Abdurrahman bin Auf: Enterpreneur Pengagum Rasulullah

2
1312

BincangSyariah.Com – Pada tulisan sebelumnya mengenai Abu Ubaidah Ibnu al-Jarrah, (Baca: Abu Ubaidah; Sahabat Nabi Kepercayaan Umat) disebutkan bahwa ia adalah satu di antara orang-orang pertama yang menerima panggilan Islam. Selain Abu Ubaidah, ada juga orang bernama Abdu Amr bin Auf bin Abdu Auf bin al-Harits bin Zuhroh bin Kilab bin Murrah. Setelah bertemu dengan Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya, Abdu ‘Amr berganti nama menjadi Abdurrahman. Jadilah ia dikenal dengan nama Abdurrahman bin Auf, pebisnis ulung yang telah membelanjakan hartanya demi agama Islam.

Dalam kitab al-Thabaqat al-Kubra karya Abu Abdillah al-Baghdadi atas dasar riwyat dari Ya’qub bin ‘Utbah dijelaskan bahwa Abdurrahman bin Auf lahir sepuluh tahun setelah tahun gajah. Artinya usia Abdurrahman bin Auf terpaut sepuluh tahun lebih muda dari Nabi Muhammad saw. Dalam hitungan Ahmad Rofi’ Usmani, Abdurrahman bin Auf lahir pada tahun 581 M.

Tumbuh dari keluarga bangsawan Quraisy, Abdurrahman bin Auf menjadi sahabat sekaligus kolega dagang Nabi Muhammad, Abu Bakar al-Shiddiq, Usman bin Affan dan lain lain. Kedekatannya dengan figur Muhammad al-Amin (sebelum diangkat sebagai Rasul) telah meyakinkan dirinya untuk tidak ragu sedikitpun memeluk Islam.

Salah satu ekspresi kekaguman Abdurrahman bin Auf terhadap sosok Nabi Muhammad saw ditunjukkan dengan memberikan nama Muhammad kepada salah satu anaknya. Sehingga di masa Islam, nama kunyah (panggilan berdasarkan hubungan darah) Abdurrahman bin Auf adalah Abu Muhammad, merujuk pada nama anaknya yang bernama Muhammad.

Sosok Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai orang yang handal dalam berdiplomasi. Tak heran jika Abdurrahman bin Auf dipercaya untuk ikut dalam rombongan ke berbagai tempat untuk berhijrah ketika pada masa awal Islam. Dalam catatan Muhammad bin Ishaq, Abdurrahman bin Auf ikut dalam rombongan hijah ke Habasyah, baik hijrah yang pertama maupun rombongan hijrah yang kedua.

Baca Juga :  Tumbuh-Tumbuhan di dalam Al-Qur'an

Ketika para sahabat mulai berhijrah ke Madinah dan Rasulullah mengikatkan persaudaraan antara kelompok anshor dan muhajirin, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin al-Rabi’ (Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Ar-Rabi’: Sahabat sampai akhirat). Meskipun Sa’ad menawarkan agar sebagian hartanya dimiliki oleh Abdurrahman sebagai kerelaan hatinya sebagai saudara, namun Abdurrahman bin Auf menolaknya dengan halus. Alih-alih menikmati harta pemberian orang, Abdurrahman meminta kepada Sa’ad untuk ditunjukkan jalan menuju pasar. Karena pengalaman dan keahliannya dalam berbisnis, tidak begitu lama Abdurrahman bin Auf menjadi enterpreneur sukses di Madinah meskipun berjuang kembali dari nol.

Kekayaan yang dimiliki Abdurrahman bin Auf tidak membuatkan pelit dan bangga diri. Ia tidak segan untuk mengeluarkan hartanya untuk digunakan dalam perjuangan dakwah Islam. Dikisahkan bahwa pada masa perang Tabuk, Abdurrahman menjamin logistik pasukan dengan mengeluarkan harta sebanyak 200 uqiah emas atau setara dengan 6.200 gr emas yang jika dirupiahkan sekarang kurang lebih jumlahnya sekitar 4,34 miliar rupiah. Harta kekayaannya cukup fantastis. Untuk ukuran saat ini pun, agak sulit mendapatkan konglomerat yang berani mengeluarkan kocek pribadi sebanyak Abdurrahman bin Auf.

Selain sebagai sosok kaya raya, Abdurrahman bin Auf juga seorang prajurit yang tangguh di medan perang. Ia ikut dalam setiap peperangan yang dikawal oleh Nabi Muhammad termasuk di antaranya pada perang Badar, perang Uhud, perang Tabuk, dan peperangan lain.

Tidak hanya itu, Abdurrahman bin Auf juga merupakan seorang perawi hadis yang banyak dirujuk para sahabat lain. Dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala disebutkan beberapa orang yang berguru kepada Abdurrahman bin Auf di antaranya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, dan Anas bin Malik. Bahkan dalam kitab al-Tarikh wa Asma’ al-Muhadditsin karya Muhammad al-Maqdami, Abdurrahman bin Auf mewariskan pengetahuannya tentang Nabi kepada anak cucunya. Nama-nama anak keturunan Abdurrahman bin Auf tercatat antara lain Abu Ishaq Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, Humaid bin Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Ibrahim, Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman, dan seterusnya.

Baca Juga :  Nabi Muhammad pun Melakukan Pekerjaan Rumah Tangga

Dalam catatan al-Thabaqat al-Kubra disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf wafat di Madinah pada tahun 31 H dalam usia 75 tahun. Pada saat meninggal, Abdurrahman meninggalkan harta warisan sebanyak 1500 dinar emas, 1000 ekor unta, 300.000 ekor domba, dan 100 ekor kuda. Fakta ini membuktikan bahwa kedermawanan Abdurrahman bin Auf tidak sedikitpun mengurangi harta bendanya, bahkan kekayaannya terus bertambah untuk diwariskan kepada anak-cucunya. Wallahu A’lam.

2 KOMENTAR

  1. […] Dalam catatan al-Thabaqat al-Kubra disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf wafat di Madinah pada tahun 31 H dalam usia 75 tahun. Pada saat meninggal, Abdurrahman meninggalkan harta warisan sebanyak 1500 dinar emas, 1000 ekor unta, 300.000 ekor domba, dan 100 ekor kuda. Fakta ini membuktikan bahwa kedermawanan Abdurrahman bin Auf tidak sedikitpun mengurangi harta bendanya, bahkan kekayaannya terus bertambah untuk diwariskan kepada anak-cucunya. Wallahu A’lam. [selengkapnya bisa dibaca di Bincangsyariah] […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here