Abdullah bin Arius, Sosok Pimpinan Sekte Kristen yang Masih Bertauhid

23
5623

BincangSyariah.Com – Dalam beberapa literature kesejarahan, para pengikut Kristen awal menyebar ke wilayah-wilayah yang menjadi pusat aliran-aliran fisafat  Yunani yang tersebar di bagian utara dan timur Jazirah Arab (Antokia, Harran, Nasibin, utara Suriah dan Irak, Jundisapur bagian barat Persia).

Aleksandria merupakan pusat aliran filsafat dan ilmu pengetahuan yang paling maju dari pusat-pusat lainnya sejak masa Ptolemous, yakni dari abad ketiga sebelum masehi. Para pengikut Kristen juga tersebar di wilayah ini di awal-awal perkembangan agama mereka. Gereja Kristen Koptik berdiri di wilayah Aleksandria pada tahun 42 Masehi.

Ketika empat Injil ditulis dan ajaran Kristen mulai dibakukan, terjadi tabrakan dan gesekan dengan filsafat. Lalu muncullah usaha-usaha untuk memadukan ajaran yang terkandung dalam Injil dan ajaran-ajaran  filsafat Yunani.

Aliran yang memadukan ajaran Kristen dengan filsafat Yunani ini sangat berkembang di wilayah Iskandariah. Uskup terkenal yang berusaha memadukan ajaran Kristen dengan filsafat Yunani (baca Hermes/Neo-platonisme) di Iskandariah ialah yang bernama Origene (185-254 M).

Di tengah arus pemikiran filsafat yang berkembang di Iskandariah inilah, muncul sosok Uskup dari Gereja Koptik yang berasal dari Libia bernama Arius yang lahir di tahun 270 Masehi. Arius menempuh pendidikannya di Antokia, bagian utara wilayah Suriah yang saat itu merupakan pusat pengajaran filsafat dan agama yang amat penting.

Di wilayah ini pula tersebar kekristenan awal yang masih menganut ajaran monoteisme. Arius kemudian pindah ke Iskandaria untuk melanjutkan pendidikannya dan terpengaruh oleh gagasan dan pemikiran Origene. Ia tertarik untuk menyebarkan ajaran-ajaran Origene sehingga banyak sekali pengikutnya dan kemudian ia ditunjuk sebagai Uskup di Gereja Pokalis di Iskandariyyah.

Namun pada tahun 323 Masehi, Arius melakukan revolusi keyakinan dengan menegaskan keilahian Bapa (Allah) dan kemanusiaan Yesus. Pemikiran ini kemudian disebut Arianisme dan pada Konsili Nicean pertama, pahamnya diterima oleh raja Konstantin.

Namun pada Konsili Nicean berikutnya, sekte Arianisme ini dicap sebagai sekte bidah  oleh kekristenan Ortodoks saat itu. Kelak, Arianisme ini di dalam literatur Arab dikenal sebagai Arius al-muwahhid. Ibnu Kathir bahkan menyebut secara simpatik pendiri aliran ini sebagai Abdullah bin Arius al-muwahhid dalam karya sejarahnya yang terkenal, al-Bidayah wa an-Nihayah.

Sekte ini berkembang pesat di Yaman, Mesir, Oman, Etiopia, Bahrain, Libia, Spanyol dan lain-lain meski masih menjadi minoritas. Dan konon, menurut beberapa literatur kesejarahan, alasan begitu mudahnya orang-orang Spanyol  masuk Islam di bawah ekspedisi Tariq bin Ziyad itu dikarenakan banyak yang mengikuti ajaran Arius ini. Tokoh yang terkenal saat itu ialah Ulfilla, pengikut Arius yang paling getol mengajarkan ajaran-ajaran tauhid di Spanyol.

Meski ditolak di konsili Nicea kedua, di kalangan pembesar-pembesar kerajaan Romawi, Arianisme tetap dianut. Sehingga wajar jika kaum Muslim sangat bersimpati terhadap kekalahan Romawi yang kristen melawan Persia yang pagan.

Surah Ar-Rum yang meramalkan akan kemenangan Romawi melawan Persia tidak boleh ditafsirkan bahwa Islam mendukung doktrin trinitas Kristen (terlepas dari definisi trinitas yang masih mengandung unsur tauhid, yakni bahwa Allah itu memiliki tiga hipostasis/sifat: Bapa, Putera dan Roh Kudus ataupun yang sudah menahbiskan Allah sebagai memiliki tiga pribadi dimana Yesus transenden menjadi Firman-Nya).

