Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Ar-Rabi’: Sahabat Sampai Akhirat

0
95

BincangSyariah.Com – Dunia hanya sementara, hanya tempat persinggahan, tempat transit yang dipenuhi kilau gemerlap kenikmatan fana. Oleh karenanya memiliki kawan baik dalam pergaulan dianjurkan oleh agama, kawan baik akan menjadi penolong kita kelak di akhirat. Singkatnya, sahabat merupakan investasi akhirat kita. Dalam psikologi dikenal istilah: 8 dari 10 orang kawanmu adalah gambaran bagaimana dirimu.

خير الاصحاب من يدلك علي خير

“Sebaik-baik sahabat adalah yang menunjukkan pada kebaikan,”

Dalam Islam, memiliki kawan yang baik sangat dianjurkan. Baik secara keimanan, kesalehan, dan juga baik dalam tindakan sosial. Tentu saja dengan hal ini, bukan berarti kita harus mengacuhkan orang yang memiliki sifat buruk sama sekali, tidak. Hanya saja, hal itu harus kita maknai dalam domain yang berbeda.

Kita menempatkan jiwa kita sebagai pengatur, bersifat selektif dalam memilih kawan yang patut kita lakukan. Namun, bersama orang yang memiliki sifat buruk harus kita maknai sebagai ladang dakwah kita. Kita bisa masuk ke dalam lingkup komunitas atau seseorang yang memiliki sifat buruk, namun diniatkan untuk dakwah, bukan ikut arus ke dalam kemaksiatannya.

Sementara memiliki kawan yang baik, merupakan bagian dari ritme hidup kita yang mengarah kepada surga. Jika kita memiliki kawan yang salat di awal waktu, lama-kelamaan ritme itu juga akan terbiasa kita ikuti. Jika kawan kita mengingatkan kita untuk tidak berghibah, menggunjing, kita juga akan menjadi sungkan untuk bergunjing di hadapannya. Bayangkan jika contoh ritme tadi terus kita lakukan, kita akan memiliki siklus kebaikan yang produktif dan bermakna.

Dalam berbagai literatur keislaman banyak disebutkan tentang kisah persahabatan yang dicontohkan oleh Rasulullah maupun para sahabat. Salah satunya adalah kisah Sa’ad bin Ar-Rabi dengan Abdurrahman bin Auf pada fase hijrah. Sa’ad merupakan kaum Anshar sedangkan Abdurrahman bin Auf merupakan kalangan Muhajirin, keduanya merupakan sahabat Rasulullah yang kaya raya.

Baca Juga :  Umat Beragama di Era Revolusi Industri 4.0

Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf tidak membawa harta kekayaannya yang ada di Mekkah. Artinya, ia tiba ke Madinah sebagai orang biasa, yang tidak memiliki kekayaan berlebih. Kemudian, Rasulullah mempersaudarakannya dengan Sa’ad dan seketika itu juga Sa’ad menawarkan sebagian harta kekayaannya untuk dimiliki oleh Abdurrahman bin Auf. Namun meski begitu, Abdurrahman bin Auf menolak tawaran Sa’ad secara halus dan memilih untuk berniaga kembali, memulai segalanya dari nol.

Dari kisah tersebut, apa yang bisa kita petik sebagai hikmah? Tentu saja keikhlasan seorang Sa’ad bin Ar-Rabi serta kegigihan Abdurrahman bin Auf untuk berniaga. Mereka berdua memilih jalan yang terhormat dalam menjalani arti persahabatan, memacu diri mereka untuk terus mendekat kepada Allah Swt.

Semoga, sahabat yang kita miliki saat ini dapat menjadi penunjuk jalan kebaikan untuk kita, menjadi pengingat akan yang munkar dan menjadi investasi akhirat kita yang berharga. Amin ya Rabbal-alamin. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here