Abdullah bin Jahsy: Digunjing Sahabat, Dibela Allah dalam Al-Qur’an

0
2607

BincangSyariah.Com – Persepsi atau asumsi sebagian orang yang tidak tahu menahu tentang hakikat perkara, sering berdampak merugikan pada orang yang digunjingkan. Dan, hal itu pernah terjadi di masa Rasulullah saw. Sahabat Rasul bernama Abdullah bin Jahsy pernah menjadi korban bullying akibat melakukan sesuatu, yang sebenarnya telah dipikirkan matang-matang, tetapi dianggap tabu oleh masyarakat Arab. Bagaimana kisahnya? Tulisan ini akan mengungkap cerita tentang Abdullah bin Jahsy.

Teman Sepermainan Nabi, Sama-sama Mempertanyakan Peribadatan Jahiiyah

Abdullah bin Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabrah merupakan teman sepermainan Muhammad saw ketika mereka masih kecil. Bisa dibilang keduanya masih satu angkatan. Ibu dari Abdullah bin Jahsy adalah bibi Rasulullah saw bernama Amiman binti Abdul Muthallib bin Hisyam. Jadi selain teman bermain di antara keduanya terjalin hubungan darah.

Rumah Abdullah bin Jahsy yang berada di pinggiran Masjidil Haram, memungkinkan keduanya dapat bermain sambil melihat praktik peribadatan orang-orang zaman Jahiliyah. Ketika beranjak remaja baik Abdullah bin Jahsy maupun Muhammad, seringkali mempertanyakan dan menolak praktik peribadatan yang dilakukan masyarakat mereka pada waktu itu. Begitulah keterangan yang ditulis Fathi Fauzi dalam bukunya Mawaqif fi Hayat al-Rasul Nuzilat fihi Ayat Quraniyyah.

Atas dasar inilah tatkala Muhammad saw diangkat menjadi Rasul, karib kerabat terdekat yang mengenal betul kepribadiannya langsung menerima ajakan beliau untuk memeluk Islam. Tidak berbeda dengan Abdullah bin Jahsy, ia pun termasuk orang yang paling awal menyatakan dua kalimat syahadat bersama saudara-saudaranya Ubaidillah, Abu Ahmad, dan Zainab. Ketika persekusi musyrik Mekah semakin menjadi-jadi, Bani Jahsy ini ikut dalam rombongan hijrah yang kedua ke Habasyah (Abisinia). Menurut keterangan Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat al-Kubra mereka kembali ke Mekah setelah mengetahui kabar bahwa akan ada hijrah secara besar besaran ke Yatsrib/Madinah, tertinggal Ubaidillah yang tetap menetap karena masuk Nasrani dan wafat disana.

Ikut Berhijrah ke Madinah, Jadi Pasukan Khusus Nabi

Ketika telah sampai di Mekah, Abdullah bin Jahsy langsung bergegas menuju Madinah. Ia meninggalkan seluruh harta kekayaan, termasuk rumahnya yang berada di pinggir Masjidil Haram. Sesampainya di Madinah Rasulullah saw mempersaudarakannya dengan Ashim bin Tsabit. Belakangan diketahui bahwa rumah dan seisinya itu telah dikuasai oleh Abu Sufyan. Terlintas harapan di hati Abdullah bin Jahsy untuk kembali menguasai harta dan rumah tersebut.

Baca Juga :  Jejak Islam di Dunia: Ada Makam Wali di Budapest

Sampai suatu ketika pada bulan Rajab di bulan ketujuh belas Abdullah bin Jahsy menetap di Madinah, Rasulullah saw membentuk pasukan rahasia yang terdiri dari sembilan orang dan mengangkatnya sebagai pimpinan pasukan. Disinilah menurut pandangan para sejarawan termasuk Abu Na’im al-Ashbihani dalam bukunya Ma’rifat al-Shahabat, dikenal julukan Amirul Mukminin (Pemimpin orang-orang mukmin) yang disematkan kepada Abdullah bin Jahsy. Dialah orang pertama yang diangkat langsung oleh Rasulullah saw sebagai pemimpin.

Pasukan kecil ini diberikan sepucuk surat dengan pesan dari Rasulullah saw kepada Abdullah bin Jahsy, “Jika engkau telah berjalan selama dua hari, bukalah surat ini dan bacalah apa yang tertulis di dalamnya. Lakukan apa yang ada dalam surat, dan jangan memaksa sahabat-sahabatmu untuk mengikuti keputusanmu.” Mereka pun berjalan ke arah selatan secara sembunyi-sembunyi. Setelah dua hari berjalan tibalah mereka di daerah bernama Bahran, sebuah tempat yang berjarak 150 Km dari Madinah. Abdullah bin Jahsy pun membuka surat:

“Jika engkau telah membuka suratku ini, teruskanlah perjalanan hingga tiba di Nakhlah, daerah antara Mekah dan Thaif. Setibanya disana, carilah informasi mengenai kaum Quraisy.”

Abdullah bin Jahsy pun memberi kabar tentang isi surat dan menegaskan bahwa ia tidak akan memaksa jika di antara rombongan ada yang hendak kembali. Mengingat resiko yang diambil terlalu besar karena nyawa menjadi taruhan. Meski telah disampaikan apa adanya, tidak ada satupun yang mundur. Semuanya mantap untuk terus menjalankan misi hingga tuntas.