Sikap demikian lebih menunjukan rasa  simpati Islam terhadap para pengikut Arius yang bertauhid yang mengisi posisi-posisi penting di kerajaan Romawi.

Jika mencoba menelisik kembali sejarah kenabian dan membaca surat Nabi yang ditujukan kepada Heraklius, akan kita temukan nama yang merujuk kepada sekte Arianisme ini. Dalam surat itu dikatakan:

أسلم تسلم، وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين. فإن توليت فعليك إثم الأريسيين.

“Masuklah agama Islam, kau akan selamat. Masuklah Islam, niscaya Allah akan memberimu dua pahala. Namun jika berpaling, engkau  akan mendapat dosa para pengikut Arius.”

Para mufassir hadis berbeda pendapat dalam membaca dan memaknai kata yang digaris bawahi pada surat Nabi di atas. Sebagian  ada yang membacanya dengan sebutan al-arisiyyin dan mengartikannya sebagai al-akarin atau al-fallahin ‘para petani’.

Sebagian lagi ada yang mengartikannya sebagai al-asyarin ‘para pemungut pajak’. Agaknya pandangan seperti ini jauh dari yang dimaksud Nabi dalam surat di atas.

Karena itu, jika ditelusuri lebih jauh dalam Lisan al-Arab, Ibnu al-Manzhur membacanya dengan sebutan al-aryusiyyin dan mengartikannya sebagai ‘para penganut sekte Arianisme’ atau ‘para pengikut ajaran Arius’. Lebih jauh lagi Ibnu Hajar al-Asqalani  dalam Fath al-Bari di Kitab at-Tafsir mengatakan:

 أن الأريسيين ينسبون إلى عبد الله بن أريس: رجل كان تعظمه النصارى ابتدع في دينهم أشياء مخالفة لدين عيسى.

Al-aryusiyyin sering dinisbahkan kepada Abdullah bin Arius, seorang uskup yang sangat dihormati di kalangan Kristen namun kemudian dianggap memiliki pandangan-pandangan bid’ah yang bertentangan dengan ajaran Kristen”.

Kemudian Ibnu Hajar mengutip pandangan Ibnu Hazm dari kitabnya yang terkenal, al-Fasal fi al-Milal wa al-Ahwa wa an-Nihal yang mengatakan:

أن أتباع عبد الله بن أريس كانوا أهل مملكة هرقل

 “Para pengikut Abdullah bin Arius ini menjadi para pembesar di kerajaan Heraklius”.

Surat ini menunjukan Nabi mengetahui betul bahwa ketika beliau mengirim suratnya itu, sebagian besar pejabat di kerajaan Heraklius ialah pengikut Arianisme  yang masih bersendi kepada keimanan akan keesaan Allah.

Nabi melimpahkan tanggung jawab dosa-dosa pengikut Arianisme kepada Heraklius jika ia tidak masuk Islam. Hal demikian karena dengan tidak masuk Islamnya Heraklius akan berimplikasi kepada tidak masuk Islamnya rakyat yang dipimpinnya. Tentunya Heraklius akan menanggung dosa-dosa pengikut Arius.

Sebenarnya dalam tradisi kekristenan sendiri, Arianisme termasuk ke dalam apa yang disebut Gereja Resmi sebagai ebionist, sebuah terma yang digunakan saat itu untuk merujuk kepada sekte-sekte Kristen yang bid’ah dan belum tersentuh paham filsafat.

Ebionist sendiri artinya ialah yang miskin secara pemikiran. Sementara rezim pengetahuan yang menjadi dominan saat itu ialah filsafat Timur, filsafat yang menggabungkan dan mengharmonikan relasi ilmu pengetahuan dengan filsafat dan agama dan karenanya, trinitas Kristen banyak terpengaruh oleh ajaran ini sehingga sekte-sekte Kristen yang tidak menganut trinitas sebagai ajaran fundamentalnya dianggap sebagai ebionist.

Ebionist juga merujuk kepada Yahudi yang belum terkontaminasi dengan filsafat. Jadi, pemikiran yang dominan saat itu, bahwa aliran apapun yang tidak mengadopsi hermetisme atau neo-platonisme atau filsafat Timur akan dianggap miskin secara pemikiran. Arianisme termasuk sekte Kristen yang tidak mengadopsi paham demikian sehingga Gereja Resmi menyebutnya ebionist.

