Abu al-Qasim Asy-Syabbi; Penyair Tunisia yang Diabadikan dalam Lagu Kebangsaan 

0
128

BincangSyariah.Com – Peradaban Arab nampaknya tidak bisa dipisahkan dari syair. Kaitan antar keduanya sudah sangat erat jauh sebelum Islam datang. Bahkan pada saat itu, kemampuan dalam mengarang bait–bait syair menjadi salah satu tolak ukur kehebatan seseorang.

Di abad ke 19 M, saat kemegahan peradaban Islam mulai digaungkan lagi pasca keruntuhan, muncul sejumlah pembaharu dari berbagai kalangan termasuk penyair. Melalui karyanya mereka berupaya mendorong masyarakat Muslim untuk bangkit melawan ketidakberdayaan.

Begitupun yang terjadi di ujung Afrika Utara, Tunisia muncul seorang pemuda berbakat membawa sejumlah karya fenomenal berupa syair romantisme, nasionalisme, hingga syair kematian. Kehebatannya sempat viral di negara – negara Arab karena kontribusinya mengusung sejumlah syair dengan nuansa baru.

Tergerak untuk membangkitan gairah hidup masyarakat  

Abu al-Qasim Asy-Syabbi terlahir di  desa  Syabbiah, Touzer di Selatan Tunisia yang tidak lain merupakan gurun pasir tandus. Ia hidup di lingkungan masyarakat yang sedang dilanda rasa pemisis akibat penjajahan Prancis.

Di desa ini tidak ada satupun orang yang mampu memberikan semangat terhadap masyarakat agar bisa terlepas dari imbas negatif kolonialisme. Dari sinilah timbul  rasa simpati Asy-Syabbi terhadap masyarakat dan negaranya.

Roja Naqash dalam karyanya Abu al-Qasim asy Syabi Sya’irul Hubb wa Tsaurah berpendapat bahwa nuansa baru yang dibawa penyair muda ini tidak terlepas dari pengaruh kehidupan perih yang ia alami seperti saat kehilangan ayahnya, kehilangan kekasih yang ia cintai dan penyakit kronis yang menjangkiti dirinya sejak usia dini.

Terlebih kondisi umat Islam termasuk masyarakat Tunisia pada saat itu sedang terpuruk akibat kolonialisme negara – negara Eropa.

Namun, disisi lain ia hidup saat geliat pembaharuan pemikiran Islam kembali digaungkan. Tokoh – tokoh pembaharu dari segala kalangan bermunculan termasuk dari kalangan penyair seperti Khalil Gibran yang tidak lain adalah sosok yang paling berpengaruh terhadap pemikiran Asy-Syabbi.

Kehilang sang ayah dan alami pembengkakan  jantung

Abu al-Qasim Asy-Syabbi menjalani kehidupannya dengan sederhana dan serba berkecukupan. Namun keadaan tersebut berubah drastis setelah ayahnya, Muhammad bin Abu al-Qasim meninggal dunia. Saat itu Asy-Syabbi yang baru berusia dua puluh tahun harus menggantikan peran ayahnya sebagai tulang punggung keluarga.

Baca Juga :  Serbuan Caci-Maki pada Tokoh Besar

Kepedihan mendalam atas kehilangan ayahnya ini turut mempengaruhi nuansa kesedihan di dalam syair – syair Asy – Syabbi. Seperti dalam syairnya yang berjudul Quyud al-Ahlam ia menceritakan bagaimana tingginya cita – cita yang ia miliki namun harus kandas karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Kehilangan sang ayah bukanlah satu – satunya ujian yang penyair muda ini hadapi. Sebelum usia dua puluh tahun, ia telah mengidap penyakit kardiomegali (pembengkakan jantung). Sambil menjalakan kewajibannya sebagai kepala keluarga, ia terus mencoba menyebuhkan penyakitnya kronisnya itu.

Namun, perlahan – lahan penyakit tersebut menggerogoti seluruh badan Asy-Syabbi yang mengakibatkannya meninggal di  usia muda, dua puluh lima tahun. Di satu tahun terakhir, untuk mengurangi rasa sakitnya ia bahkan rutin menempelkan es ke dadanya.

Meskipun  Asy-Syabbi mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri, ia paham betul bahwa penyakitnya itu lebih kuat dibanding obat – obatan dan ilmu kedokteran saat itu, sehingga selama hidupnya tidak terlepas dari bayang – bayang kematian.

Untuk menghilangkan rasa sakitnya Asy-Syabbi memilih untuk berkarya. Setiap rasa sakit dan kekhawatiran yang ia rasakan dituangkan ke dalam bait – bait syair. Seperti dalam qasidah yang berjudul Fi Dzilli Wadi al-Maut, Qissat Qalbun Damiyah dan Hadist al-Maqbaroh dimana ia  menceritakan tentang sakit jantung dan ancaman kematian yang selalu membayanginya.

Penyair Romantisme Modern

Sebelum mencapai umur 15 tahun, Asy- Syabbi telah mengkaji sejumlah penyair terkemuka. Dan diantara  tokoh yang paling ia sukai adalah Khalil Gibran. Menurutnya tokoh ini memiliki corak yang berbeda dengan penyair pada umumnya. Selain itu visi dari penyair Lebanon itu  sesuai dengan visi yang dipegang Asy-Syabbi.

Seperti Khalil Gibran, Asy-Syabbi termasuk tokoh yang bersebrangan dengan konsep penyair Arab terdahulu. Menurutnya, syair  seharusnya tidak berkonsentrasi lagi pada  tema – tema sederhana seperti  pujian, ejekan, kebanggaan  atau pengucapan selamat tinggal untuk orang yang bepergian. Namun, sudah sepatutnya syair dibentuk melalui keluhuran daya pikir manusia.

