Abdullah Yusuf Ali dan Tafsir Rujukan di Barat

0
300

BincangSyariah.Com – Abdullah Yusuf Ali merupakan penulis terjemahan dan tafsir al-Quran terkenal yang berjudul Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary. Beliau lahir di India pada tahun 1872 dan wafat pada tahun 1952 dan disemayamkan di pemakaman muslim Inggris Brookwood.

Beliau menghabiskan separuh hidupnya hanya untuk meneliti al-Quran selain sebagai aktivis politik di masanya. Namun penulisan terjemah dan tafsir  al-Quran selesai dilakukan pada tahun 1934 dan diterbitkan di tahun yang sama.

Meski tidak seteliti Asad dalam menerjemahkan al-Quran, Yusuf Ali menyajikan pandangan-pandangan menarik dan kontroversial dalam tafsirnya ini.

Satu hal yang menonjol ialah terjemahan dan tafsirnya atas kata azwajun mutahharah yang terdapat dalam QS. 2: 25. Yusuf Ali menerjemahkan kata ini sebagai Companions pure [and holy] ‘pasangan-pasangan yang bersih dan suci’.

Yang dimaksud dengan pasangan-pasangan yang bersih dan suci ini ialah jiwa-jiwa yang bersih.

Dalam tafsirnya terhadap kata ini, kita melihat bahwa Yusuf Ali menghindari penerjemahan yang berkonotasi seksual. Banyak ahli tafsir klasik yang menafsirkan azwaj mutahharah sebagai istri-istri yang suci dari haid dan nifas.

Pandangan ini misalnya dipegang oleh Mujahid dan Qatadah. Sementara itu, Yusuf Ali menafikan maknanya merujuk kepada gender tertentu. Ia seolah mengatakan bahwa azwaj mutahharah merupakan makna yang bisa berlaku untuk laki-laki dan perempuan.

Tafsirnya yang menghindari hal-hal yang berbau seksual dalam kenikmatan di akhirat nanti dapat kita temukan dalam tafsirnya terhadap kata hur. Bagi Yusuf Ali, hur bukanlah bidadari yang masih perawan yang akan didapatkan oleh orang-orang saleh nanti di akhirat.

Ali menerjemahkan kata hur sebagai companions with beautiful, big and lustrous eyes (pasangan dengan mata yang memikat) tanpa terbatas pada gender tertentu. Dalam komentarnya terhadap makna ini, jika di dunia, makna ini mewujud nyata dalam bentuk tubuh yang penuh dengan simbol keindahan dan itu artinya puncak kenikmatan dunia.

Baca Juga :  Tafsir Ayat Tegas Menurut Gus Dur

Namun di akhirat nanti, kenikmatan ini tidak terbatas pada fisik, namun lebih kepada sesuatu yang bersifat spiritual. Jadi hur ialah simbol kenikmatan spiritual, bukan seksual seperti yang banyak diklaim oleh tafsir-tafsir klasik.

Yusuf Ali juga dengan sangat kontroversial menafsirkan Q.S. 2: 62 dengan makna yang inklusif seolah agama Islam bukan satu-satunya jalan dalam menempuh jalan keselamatan. Ali ketika mengomentari ayat tersebut mengatakan:

As God’s message is one, Islam recognized true faith in other forms, provided that it be sincere, supported by farm reason, and backed up by righteous conduct

(Karena wahyu Tuhan itu sama, Islam mengakui keimanan yang benar yang termanifestasikan dalam bentuk-bentuk lain, asalkan dijalani dengan ikhlas dan tulus yang didukung oleh akal sehat dan ditunjang oleh perilaku yang penuh kesalehan dan kebaikan).

Sejalan dengan makna ini, Yusuf Ali ketika menafsirkan Q.S. 3: 85 mengatakan bahwa: “Posisi seorang Muslim sudah jelas. Ia tidak mengklaim mempunyai agama khusus untuk dirinya sendiri. Islam bukanlah sebuah sekte atau sebuah agama etnis.”

