madinah.

Kemenangan negara Madinah dalam memerangi sayap-sayap pemberontak mendorong Abu Bakar untuk melakukan ekspansi lebih luas lagi.

Tak lama setelah Khalid bin al-Walid menyelesaikan tugasnya dalam menumpas pemberontakan Musailamah dan menundukkan kembali Yamamah di bawah kekuatan dan dominasi negara Madinah, datanglah kepadanya surat perintah dari Abu Bakar untuk mengekspansi negeri Irak dan wilayah Hind, kota yang dekat dengan Basrah. Abu Bakar memerintahkan untuk menghancurkan kerajaan Persia dan wilayah-wilayah yang menjadi kekuasaannya.

Baca Juga :  Doa yang Diajarkan Nabi Kepada Abu Bakar

Mendengar kabar ini, al-Muthanna bin Harithah as-Syaibani datang dari Irak ke Madinah untuk menemui Abu Bakar. al-Muthanna meminta izin Abu Bakar untuk memerangi kerajaan Persia lalu Abu Bakar pun menyetujuinya.

Ketika melihat Bani Syaiban disetujui Abu Bakar untuk menyerang kerajaan Persia, Bani Ajal merasa tersaingi. Pimpinannya yang bernama Madzur bin Adiyy mengirimi surat kepada Abu Bakar dan memintanya agar Madzur dan kabilahnya memimpin penaklukan kerajaan Persia.

Melihat persaingan ini, Abu Bakar kemudian meminta Khalid bin al-Walid agar kedua kabilah bersaing ini berada di bawah kepemimpinanya pada penaklukan wilayah Persia. Abu Bakar menyerahkan tampuk kepemimpinan penaklukan negeri Persia kepada Khalid bin al-Walid.

Tak diragukan lagi bahwa unsur ekonomi menjadi pendorong utama bagi adanya persaingan antara Bani Ajal dan Bani Syaiban ini. Dengan sangat cerdik, Khalid bin al-Walid sebagai panglima perang saat itu memanfaatkan dengan sangat baik unsur ghanimah sebagai pendorong utama aksi jihad melakukan ekspansi di tanah Persia. Faktor ekonomi menjadi pendorong paling kuat bagi bangsa Arab untuk menaklukan wilayah-wilayah yang menjadi kekuasaan Persia dan Romawi saat itu.

Ketika Khalid bin al-Walid dan al-Muthanna bin Harithah as-Syaibani memulai penaklukan-penaklukan di wilayah Irak dan Persia, Abu Bakar, seperti yang dituturkan al-Baladzuri dalam kitab Futuh al-Buldan, mengirim surat perintah ke penduduk Mekkah, Taif, Yaman dan semua kabilah-kabilah Arab yang tinggal di tanah Nejed dan Hijaz untuk melakukan jihad melawan Persia dan Romawi dan mengiming-imingi mereka dengan harta rampasan perang yang besar. Lalu kabilah-kabilah Arab pun mulai berdatangan dari berbagai penjuru ke Madinah.

Abu Bakar menunjuk Yazid bin Abi Sufyan sebagai panglima tentara untuk penaklukan negeri Syam atau Suriah kini. Seperti yang dituturkan at-Thabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Yazid bin Abi Sufyan yang merupakan saudaranya Muawiyah ialah panglima pertama yang diperintahkan untuk mengekspansi Suriah. Setelah itu, Yazid dibantu oleh panglima-panglima lainnya yang ditunjuk oleh Abu Bakar. Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Syarahbil bin Hasanah dan Amru bin al-Ash merupakan panglima tentara yang diperintahkan untuk membantu Yazid bin Muawiyah dalam ekspansinya ke tanah Suriah.

Baca Juga :  Kisah Hafshah Binti Umar yang Dilamar Rasulullah

Berangkat dari Suriah ini, kemudian pasukan umat Islam diperintahkan untuk mengekspansi wilayah Palestina, Mesir, Afrika dan Andalusia di masa-masa berikutnya.
Abu Bakar kemudian memperkuat pasukan yang berada di Suriah dengan mengutus Khalid bin al-Walid. Sementara itu, al-Muthanna bin Harithah memimpin pasukannya sendiri di Irak. Karena kerajaan Persia berusaha untuk menyatukan kekuatannya setelah mengalami banyak kekalahan, al-Muthanna bin Harithah akhirnya meminta tambahan pasukan kepada Abu Bakar. Ketika Abu Bakar lambat mengirim pasukan, al-Muthanna datang langsung ke Madinah. Ketika itu pasukan besar disiapkan namun bukan untuk ke Irak tapi ke Suriah.

al-Muthanna mengajukan usul kepada Abu Bakar untuk mengikut sertakan pasukan dari kabilah-kabilah yang sebelumnya murtad. Abu Bakar sebelumnya memang tidak mengikut sertakan kabilah-kabilah Arab yang tidak ia percayai. Abu Bakar hanya mengikut sertakan kabilah-kabilah yang tidak pernah murtad dan tidak melakukan aksi perlawanan terhadap negara Madinah.

Singkatnya, Abu Bakar merupakan sahabat Nabi yang menjadi pendiri pertama negara Khilafah sekaligus sosok yang menyelamatkan negara dakwah yang dirintis Nabi dari lembah kehancuran total akibat murtadnya kabilah-kabilah Arab yang tidak mau tunduk kepada dominasi Quraisy. Selain itu, di masa kepemimpinannya, negara Madinah mulai memperluas pengaruhnya di luar Jazirah Arab dengan melakukan penaklukan-penaklukan wilayah Persia dan Romawi. Di masa ini, aspek politik, ekonomi dan sosial ditundukkan kepada nalar agama, yakni kepentingan untuk menyebarluaskan Islam ke berbagai penjuru dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here