Jika raja Heraklius saja masuk ke dalam apa yang disebut dalam literatur Arab sebagai pengikut Abdullah bin Arius al-muwahhid, lalu bagaimana dengan surat-surat Nabi yang ditujukan kepada tokoh-tokoh lainnya, misalnya an-Najasyi, Muqauqis, ad-Dhagatir dan lain-lain?

Besar kemungkinan mereka ini juga dikategorikan sebagai pengikut ajaran Arius yang oleh al-Quran disebut sebagai orang-orang Kristen yang lembut dan rendah hati terhadap kebenaran. Kita akan memperjelas posisi keimanan mereka dalam kesempatan berikutnya. Semoga bisa.

 

100%

23 KOMENTAR

  1. Ajaran Arius inilah yg disebut sebagai Ahli Kitab. Wasnitanya boleh diperistri. Pada zaman Nabi masih ada,tapi kini seiring dg persekusi masif semenjak konsili Nicea,para Ahli Kitab lenyap dan pengikut Atanasius dg trinitasnya yg ada

    • Mohon maaf, ana ingin tabayyun dulu

      Di bagian mana ibnu katsir dalam bidayah wa an-nihayahnya menyebutkan secara simpatik abdullah bin arius ini ?

      Di bab apa,perihal apa dan bagian mana ?

      Mohon mungkin bisa memberi tau

  2. Mohon maaf, ana ingin tabayyun dulu

    Di bagian mana ibnu katsir dalam bidayah wa an-nihayahnya menyebutkan secara simpatik abdullah bin arius ini ?

    Di bab apa,perihal apa dan bagian mana ?

    Mohon mungkin bisa memberi tau

  3. Ini website website menyesatkan.

    Sejak kapan Arianisme itu selaras dan berjalan dengan Islam.

    Kalau dibandingkan Trinitas saja, Trinitas masih jauh lebih Tauhid dari Arian.

    Kenapa? Permasalahan Antara Gereja Arus Utama yg menganut Trinitas dengan Arianisme adalah masalah ” apakah Firman Allah yang bersama-sama dengan Allah itu adalah Satu dengan Allah dan adalah Allah itu sendiri atau Firman Allah itu hanyalah makhluk pertama ? ”

    Kalau website ini mendukung Arianisme, sudah dipastikan ini website bukan Ahlussunnah Wal Jama’ah, melainkan Mu’tazillah yang menolak Firman Allah tidak diciptakan.

    Terus lagi, Heraklius dan para pembesarnya itu menganut Monofisit. Bukan Arian. Coba belajar lagi sejarahnya.

    • Bila tidak sependapat, silakan kirim tulisan bantahan beserta rujukan yang memadai, bukan menyesat-nyesatkan website orang. Ini Anda menyebutkan pendapat tanpa rujukan yang jelas. Jadi siapa yang sesat sebenarnya?

