Abdullan bin Zubair: Sahabat Nabi yang Menolak Politik Dinasti

0
1374

BincangSyariah.Com – Kepemimpinan empat khalifah awal yang populer dengan sebutan khulafaurrasyidin yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali, menggunakan cara yang berbeda-beda dalam suksesi dari satu khalifah ke khalifah berikutnya. Abu Bakar al-Shiddiq memakai cara aklamasi untuk menunjuk Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua.

Kemudian Umar bin Khattab membentuk dewan pemilih untuk menentukan khalifah ketiga. Sayangnya Usman bin Affan terbunuh sebelum menentukan suksesi bagi kepemimpinan berikutnya. Pada akhirnya Ali bin Abi Thalib dibai’at oleh para sahabat untuk diangkat menjadi khalifah keempat. (Bacaan Tahlil Abdullah bin Zubair Setelah Salam Shalat)

Pada masa yang bersamaan dengan berkembangnya dunia politik Islam, di luar sana terdapat banyak wilayah seperti Kekaisaran Romawi yang menggunakan sistem monarki. Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai bekas gubernur Syam di era Umar dan Usman yang membelot ketika Ali bin Abi Thalib dibai’at sebagai khalifah adalah pemimpin pertama yang mendirikan kepemimpinan sistem monarki. Mu’awiyah mengangkat putranya Yazid bin Mu’awiyyah sebagai khalifah untuk menggantikan posisinya. Ia banyak mengadopsi sistem pemerintahan Romawi Timur atau Byzantium untuk menentukan posisi khalifah.

Pengangkatan Yazid dengan memakai sistem politik seperti ini ditolak mentah-mentah oleh Abdullah bin Zubair. Pada saat pengangkatan Yazid di Damaskus sebagai raja kedua dinasti Umayyah, Abdullah bin Zubair bin Awwam dibai’at menjadi khalifah di Madinah bertepatan pada tahun ke-63 H/ 682 M sebagaimana tercatat dalam Encyclpaedia of islam.

Menurut catatan Ali Muhammad al-Shalabi dalam bukunya Khilafat Amir al-Mukminin Abdullah bin Zubair pasca pengambilan sumpah tersebut Abdullah bin Zubair segera bergerak ke Mekkah dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahannya. Beberapa hal yang dijadikan pertimbangan antara lain: Pertama, nasihat dari Husain bin Ali agar Ia tidak bergerak ke Irak, tetapi lebih baik ke Mekkah. Perlu diketahui bahwa bersamaan dengan Abdullah bin Zubair yang menolak untuk berbaiat kepada Yazid, Husain bin Ali bin Abi Thalib juga menolak berbaiat sehingga ia gugur di Karbala karena mempertahankan pendiriannya. Terkait peristiwa Husain bin Ali akan dijelaskan pada artikel lain.

Baca Juga :  Baqiy bin Makhlad; Menyamar Jadi Pengemis Demi Menuntut Ilmu pada Imam Ahmad bin Hanbal

Kedua, Kota Mekah di dalamnya terdapat Masjidil Haram dan kota haram yang sejak zaman pra-Islam telah dilarang terjadi perang dan pertumpahan darah di dalamnya. Ketiga, Kota Mekah adalah tempat berkumpulnya jamaah haji setiap tahun yang juta tidak dimungkinkan untuk Yazid bin Mu’awiyah untuk menyerang kota Mekah.

Abdullah bin Zubair tetap sebagai Amir al-Mukminin di Kota Mekah selama kurang lebih sepuluh tahun meski pemerintahan Dinasti Umayyah yang pusat pemerintahannya berada di Damaskus telah berganti dari Yazin bin Muawiyyah kepada Marwan bin Hakam lalu Abdul Malik bin Marwan.

Menurut Imam Suyuthi dalam Tarikh Khulafa pada masa Abdul Malik bin Marwan inilah kemudian Abdullah bin Zubair gugur setelah diserang oleh panglima perang Abdul Malik bin Marwan bernama al-Hajjaj bin Yusuf selama 6 bulan. Dengan pasukan sebanyak 7 ribu orang al-Hajjaj bin Yusuf pertumpahan darah di antara kedua belah pihak tidak terelakkan. Penyerangan terhadap kota Mekah dilaksanakan pada musim haji. Abdullah bin Zubair gugur di Mekah Pada tahun 692.

Tidak heran bila Abdullah bin Zubair bersikeras untuk menolak sistem politik dinasti. Kepribadiannya yang keras ini telah ditempa dalam lingkungan perjuangan bahkan sejak ia lahir. Putra sulung dari  pasangan Zubair bin ‘Awwam dan Asma Binti Abu Bakar ini lahir di Kuba, dalam rombongan hijrah ke Yatsrib/Madinah. Dalam riwayat lain Abdullah bin Zubair lahir di Madinah. Abdullah lahir pada tahun ke-2 H. Kelahirannya disambut gembira kaum muslimin karena telah mematahkan berita yang disebarkan oknum Yahudi Madinah yang kala itu mengatakan kaum muslimin tidak akan memiliki anak lagi.

Di usianya yang ke-12, Abdullah bin Zubair telah mengenal perang. Ia ikut dalam rombongan perang Yarmuk pada Rajab tahun ke-15 H. Empat tahun berselang ketika menginjak umur 16 tahun, Abdullah bin Zubair ikut serta dalam ekspedisi militer di bawah komando ‘Amr bin al-‘Ash ke Mesir. Ia terlibat dalam pertempuran melawan pasukan Byzantium di Afrika dan pertempuran-pertempuran lain.

Baca Juga :  Ibnu Muljam, Orang Pintar yang Tersesat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here