Abdurrahman bin Samurah: Sahabat yang Dinasihati Nabi Tidak Gila Kekuasaan

0
1030

BincangSyariah.Com – Tidak semua sahabat bersama Nabi Muhammad saw sejak masa awal perjuangan Islam. Beberapa nama sahabat seperti Umayyah bin Abi Sufyan bersama bapaknya Sufyan bin Harits masuk Islam setelah peristiwa pembebasan kota Mekah (Fath al-Makkah) sekitar tahun 8 H yaitu peristiwa ketika orang-orang Quraisy Mekah sudah tidak bisa sama sekali melawan kaum muslimin yang datang dari Madinah dalam jumlah besar. Satu di antara sahabat yang masuk Islam ketika peristiwa ini adalah Abdurrahman bin Samurah.

Dalam buku Usdul Ghabah fi Ma’rifat al-Shahabah karya Izzuddin Ibn al-Atsir diceritakan sama seperti Abdurrahman bin Auf yang nama aslinya Abd Amr, nama asli Abdurrahman bin Samurah adalah Abd al-Ka’bah bin Samurah. Ketika ia masuk Islam Rasulullah saw. mengganti nama hamba Kakbah (Abd al-Ka’bah) menjadi hamba dari Yang Maha Pengasiih (‘Abdurrahman).

Meskipun hanya sebentar waktu bersama Rasulullah karena masuk Islam menjelang wafatnya Nabi Muhammad saw, Abdurrahman bin Samurah termasuk sahabat yang riwayatnya mudah ditemukan dalam kitab-kitab hadis yang diakui. Salah satu riwayat sahih yang terdapat dalam kitab Mukhtashar Sahih al-Bukhari adalah ketika Abdurrahman bin Samurah diberikan nasihat oleh Rasulullah saw tentang jabatan.

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah bahwasanya Nabi Saw bersabda: “Wahai Abdurrahman bin Samurah janganlah engkau meminta kekuasaan karena sesungguhnya jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong untuk menjalankannya. Namun, jika engkau diberi kekuasaan karena memintanya, engkau akan dibebani dalam menjalankan kekuasaan tersebut.”

Menurut penelusuran Syamsuddin al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala murid-murid yang mengambil riwayat dari ‘Abdurrahman bin Samurah antara lain Abdullah bin Abbas, Sa’id bin al-Musayyab, Abdurrahman bin Abi Layla, Hayyan bin ‘Umair, Ibnu Sirin, dan lain lain. Hadis-hadis yang melaui jalur Abdurrahman bin Samurah, baik sebagai perawi tingkat pertama maupun kedua, dapat ditemukan dalam beberapa kitab di antaranya Sahih Bukhari, Sunan Ibnu Majah, Sahih Ibnu Khuzaimah, Sunan Abu Dawud, Musnad Ahmad, dan lain lain.

Baca Juga :  Hukum Meminta Kekuasaan

Dalam kitab Tarikh al-Dimasyqi diceritakan bahwa ‘Abdurrahman bin Samurah adalah satu di antara sekian sahabat yang pertama kali masuk ke kota Basrah dan menetap di dalamnya. Pada masa kepemimpinan Usman Bin Affan tepatnya pada sekitar tahun 33 H, Abdurrahman bin Samurah diangkat menjadi komandan pasukan dalam ekspedisi menuju Sijistan. Pada misi pertama ini, Abdurrahman bin Samurah tidak mencapai keberhasilan sehingga pulang kembali ke Basrah dengan tangan kosong. Sepuluh tahun kemudian, Abdrurrahman bin Samurah kembali ditugaskan untuk ekspedisi ke Sijistan dan berhasil menaklukkan kota Kabul dan Ghaznah.

Penugasan Usman bin Affan ini tidak terlepas dari kedekatan Abdurrahman bin Samurah dengan Usman, jauh sebelum Usman menjabat sebagai amirul mukminin. Dalam kitab Fadhail al-Shahabat karya Ahmad al-Syaibani terekam sedikitnya tiga riwayat kesaksian Abdurrahman bin Samurah tentang keutamaan Usman bin Affan. Satu di antaranya adalah kesaksian Abdurrahman terkait kedermawanan Usman. Abdurrahman berkata, “Usman bin Affan datang menghadap kepada Nabi saw saat sebelum perang Tabuk seraya membawa uang sebanyak 1000 dinar emas, kemudian diletakkan di kantong kendaraan Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw bersabda terkait perbuatan Usman ini, “tidak ada kemudaratan bagi Usman setelah ini selamanya (maa dharra Usman maa ‘amila ba’da hadza Abadan).”

Kemudian pada masa awal deklarasi Mu’awiyyah bin Abi Sufyan sebagai pemimpin, Abdurrahman bin Samurah dikembalikan ke Basrah. Abdurrahman bin Samurah bersama Abdullah bin Amir menjadi utusan untuk membawa pesan kepada al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib agar al-Hasan berbaiat kepada Mu’awiyyah. Pada akhirnya, Abdurrahman bin Samurah wafat di kota Basrah pada tahun 50 H.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here