  4. oke saya tanggapi poin per poin yang disampaikan oleh Muhammad Salahudin:
    pertama, “Sejak kapan Arianisme itu selaras dan berjalan dengan Islam,” ini saya kira tidak perlu bertanya sejak kapan, saudara tinggal baca saja beberapa literatur klasik Islam tentang hal ini. saya sebutkan di antaranya ialah al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Kathir dan al-Jawab as-Sahih li-Man Baddala Dinal Masih karya Ibnu Taymiyyah. rujuk juga karya-karya yang saya sebutkan pada artikel di atas seperti al-Fasl karya Ibnu Hazm dan Lisan al-Arab karya Ibnul Manzhur. nah menariknya, Ibnu Taymiyyah, sosok ulama monotheis radikal dari Ahlu Sunnah, pernah mengatakan dalam jilid ke-2 hal. 406 kalau Arius ini pandangannya tentang Yesus selaras dengan Islam (redaksinya secara tepatnya begini: Abdullah bin Arius alladzi ja’ala al-masih abdan li-Allah kama yaquluhu al-Muslimun ‘Arius menganggap Yesus sebagai hamba Allah’ sebagaimana keyakinan umat Islam pada umumnya). jadi pertanyaan saudara yang mengatakan sejak kepan Arius selaras dengan Islam tidak relevan di sini kalau rujukannya ialah literatur yang ditulis ulama Islam.
    kedua, “Kalau website ini mendukung Arianisme, sudah dipastikan ini website bukan Ahlussunnah Wal Jama’ah, melainkan Mu’tazillah yang menolak Firman Allah tidak diciptakan,” jangan terlalu jauh dulu menyimpulkan demikian dengan menggunakan argumen “kalau-kalau”, saya bisa pake “kalau” juga untuk membalikan argumen saudara lagi, yakni “kalau Ibnu Taymiyyah, Ibnu Kathir, Ibnu al-Manzhur, dan Ibnu Hazm saja menyatakan rasa simpatiknya terhadap Arianisme ini, sementara arianisme itu sendiri mirip-mirip dengan Muktazilah, berarti apakah dengan sendirinya saudara akan mengatakan Ibnu Taymiyyah, Ibnu Kathir dan banyak ulama lainnya yang sunni itu yang simpatik dengan arianisme ini disebut pengikut Muktazilah?” silahkan jawab ya, kalau perlu pakai tulisan juga.
    Ketiga, “Kalau dibandingkan Trinitas saja, Trinitas masih jauh lebih Tauhid dari Arian.” ini silahkan pakai tulisan juga untuk membuktikan klaim saudara. biar diskursusnya lebih menarik daripada langsung mencap sesat. usahakan sumber-sumbernya dari khazanah intelektual Islam klasik dulu sebelum merujuk ke sumber-sumber Kristen.
    ketiga, “Terus lagi, Heraklius dan para pembesarnya itu menganut Monofisit. Bukan Arian. Coba belajar lagi sejarahnya.” saya kira saudara tidak terlalu teliti membaca artikel di atas. saya tegaskan melalui apa yang saya tulis: Ibnu Hajar mengutip pandangan Ibnu Hazm dari kitabnya yang terkenal, al-Fasal fi al-Milal wa al-Ahwa wa an-Nihal yang mengatakan:
    أن أتباع عبد الله بن أريس كانوا أهل مملكة هرقل
    “Para pengikut Abdullah bin Arius ini menjadi para pembesar di kerajaan Heraklius”.
    Surat ini menunjukan Nabi mengetahui betul bahwa ketika beliau mengirim suratnya itu, sebagian besar pejabat di kerajaan Heraklius ialah pengikut Arianisme yang masih bersendi kepada keimanan akan keesaan Allah.
    ini kan catatan sejarah, ya memang saya akui, dalam tulisan ini saya membatasi pada literatur Islam, belum membaca yang literatur dari Kristen, tapi poin yang ingin saya sampaikan ialah jangan dulu menyesatkan orang dengan bacaan saudara yang super minim dengan literatur keislaman. jadi saudara perlu baca lagi.
    keempat, “Kenapa? Permasalahan Antara Gereja Arus Utama yg menganut Trinitas dengan Arianisme adalah masalah ” apakah Firman Allah yang bersama-sama dengan Allah itu adalah Satu dengan Allah dan adalah Allah itu sendiri atau Firman Allah itu hanyalah makhluk pertama ? ”” ini sebenarnya sudah saya tulis juga di bincang syariah, silahkan saudara merujuk kepada tulisan tersebut.

  5. Maaf saya gak begitu yakin dengan apa yang anda kutip. Apakah benar itu Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Katsir membela Arianisme?

    Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Katsir justru Sunni. Malah saya yg berbalik menanyakan status dri website ini. Banyak yg menipu dan memalsukan perkataan ulama2 Salaf. Yah jelas bedalah Ibnu Taymiyyah bukan Mu’tazillah, justru pengelola website ini yg agak condong kepada Mu’tazillah. Knapa? Krna website ini bukan website Ahlussunnah Wal Jama’ah. Yg mana di dalamnya ada Jalaluddin Rumi yg mana seorang Sufi yg Ahlul Bid’ah.

    Dari website bincang syariah yg saya baca sndiri, gak jelas manhaj website ini.

  6. Tanpa rujukan jelas? Anda sendiri rujukannya pun juga gak jelas. Saya bicara sesuai dengan apa yg ada dlam sejarah.

    Kalau mau tahu, silahkan Buka Buku Teologi karya Arius yang berjudul Thalia, yg dibakar oleh Pihak Gereja apa isinya?

