Abdullah bin Rawahah; Petugas Pajak Rasulullah yang Enggan Terima Suap

0
107

BincangSyariah.Com – Abdullah bin Rawahah lahir dan tumbuh berkembang di kota Yastrib (Madinah). Baik ayah maupun ibunya itu berasal dari kabilah yang sama yakni Khazraj. Keluarganya cukup terpandang sebab di Madinah Khazraj dianggap sebagai kabilah yang paling mulia.

Buku-buku sejarah tidak terlalu detail menjelaskan pribadi Abdullah bin Rawahah di masa jahiliah. Namun yang jelas beliau punya talenta dalam hal bersyair. (Baca: Abdullah Ibn Rawahah; Sahabat Nabi yang Piawai dalam Bersajak)

Keindahan syairnya tidak hanya dinikmati masyarakat jahiliah. Bahkan sampai diapresiasi oleh Rasulullah Saw, beliau pun memintanya agar terus mengasah potensinya itu.

Keislaman Abdullah bin Rawahah tergolong yang paling awal di kalangan penduduk Madinah. Tepatnya di tahun ke- 13 pasca kenabian Muhammad, Abdullah ikut serta dalam rombongan kabilah Khazraj untuk berbaiat kepada Rasulullah sekaligus bersyahadat.

Peristiwa ini dalam literatur sejarah Islam dikenal dengan sebutan Baiat Aqabah II. Baiat diikuti 75 orang dengan rincian 62 laki – laki dan 2 perempuan asal Khazraj serta 11 laki – laki asal Aus.

Setelah proses baiat selesai, Rasul berkata : “Pilihlah dua belas dari kalian untuk menjadi pemimpin.” Kemudian tersortirlah orang-orang terbaik. Sembilan orang dari Khazraj dan tiga orang dari Aus. Ibnu Hisyam dalam kitab sirahnya mengatakan Abdullah bin Rawahah termasuk satu diantaranya.

Setelah berislam, beliau mengerahkan segala kemampuannya untuk kebutuhan umat, termasuk menjadi panglima perang. Di antara perang yang pernah beliau ikuti adalah perang Badar, Uhud dan Khandaq.

Beliau juga ikut dalam perjanjian Hudaibiyah dan Umratul Qadha. Keseluruhannya beliau lakukan bersama Rasulullah Saw.

Keteguhan imannya benar-benar diterapkan dalam rutinitas sehari-hari. Contohnya dalam hal kejujuran.

Dikisahkan dalam Diwan Abdullah bin Rawahah karya Walid Qasshab, suatu hari setelah rombongan Muslimin pulang dari Umrah Qadha, Rasullullah Saw memintanya untuk pergi ke perkampungan Yahudi di Khaibar untuk menghitung jumlah kurma milik masyarakat.

Baca Juga :  Sa’ad bin Mu’adz: 'Arsy Bergetar Dengan Kepergiannya

Hasil perhitungannya ini nanti akan menjadi acuan berapa pajak yang perlu dibayar masyarakat Khaibar di tahun tersebut. Abdullah pun menaati perintah Rasulullah Saw dan segera pergi menuju Khaibar.

Saat beliau mulai menaksir seluruh kurma warga, tiba – tiba datang sekelompok orang membawa berbagai macam perhiasan. Mereka mencoba menyuap Abdullah, “Ini untukmu, tolong ringankanlah taksirannya untuk kami”.

Abdullah tidak tergiur dengan begitu banyaknya harta yang ditawarkan, justru dengan tegas beliau menolak sogokan itu “Demi Allah telah datang kepada kalian sebaik – baik manusia. Dan aku diamanatkan untuk tidak berbuat tidak adil kepada kalian”.

Kejadian tersebut tidak merubah apapun, beliau tetap melanjutkan tugasnya dengan penuh kejujuran. Beliau paham betul bahwa harta suap termasuk barang haram, baik penerima maupun pemberi suap sama – sama dibenci Allah Swt.

Sebagaimana tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah yang artinya, “Allah Swt melaknat penyuap dan yang disuap”.

Ketika Abdullah pulang dari Khaibar, umat Islam tengah mempersiapkan diri untuk bertempur di perang Mu’tah melawan pasukan Romawi. Tanpa berlama – lama, Abdullah pun bergabung dalam korps militer.

Latar belakang perang ini dipicu karena utusan umat Islam, Harist bin Umair dibunuh saat hendak menyampaikan surat dakwah kepada Gubernur Syam.

Pada bulan Jumadil Ula tahun 8 H, terkumpulah 3000 personel Muslim. Di depan para prajurit, Rasulullah berkata, “Jika Zaid gugur, maka Ja’far bin Abu Thalib yang akan menggantikannya. Jika Ja’far bin Abu Thalib gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang akan menggantikannya”.

Sebegitu pentingnya sosok Abdullah bin Rawahah sehingga beliau sering dipercaya Rasulullah untuk menempati posisi-posisi yang sangat vital.

Baca Juga :  Keutamaan Membaca Surah Al-Muddatstsir

Sayangnya setelah perang Mu’tah, Abdullah tidak pernah lagi mengikuti perjuangan menemani Rasulullah sebab di pertempuran tersebut beliau telah gugur sebagai syahid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here