Abu al-Aswad ad-Dualiy; Pencetus Ilmu Nahwu yang Wafat Akibat Wabah Jaarif

1
1048

BincangSyariah.Com – Siapa saja yang ingin mempelajari Bahasa Arab dan mampu membaca kitab kuning dengan benar, diharuskan terlebih dahulu menguasai ilmu nahwu dan sharaf.

Ilmu Nahwu oleh Musthafa al-Ghalayini dalam Jamiud Durus didefinisikan dengan, “Ilmun bi ushuulin tu’rafu biha ahwaalul kalimaati al-‘arabiyyati min haitsul i’raabu wal binaau” yaitu: ilmu tentang kaidah-kaidah yang digunakan untuk mengetahui keadaan beberapa kalimat Arab dari segi i’rab (perubahan akhir kata) dan bina-nya (akhir kata yang statis).

Saat ini telah banyak karya para ulama yang membahas ilmu nahwu. Bahkan di Pesantren, ilmu ini menjadi salah satu pelajaran wajib, mulai dari Sabrawi, al-Jurumiyah, al-Fushulul al-Fikriyah, al-Imrithi, sampai Alfiyah Ibnu Malik.

Namun jauh sebelum karya para ulama itu ada, munculnya ilmu nahwu dipelopori oleh orang dekat Ali bin Abi Thalib yang terkenal dengan sebutan Abu al-Aswad ad-Dualiy.

Nama dan Kelahiran Abu al-Aswad ad-Dualiy

Nama aslinya adalah Dhalim bin Amr bin Sufyan bin Jandal bin Ya’mur bin Halbas bin Nufaatsah bin Ali bin Dual. Ulama berbeda pendapat tentang penisbatan Abu al-Awad, ada yang membaca ad-Duuliy, atau ad-Diiliy, atau ad-Dualiy, atau ad-Duiliy. Menurut Imam Nawawi dalam Tahdzzibul Asma’ wal Lughat, pendapat yang benar dan masyhur adalah dibaca ad-Dualiy dinisbatkan kepada Dual, perkampungan dari Kabilah Kinanah.

Dia lahir pada masa kenabian, sehingga menurut penjelasan Al-Waqidi, Abu al-Aswad telah memeluk Islam sejak zaman Nabi Muhamad, dan menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Tahdziibut Tahdziib, Abu al-Aswad adalah salah seorang pembesar tabi’ien.

Keilmuan Abu al-Aswad

Abu al-Aswad adalah seorang ahli hadis, alim fikih, ahli nahwu, ahli syair, terpandang, pemimpin, ksatria, cerdas, dan cepat dalam memberikan jawaban. Selain itu, dia adalah pendukung Ali bin Abi Thalib dan terlibat dalam perang Jamal dan Shiffin, sehingga oleh Ali di angkat menjadi qadhi di Bashrah. (Baca: Khalil bin Ahmad al-Farahidiy; Pencipta Ilmu Prosodi Bahasa Arab)

Baca Juga :  Lima Indikator yang Digunakan Kiai Pesantren dalam Mengevaluasi Perkembangan Belajar Santri

Abu al-Aswad belajar hadis dari Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ubai bin ka’ab, Abi Dzar, Abdullah bin Mas’ud, Zubair bin Awwam, dan sahabat yang lain. Kemudian belajar qira’ah al-Quran kepada Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Selain itu, dia juga belajar Bahasa Arab kepada Ali bin Abi Thalib.

Sebagai Pencetus Ilmu Nahwu

Pada masa jahiliyah, secara naluriah bangsa Arab selalu menjaga kemurnian bahasa mereka, namun ketika Islam telah menyebar ke banyak penjuru, bangsa Arab banyak berinteraksi dengan non Arab sehingga kemurnian bahasa mulai memudar dan banyak yang lahn (salah tata bahasa) dalam mengucapkan Bahasa Arab.