    Pengajaran bahwa Firman Allah adalah makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah sebelum alam semesta. Apakah benar Firman Allah itu makhluk? Di Islam gak diajarkan jika Firman Allah itu makhluk.

    Siapa yg sesat? Yg membela Arius dan membela ajarannya.

    Apa yang dikatakan oleh Rasulullah mengenai Al-Arisiyyin jelas itu merujuk kepada para petani. Bukan Arian.

    Sedangkan Kaum Muslimin saja pernah berperang dan menaklukkan Spanyol dimana kala itu Wilayah Spanyol masih banyak pengikut Arianisme dan Raja terakhir Visigoth yg berkuasa atas Hispania kala itu yang bernama Roderic itu seorang Arian yang keluar dari Gereja Katolik yang sbelumnya Roderic ini melakukan pemberontakan atau coup kepada Raja sbelumnya yang bernama Wittiza. Visigoth yg ditaklukkan oleh Tariq bin Ziyad itu mayoritas Arian wlaupun raja2 Visigoth ada yg berpindah memeluk Katolik. Pertentangan dan permasalahan dalam Kerajaan Visigoth akibat ketidakpuasan kaum Arian dngan adanya Kekatolikkan di wilayah kekuasaan Visigoth. Silahkan bisa dibaca di https://en.m.wikipedia.org/wiki/Visigothic_Kingdom

    Islam pernah perang dngan Arianisme, menang melawan Arianisme dengan tewasnya Roderic pada pertempuran Guadalete. Islam tegak di Spanyol, kemudian dikalahkan oleh Monarki Katolik dibawah Ferdinand dan Isabelle

  7. Dan lagi, berbeda antara Arianisme dengan Ebionisme atau Ebionite. Anda dengan ngawur dan gak jelas sumbernya dari mana mengatakan bahwa Arianisme termasuk Ebionite. Jelas bertolak belakang sekali. Karena Ebionite tidak mengakui Surat-surat dari Paulus. Ebionite hanya punya Injil Matius yang tertulis dalam bahasa Ibrani, Ebionite gak punya Injil Yohanes, Injil Lukas, dan Markus. Sedangkan Arianisme mengakui Injil Yohanes, Lukas, Markus, dan surat-surat Paulus.

    Utk sumbernya silahkan anda baca di :
    https://www.newadvent.org/cathen/01707c.htm
    Dan Arius ini seorang Imam atau Presbiter dari ras Berber yg dlunya murid dari Imam Lucian dari Antiokhia yg merupakan seorang Imam Gereja Ortodoks. Jadi Arius ini menyempal dri ajaran Resmi Gereja. Karena kesesatannya Arius ini punya pandangan , ” Bahwa Firman Allah adalah makhluk pertama dan dari Firman Allah inilah, segala sesuatu tercipta. Bapa hanya menciptakan Firman langsung, namun Firman lah yg menciptakan sgala sesuatu krna segala ciptaan asalnya dri Firman. ” Arianisme ini dikutuk sbagai Musyrik oleh Konsili Nicea dibawah Athanasius dari Alexandria krna walaupun menyatakan Firman Allah adalah allah kecil dan suatu allah yg lebih rendah dri Allah Bapa, status sang Firman disembah sbagai allah disamping Allah Bapa oleh Imam Arius yg bidat ini.

    Apakah Arianisme selaras dngan Islam?
    Saya gak percaya kalau Ibnu Taymiyyah dalam Al-Jawabushshahih min Baddala Diinul Masih menyatakan bahwa Arius benar seorang Hamba Allah yang mengajarkan kebenaran mengenai Isa. Karena apa, karena Arius tidak mengakui jiwa Nabi Isa sebagai Jiwa Manusia. Arius menyatakan bahwa Isa itu setengah manusia setengah allah.

  8. Kenapa komentar saya lama munculnya di sini, apa sengaja dri adminnya melamakan dan tdak langsung terposting cepat?

  9. Bahkan Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli Rahimahullah pun menyatakan,

    من قال أن كلام الله أو كلام الله مخلوق ، فهو كافر ومشرك. سفك دمه لأنه ارتد عن الإسلام.

    ” Barangsiapa yang menyatakan bahwa Kalam Allah atau Firman Allah adalah makhluk, maka ia Kafir dan Musyrik. Halal darahnya untuk ditumpahkan karena sudah murtad dari Islam. ”

    (Dikutip dari Siyar A`lamin Nubala’, Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi, Muassasatur Risalah, th. 1417 H / 1996 M.)

    Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli adalah Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah yang menjadi guru Imam Bukhari, yang mana juga menjadi rujukannya Ibnu Taymiyyah. Jadi mustahil kalau Ibnu Taymiyyah menyatakan Arianisme selaras karena Arianisme itu Kafir dan jauh lebih kafir dan musyrik dari Kristen umumnya, disamping orang2 Kristen umumnya yang kafir yg tdak mengakui Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai Nabi dan Rasul.

  10. Bahkan Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli Rahimahullah pun menyatakan,

    من قال أن كلام الله أو كلام الله مخلوق ، فهو كافر ومشرك. سفك دمه لأنه ارتد عن الإسلام.

    ” Barangsiapa yang menyatakan bahwa Kalam Allah atau Firman Allah adalah makhluk, maka ia Kafir dan Musyrik. Halal darahnya untuk ditumpahkan karena sudah murtad dari Islam. ”

    (Dikutip dari Siyar A`lamin Nubala’, Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi, Muassasatur Risalah, th. 1417 H / 1996 M.)

    Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli adalah Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah yang menjadi guru Imam Bukhari, yang mana juga menjadi rujukannya Ibnu Taymiyyah. Jadi mustahil kalau Ibnu Taymiyyah menyatakan Arianisme selaras dengan Islam, karena Arianisme itu Kafir dan jauh lebih kafir dan musyrik dari Kristen umumnya, disamping orang2 Kristen umumnya yang kafir yg tdak mengakui Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai Nabi dan Rasul.