Dalam pandangan Islam, semua agama adalah satu [sama], karena kebenaran adalah satu [sama]. Ia adalah agama yang diajarkan oleh semua nabi terdahulu. Ia adalah kebenaran yang diajarkan oleh semua kitab suci yang diwahyukan.

Dalam esensinya, ia bertumpu kepada kesadaran akan Kehendak dan Rencana Tuhan serta sikap pasrah kepada Rencana dan Kehendak itu.

Jika ada seseorang yang menghendaki agama selain hal serupa itu, maka ia tidak jujur kepada naturnya sendiri, sebagaimana ia tidak jujur kepada Kehendak dan Rencana Tuhan.

Orang seperti itu tidak bisa diharap mendapat petunjuk, karena itu ia telah dengan sengaja meninggalkan petunjuk itu.

Baca Juga :  Imam Nawawi, Ahli Fikih yang Membujang

Islam yang ditafsirkan oleh Yusuf Ali ini merupakan Islam yang transendental yang menjadi inti dari semua kegiatan keberagamaan.

Islam yang transendental ini kemudian mewujud nyata secara historis dalam berbagai bentuk agama-agama seperti Yahudi, Kristen, Buddha dan lain-lain seolah bagi Yusuf Ali Yahudi, misalnya, yang tidak berserah diri [Islam] sama saja tidak beragama dan karenanya tidak ada jalan untuk keselamatan.

Lewat penjelasan ini, Yahudi, Nasrani, Majusi dan Sabean dan lain-lain seolah dipahami Yusuf Ali sebagai agama Islam juga dalam pengertiannya yang transendental.

Sementara itu, Islam yang ada saat ini mengakui keislaman ajaran nabi-nabi terdahulu dan mereka juga disebut sebagai muslim [dalam pengertiannya yang tidak terikat waktu].

Adapun Islam yang dalam pengertiannya yang transendental dan historis secara bersamaan hadir dalam agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Sayangnya, dalam tafsir di atas, Yusuf Ali tidak membatasi pengertian keselamatan itu apakah terbatas pada pengikut nabi-nabi terdahulu sebelum Islam ataukah pengertian keselamatan  juga meliputi setelah datangnya Islam.

Tentu jika yang dimaksud dalam pengertian keselamatan agama-agama non-Islam [dalam pengertiannya secara historis] yang setelah datangnya Islam, pemahaman ini akan keliru  mengingat bahwa banyak sekali hadis-hadis berseliweran di sana-sini yang mempertegas keharusan Yahudi dan Kristen untuk menerima ajaran Nabi jika ingin selamat.

Tampaknya dari berbagai macam tafsirnya terhadap ayat-ayat al-Quran, Tafsir Yusuf Ali ini mewakili corak yang spiritualis yang dalam banyak hal mentransendensikan konsep-konsep al-Quran yang dalam pandangan tafsir klasik selalu dianggap sebagai makna fisiknya.

Sekelumit contoh mengenai makna azwaj mutahharah, hurun in dan makna Islam seperti telah dijelaskan di atas paling tidak membenarkan kesimpulan demikian. Mungkin kita bisa mengeksplorasi lebih jauh konsep-konsep al-Quran lainnya seperti fi sabilillah, al-jinn, surga dan neraka dan lain-lain niscaya akan kita temukan bahwa Yusuf Ali dalam tafsirnya sangat bercorak spiritualis.

Baca Juga :  Allah Berjanji Menjadikan Umat Islam Penguasa Dunia Lagi? (2-Habis)

Corak yang seperti inilah yang membuat tafsir ini laku dikonsumsi di dunia Barat mengingat bahwa Barat kurang dalam sisi spiritual.

Mungkin hal demikian juga berlaku bagi tafsir Muhammad Asad yang bercorak rasionalis karena Barat juga memiliki kecenderungan yang rasionalistik dan kurang dalam hal-hal yang spiritual.

Karenanya, tafsir Yusuf Ali dan Muhammad Asad dianggap sebagai rujukan utama di dunia Barat ini. Allahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.