Abdullah bin Umar Ra.: “Dianggap Jelek Karena Tidak Mengamalkan Ayat Lebih Baik dari Memerangi Saudara Sendiri”

0
395

BincangSyariah.Com – Ungkapan tersebut saya temukan di sela-sela tafsir Surah al-Baqarah ayat 193, yang berbunyi,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

dan perangilah mereka hingga fitnah itu tidak ada dan ad-din (agama) itu hanyalah karena Allah. Maka jika mereka berhenti (tidak lagi memerangi kamu) tidak lagi ada permusuhan (yang pantas kalian lakukan) kecuali kepada orang-orang yang zalim.  

Sekilas, jika kita tidak melihat ayat-ayat sebelumnya, ayat ini seolah membenarkan untuk melakukan penyerangan terhadap agama lain. Apalagi jika hanya memahami dengan serampangan makna ad-Din di dalam ayat tersebut hanya dipahami sebagai “memeluk agama Allah”. Bahkan, ayat tersebut bisa jadi dijadikan dasar – yang tentu saja tanpa mempertimbangkan banyak aspek – untuk menyerang saudara sesama muslim sendiri dengan dasar prasangka, bahwa mereka tidak lagi disebut muslim karena berbeda pandangan keislaman.

Ada kisah menarik dimana Abdullah bin Umar, putra ‘Umar bin Khattab, menolak berperang melawan sesama muslim, meskipun yang mengajak menggunakan ayat diatas. Kisah ini dapat dilihat misalnya dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim karya Ibn Katsir ad-Dimasyqi. Dalam satu riwayat, Nafi’, salah seorang murid Abdullah bin Umar bin Khattab, yang dalam kajian hadis riwayat Imam Malik yang bersumber dari Nafi’ dari Ibn Umar disebut sebagai rantai emas periwayatan (as-silsilah adz-dzahabiyyah) karena ketakwaan semua yang dalam jalur itu, Ibn ‘Umar pernah kedatangan seorang tamu laki-laki (di riwayat lain dua orang), mengajak perang melawat Abdullah bin Zubair.

Sebagai pengantar, waktu itu Abdullah bin Zubair sedang dalam konflik panjang dengan Bani Umayyah, khususnya Yazid bin Mu’awiyah yang oleh ayahnya sendiri dijadikan Khalifah. Sesuatu yang menurut banyak orang waktu itu, termasuk Abdullah bin Zubair, bertentangan dengan kebiasaan sebelumnya. Konflik berkepanjangan itu berakhir tragis dengan kematian Abdullah bin Zubair oleh Penguasa Bani Umayyah yang mengutus pasukan dibawah pimpinan al-Hajjaj bin Musa at-Tsaqafi.

Baca Juga :  Jihad: Antara Salah Paham dan Paham Salah

Kembali ke kisah Abdullah bin Umar, berikut ini kisahnya,

أن رجلا جاءه فقال : يا أبا عبد الرحمن ، ألا تسمع ما ذكر الله في كتابه :  وإن طائفتان من المؤمنين اقتتلوا  – ، فما يمنعك ألا تقاتل كما ذكر الله في كتابه ؟ فقال : يا ابن أخي ، أعير بهذه الآية ولا أقاتل ، أحب إلي من أن أعير بالآية التي يقول الله – عز وجل – : – ومن يقتل مؤمنا متعمدا – ، قال : فإن الله تعالى يقول- وقاتلوهم حتى لا تكون فتنة – ؟ قال ابن عمر : قد فعلنا على عهد النبي – صلى الله عليه وسلم – إذ كان الإسلام قليلا وكان الرجل يفتن في دينه : إما أن يقتلوه ، وإما أن يوثقوه ، حتى كثر الإسلام فلم تكن فتنة ، فلما رأى أنه لا يوافقه فيما يريد ، قال : فما قولك في علي وعثمان ؟ قال ابن عمر : ما قولي في علي وعثمان ؟ أما عثمان فكان الله قد عفا عنه ، وكرهتم أن يعفو عنه ، وأما علي فابن عم رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وختنه – وأشار بيده – وهذه ابنته أو : بنته – حيث ترون .

seorang laki-laki menemui Abdullah bin ‘Umar lalu berkata : wahai Abu Abdurrahman, tidakkah kau mendengar apa yang Allah firmankan dalam kitab-Nya, “dan jika dua kelompok orang beriman saling berperang… (al-Hujurat: 9)”, lalu apa yang menghalangi dari engkau berperang sebagaimana Allah sebutkan dalam ayat tersebut?”

Ibn Umar menjawab, “wahai anak saudaraku, aku dianggap buruk oleh ayat ini lalu aku tidak berperang, lebih baik bagiku dibanding aku dianggap buruk dengan dasar ayat yang Allah “maka siapa yang membunuh orang beriman dengan sengaja … (an-Nisa’: 93).”

Orang itu bertanya kembali, “Allah tapi juga berfirman, “Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah (al-Baqarah: 193)?”

Ibn Umar berkata: “Kita sudah selesai melakukan itu di masa Nabi Saw. Ketika Islam waktu itu masih sedikit umatnya, dan seseorang yang beragama Islam menjadi terfitnah/tersiksa menjalani agamanya, dimana orang-orang (musyrik) waktu itu kalau tidak membunuh, atau mengendalikannya. Sampai kemudian Islam membesar dan tidak ada lagi fitnah.”

Saat orang tersebut melihat bahwa Ibn ‘Umar tidak setuju dengan kehendaknya, ia bertanya lagi, “Apa pandanganmu soal ‘Ali dan ‘Utsman?”

Ibn ‘Umar menjawab, “apa pandanganku soal ‘Ali dan ‘Utsman? ‘Utsman, Allah sudah menghapuskan kekeliruannya, dan kalian (sampai saat ini) masih menolak untuk memaafkannya. Adapun ‘Ali bin Abi Thalib, ia adalah putra paman Nabi Saw. dan saudaranya.

Lihatlah, bagaimana Abdullah bin Umar begitu hati-hati terhadap siapa saja yang mau mendasarkan perilakunya berdasarkan dalil-dalil agama seperti Al-Qur’an. Beliau begitu jelas ingin menegaskan bahwa apa yang seringkali kita sebut sebagai perilaku yang direstui oleh agama, tidak jarang justru itu tidak dibenarkan sama sekali. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here