Kesalahan baca tersebut beberapa kali ditemui oleh Abu al-Aswad. Pernah suatu ketika dia mendengar orang membaca surat at-Taubah ayat: 03 dengan salah:

إنَّ اللهَ بَرِيْءٌ مِنَ المُشْرِكِيْنَ وَرَسُوْلِهِ

Dengan membaca kasrah kata “wa rasuulih” padahal seharusnya di baca dammah “wa rasuuluh”. Kesalahan harakat tersebut akan berakibat fatal, karena maknanya berubah menjadi “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrikin dan (berlepas diri) dari Rasulnya”. Padahal makna yang sebenarnya adalah “Sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.”

Mendengar kesalahan tersebut, Abu al-Aswad berkata, “Aku tidak menyangka, kesalahan orang-orang dalam berbahasa Arab sudah separah ini.”

Setelah itu, dia meminta kepada Ziyad seorang juru tulis yang cerdas. Abu al-Aswad lalu berkata kepada juru tulis itu, “Jika engkau melihat aku membaca huruf dengan membuka mulutku (fathah), maka berilah satu tanda titik di atasnya, jika engkau melihat aku mengumpulkan mulutku (dammah), maka berilah satu tanda titik disampingnya, jika aku mengkasrah, maka berilah satu titik di bawahnya. Dan jika huruf-hiruf tersebut disertai dengan bacaan ghunnah (berdengung) maka di tempat titik-titik tadi, berilah dua titik.”

Baca Juga :  Guru Marzuki: Ulama Betawi yang Produktif

Titik-titik tersebut merupakan ciptaan Abu Al-Aswad untuk membedakan i’rab dalam al-Quran; yaitu rafa’ (dammah), nashab (fathah), dan jar (kasrah).

Dalam kesempatan lain, putri Abu al-Aswad berkata padanya:

مَا أَشَدُّ الحَرِّ

Dengan membaca dammah kata “Asyad”, sehingga menjadi kalimat tanya yang artinya, “Kenapa sangat panas?”. Abu al-Aswad menjawab, “Kerikil-kerikil di tengah terik matahari.”

Putri Abu al-Aswad menimpali, “Ayah! Aku tidak bertanya, kenapa sangat panas? tetapi aku heran dengan cuaca yang sangat panas.

Jadi yang dikehendaki wanita tersebut bukanlah kalimat tanya melainkan kalimat ta’ajjub yaitu kalimat untuk menunjukkan arti heran. Jika yang dikehendaki adalah makna ta’ajjub seharusnya tidak dibaca rafa’ (dammah) “asyaddu” tetapi dibaca nashab (fathah) “asyadda”.

Kejadian itu kemudian dia ceritakan kepada Ali bin Abi Thalib, sehingga Ali menjelaskan kepadanya tentang pokok-pokok susunan kalimat dalam Bahasa Arab; keseluruhan dari kalam tersusun dari kalimat isim (noun atau kata benda), fi’il (verb atau kata kerja) dan huruf (particle atau partikel).

Isim adalah yang menginformasikan musamma (sesuatu yang memiliki nama), fi’il menginformasikan pekerjaan musamma, dan huruf menginformasikan makna yang bukan isim juga bukan fi’il. Ali menambahkan, “Tambahilah keterangan lain dan selidikilah!

Abu al-Aswad kemudian berhasil membuat bab fa’il, maf’ul, mudhaf, huruf rafa’, nashab, jar, dan jazm.

Hasil karya Abu al-Aswad kemudian ditunjukkan pada Ali bin Abi Thalib, dan Ali pun berkomentar, “maa ahsana hadza an-nahwa alladzi nahauta.” (alangkah baik gramatika yang telah engkau susun ini). Sejak itulah, ilmu gramatika Arab disebut dengan Nahwu.

Meninggal Dunia

Pencetus ilmu nahwu tersebut meninggal pada masa wabah Jaarif, tahun 69-H. dalam usia 85 tahun. Menurut satu riwayat, wabah Jaarif menimpa Basrah selama tiga hari, dan setiap harinya membunuh tujuh puluh ribu orang. (Baca: Ulama-Ulama yang Wafat Akibat Wabah Penyakit)

Baca Juga :  Mendaras Kitab "Pelajaran Ilmu Nahu" Karya Ulama Antik Betawi

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here