Sesampainya di Nakhlah, pasukan rahasia ini melepas lelah untuk beristirahat. Inilah penjelasan mengapa perjalanan ekspedisi mereka disebut Ekspedisi Nakhlak. Tidak lama berselang, Abdullah bin Jahsy dan rombongannya melihat ada satu kafilah Quraisy yang hendak melintas. Kafilah Quraisy ini sedang berada dalam jalur pulang dari Syam menuju ke Mekah. Menurut pimpinan pasukan, ini adalah kesempatan emas untuk melakukan perlawanan.

Namun terdapat satu penghalang untuk melakukan itu. Penghalangnya adalah bulan Rajab. Menurut tradisi Arab, Bulan Rajab adalah bulan yang diharamkan terjadi peperangan. Namun setelah berunding singkat, pasukan ini tidak membuang kesempatan untuk melakukan perlawanan. Terjadilah perang kecil antara kafilah Quraisy dan pasukan rahasia yang dipimpin Abdullah bin Jahsy.

Baca Juga :  Ubay bin Ka’ab: Allah Perintah Nabi Membacakan Al-Qur'an Kepadanya

Peperangan dimenangkan Abdullah bin Jahsy. Pasukan rahasia ini berhasil merampas barang dagangan kafilah Quraisy, membunuh seorang prajurit lawan, menawan dua orang di antaranya, dan sisanya berhasil melarikan diri. Hasil rampasan ini tercatat sebagai ghanimah pertama yang didapatkan kaum muslimin. Abdullah bin Jahsy kemudian membagian harta tersebut ke sejumlah pasukannya dan memisahkan seperlima bagian untuk Rasulullah saw.

Digunjing para Sahabat Nabi

Ketika tiba di Madinah, respon para sahabat tidak seperti yang Abdullah bin Jahsy bayangkan. Disinilah muncul desas-desus dan prasangka yang dialamatkan kepada Abdullah bin Jahsy dan pasukannya.

Sebagian penduduk Madinah mencela Abdullah bin Jahsy karena telah menumpahkan darah pada bulan Haram. Mereka berpikir bahwa peperangan ini dapat dijadikan momentum oleh pihak lawan untuk mendapatkan simpati dari bangsa-bangsa Arab karena telah melanggar hukum bangsa Arab.

Menurut Ibnu Jarir al-Thabari, atas peristiwa ini, turunlah wahyu kepada Rasulullah saw yang berisi pembelaan terhadap Abdullah bin Jahsy dalam Q.S al-Baqarah [2]: ayat 217:

يسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad saw) tentang berperang dalam bulan Haram. Katakanlah: “Berperang di dalamnya adalah (dosa) besar. Tetapi menghalang (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidil Haram, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Mereka tidak akan berhenti memerangimu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup. Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Pasca turunnya ayat ini, Rasulullah saw mengucapkan selamat kepada pasukan rahasia ini dan menerima ghanimah. Dua orang Quraisy yang ditawan adalah Usman bin Abdullah bin al-Mughirah dan al-Hakam bin Kaisan. Usman ditebus keluarganya dan kembali ke Mekah, sedangkan al-Hakam bin Kaisan masuk Islam.

Baca Juga :  Laki-Laki Ini Masuk Surga Padahal Belum Pernah Shalat

Berdampak Menjadi Perang Badar dan Uhud

Penyergapan ini kemudian memicu terjadinya perang Badar. Orang-orang Quraisy semakin terpacu semangatnya untuk memerangi Rasulullah beserta para sahabat. Dalam perang ini kemenangan berada dalam genggaman pasukan muslim meski secara jumlah pasukan Quraisy Mekah lebih banyak dibandingkan pasukan muslim.

Selang setahun setelah perang Badar, terjadilah perang Uhud tepatnya pada tahun 3 H. Diceritakan dalam kitab al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashab bahwa sehari sebelum perang, Abdullah biin Jahsy datang menemui Sa’ad bin Abi Waqqash sambil berkata, “Kemarilah, kita sama sama bermunajat kepada Allah swt.” Mereka pun duduk dii pojokan. Sa’ad pertama kali berdoa: “Ya Tuhanku, jika kami berhadapan dengan musuh esok, pertemukanlah aku dengan lawan yang paling kuat, paling berani, aku berperang melawannya di jalan-Mu, dan dia memerangiku, berikan aku kemenangan atasnya sehingga aku dapat membunuhnya dan merampas hartanya.” Doa ini kemudian diamini oleh Abdullah bin Jahsy.

Giliran Abdullah bin Jahsy berdoa, “Ya Tuhanku, pertemukanlah aku esok hari dengan musuh yang paling ganas, kuat, dan berani. Biarkan aku memeranginya dan ia memerangiku, kemudian ia membunuhku, lalu memotong telinga dan hidungku. Jika kelak aku bertemu dengan-Mu, Engkau bertanya, “Wahai Abdullah, dimanakah hidung dan telingamu?” Aku akan menjawab, “Ada pada-Mu dan Rasul-Mu.” Sa’ad bin Abi Waqqash pun mengaminkan doa Abdullah seraya berujar bahwa do’a yang dipanjatkan Abdullah lebih baik dibanding doanya.

Perang Uhud pun berakhir. Ketika Rasulullah saw memeriksa para syuhada, ia melihat jasad Abdullah bin Jahsy, telinga dan hidungnya terpapas oleh pedang musuh. Dikisahkan bahwa jasad Abdullah bin Jahsy dikuburkan dalam satu liang lahat dengan Hamzah bin Abdul Muthallib. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here