Baca Juga :  Biografi Singkat Imam Syafi’i

Oleh karena itu, syair  asy-Syabbi berorientasi pada unsur ilmiah yang bersifat nyata dalam kehidupan sehari – hari sehingga karya yang dihasilkan merupakan kolaborasi antara seni dan filsafat.

Lewat karyanya, Asy-Syabbi mencoba untuk mengajak masyarakat Arab agar tidak terbelenggu dengan pemikiran  jumud agar dapat merubah kondisi negara yang sedang lesu menuju peradaban yang lebih baik.

Lewat gagasannya Asy-Syabbi mencoba mangalihkan fokus masyarakat dari konsep syair terdahulu yang terkesan banyak mengingat peradaban maju Muslim di masa lalu, menuju konsep baru seperti kemerdekaan, kebebasan dan ketulusan.

Syair syair asy- Syabbi juga berorientasi pada aspek esensial kehidupan masyarakat seperti menggaungkan  semangat cinta tanah air . Ruh revolusi ini berhasil merangsek masuk ke ranah sosial masyarakat sehingga memunculkan gerakan seperti  gerakan kemerdekaan dan pembebasan perempuan.

Perjuangan Asy-Syabbi bukan tanpa halangan. Nuansa baru serta gebrakannya terhadap syair Arab terdahulu menuai kecaman dari sejumlah pihak. Ia pun pernah merasakan tersingkir dari lingkungan dan negarnya sendiri. Kesedihan atas  kejadian yang menimpanya ini ia utarakan dalam bentuk qasidah berjudul an-Nabiy al-Majhul.

Tokoh Feminisme

Dalam perjalannanya, Asy Syabbi sepakat akan gerakan Femisinme yang marak didengungkan para akademisi. Seperti dukungan nya terhadap Tahir Haddad, tokoh Femisinme Tunisia. Kala itu, Tahir Haddad malalui karya fenomenal nya Imraatuna fi syariah wal mujtama berani menggebrak tentang teori para ahli sebelumnya mengenai perempuan.

Beberapa bagian yang ia hadirkan dalam karya nya itu bersifat kontroversial karena dianggap berseberangan dengan syariat Islam. Maka Tahir Haddad diasingkan dari masyarakat.

Meskipun begitu, tokoh Femisinme Tunisia itu mendapat dukangan penuh dari Asy Syabi. Sebab keberaniannya untuk memunculkan pembaruan demi kemajuan negaranya melalui peran vital perempuan. Perempuan di Tunisia sendiri memiliki produktivitas tinggi di segala sektor, yang berpotensi mengalahkan produktivitas laki – laki.

Perempuan yang ia sayangi meninggal dunia

Syair tentang perempuan yang ia buat merupakan penjelasan mengenai sisi keindahan, kesucian serta posisi luhur perempuan dalam masyarakat. Pemahamannya mengenai perempuan tidak terlepas dari peristiwa wafatnya kekasih yang ia cintai.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 48-56: Syafaat bagi Para Penghuni Neraka

Perempuan  yang juga berasal dari kampung halamannya di Syabbiah ini meninggal dunia saat ia mengembara ke ibu kota, Tunis. Ia meninggal akibat sakit yang dideritanya. Kemudian diperparah dengan kesedihan atas kepergian laki – laki yang ia cintai.

Kabar meninggal kekasihnya itu, meninggalkan luka amat dalam bagi Asy Syabbi sehingga berdampak negatif terhadap penyakit yang ia alami. Konon, kejadian ini turut menjadi penyebab kematiannya kelak.

Dalam pengembaraannya, ia meyakini bahwa cinta adalah makna utama kehidupan dan sarana untuk menghilangkan permasalahan dan rasa sakitnya. Pandangannya tentang hakikat perempuan dan kasih sayang ini menjadi pijakannya dalam gerakan pembebasan perempuan Arab khususnya Tunisia.

Qasidah Iradatul Hayat

Asy-Syabbi telah menulis banyak qasidah, namun yang paling mendominasi adalah karyanya mengenai kehidupan dan kematian. Nuansa ini muncul dengan sangat kuat di dalam karya – karyanya. Qasidah Iradatul Hayat sendiri merupakan buah pemikiran yang ia rasakan, kemudian diperkuat dengan pengaruh Khalil Gibran saat ia membaca karya – karyanya.

Dalam karyanya ini, Asy-Syabbi mencoba memotivasi masyarakat untuk bangkit. Bangkit dari kondisi keterbelakangan dan ketidakberdayaan yang ia utarakan sebagai kematian. Meskipun sempat diasingkan, kini dunia Islam memandang Asy-Syabbi sebagai salah satu simbol revolusi baik itu revolusi politik, sosial maupun intelektual.

Kecintaannya terhadap masyarakat, negara, alam, kehidupan serta seni telah mendorongnya untuk mengerahkan segala kemampuannya agar dapat terus berkarya meskipun berada dalam kondisi sesulit apapun.

Untuk mengenang jasa dan semangat juang penyair muda ini, pemerintahan Tunisia memasang gambar Asy-Syabbi dalam mata uang sepuluh dinar Tunisia dan mengabadikan kutipan bait qasidah Iradatul Hayatnya dalam lagu kebangsaan Tunisia. Inilah kutipan bait tersebut :

إذا الشعب يوما أراد الحياة # فلا بد أن يستجيب القدر

ولابد لليل أن ينجلي # ولابد للقيد أن ينكسر

 

Jika suatu hari sesorang ingin hidup mulia # maka takdir akan menjawab sesuai panggilan
Kesuraman malam akan terangkat lalu menghilang #  dan rantai belenggu akan terbuka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here