  11. Oke terima kasih banyak untuk tanggapan dan komentarnya. Untuk menanggapi poin yang saudara sampaikan, ada beberapa poin di sini:
    Pertama, saudara menyampaikan bahwa“Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Katsir justru Sunni. Malah saya yg berbalik menanyakan status dri website ini. Banyak yg menipu dan memalsukan perkataan ulama2 Salaf. Yah jelas bedalah Ibnu Taymiyyah bukan Mu’tazillah, justru pengelola website ini yg agak condong kepada Mu’tazillah. Knapa? Krna website ini bukan website Ahlussunnah Wal Jama’ah. Yg mana di dalamnya ada Jalaluddin Rumi yg mana seorang Sufi yg Ahlul Bid’ah.” Ini cara piker yang simpel banget. Kalo cara berpikir seperti ini konsisten diterapkan, banyak juga ulama ahlu sunnah yang tidak sunni-sunni banget menurut saudara. Saya contohkan, Abul Hasan al-Asy’ari yang pentolan Ahlus Sunnah itu saja pernah ngadopsi teori al-jawhar al-fard dan teori tajwiz-nya aliran Muktazilah tapi kenapa beliau ga sekalian saja disebut Muktazilah? Aliran Asy’ariyyah yang merupakan aliran Ahlus Sunnah itu saja secara umum sebelum mengadopsi logika Aristoteles di abad ke-5 Hijriyyah pasca al-Ghazali dan Fakhruddin ar-Razy itu mengadopsi metode Qiyas al-Ghaib ala Asy-Syahid dari Muktazilah. Kenapa aliran Asyariyyah bukan Muktazilah saja? Ibnu Taymiyyah pun seperti yang dikatakan oleh pentahkik kitab Tatsbit Dala’il an-Nubuwwah, itu juga pernah membaca dan mengagumi Tatsbit Dala’il an-Nubuwwah karya al-Qadhi Abdul Jabbar, seorang teoretikus Muktazilah. Saudaraku, ngutip sana-sini, baik dari kalangan sendiri maupun dari aliran luar, itu hal biasa dalam tradisi pemikiran Islam. Al-Ghazali pun dalam kitab Ihya dan kitab Ayyuhal Walad sering ngutip Injil koq, tapi beliau tetap termasuk umat Islam, bukan pengikut ajaran Kristen. Jadi itu hal biasa. Ulama kita sangat terbuka tentang hal ini. Bukan kaya saudara ini yang makanan sehari-harinya nyesatin mulu. Padahal saudara ilmunya ga secanggih al-Ghazali. Hehe. Maap keceplosan. Tapi saya greget dengan saudara yang ilmunya ga sehebat al-Ghazali tapi gampang menyesatkan. Jadi seberapa tahu sih saudara tentang ilmu-ilmu keislaman?
    Kedua, saudara menyampaikan “Maaf saya gak begitu yakin dengan apa yang anda kutip. Apakah benar itu Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Katsir membela Arianisme?” Bukan membela Arianisme, saudara kurang jeli membaca, justru yang saya katakan ialah bahwa dari Ibnu Kathir dan Ibnu Taymiyyah inilah, saya dapat data, bahwa ada ulama Islam yang memiliki rasa simpati terhadap aliran Kristen Arius ini. Penyebutan kata Abdullah sebelum Arius ini menunjukkan rasa empati mereka. Abdullah artinya hamba Allah. Kalau saudara tidak percaya dengan sumber-sumbernya, saya ga masalah, tapi problemnya, saudara kan bilang website ini sesat. Ini yang perlu saya tanggapi serius. Saya kira silahkan saudara tabayyun ke redaktur website ini, saya di sini cuma numpang sebagai penulis. Kalau mau ditunjukkan referensinya, silahkan hubungi no saya (081808044278 ditelpon aja yak/via zoom atau google meet juga boleh untuk saya tunjukkan langsung kutipannya). Semoga saudara yang ngaku-ngaku sunni, tapi mudah menyesatkan orang ini, bisa membaca langsung literatur Arabnya ya.
    Ketiga, sekali lagi, yang saya tulis di sini, referensinya ialah yang literature versi Arab Islam. Bukan referensi yang Inggris, bukan dari pakar-pakar Barat yang mencoba mengkaji kekristenan Timur. Saya lum baca banyak dari versi Inggris. Atas dasar ini, saya sampaikan bahwa bisa jadi Arius versi Barat amat berbeda dengan Arius versi literature Islam-Arabnya. Jadi saya sarankan jangan baca versi Arab-Islamnya lewat perspektif Barat, nanti implikasinya saudara akan mencap banyak ulama Ahlu Sunnah yang sesat, bahkan akan mengklaim mereka kurang baca. Jadi baca saja sesuai kerangka kerja pengetahuannya mereka masing-masing.
    Keempat, Kalau saudara menyebutkan bahwa Arius ini mirip Muktazilah dalam sikapnya soal Firman Allah itu tercipta sedangkan Gereja Resmi berpandangan Firman Allah itu kekal, saya setuju-setuju saja. Bahkan pernah menulis tentang ini di website ini. Jadi kira-kira Gereja Resmi ini pandanganya mirip Ahlus Sunnah tentang kalam Allah. Paling tidak bisa dimirip-miripkan seperti itu. Saya juga sependapat dalam hal ini. Silahkan saudara baca tulisan saya, ‘Tafsir Ayat Selamat Natal dalam Al-Quran,’ dalam tulisan ini saya menganalogkan Arianisme dengan Muktazilah dan Gereja Resmi dengan Ahlu Sunnah. Tapi meski sependapat dengan saudara, ada catatan di sana-sini, begini. Saudara kalau konsisten dengan pembacaan yang memirip-miripkan Arius dengan Muktazilah versi Islam dan Gereja Resmi – yang menurut saudara lebih benar dari Arius – dengan Ahlu Sunnah, mungkin saya tanyakan lebih jauh apakah al-Quran yang merupakan firman Allah itu Allah itu sendiri? Kalau gereja resmi bilang Firman Allah itu ada bersama Allah, dan itu artinya Firman juga Allah, implikasinya al-Quran juga Allah kan ya? Al-Quran juga kekal bersama Allah? Tapi Alquran kenapa tidak sekalian saja disembah?
    Kelima, “Sedangkan Kaum Muslimin saja pernah berperang dan menaklukkan Spanyol dimana kala itu Wilayah Spanyol masih banyak pengikut Arianisme dan Raja terakhir Visigoth yg berkuasa atas Hispania kala itu yang bernama Roderic itu seorang Arian yang keluar dari Gereja Katolik yang sbelumnya Roderic ini melakukan pemberontakan atau coup kepada Raja sbelumnya yang bernama Wittiza.” Saudara! jangankan kasusnya di Spanyol, di era kenabian saja, ketika Alquran bersimpati terhadap kerajaan Romawi Kristen yang kalah bertempur dengan Persia yang pagan, malah di akhir hidupnya, nabi pernah memerintahkan Usamah bin Zaid untuk memerangi kerajaan Romawi yang dipimpin Heraklius yang saat itu hendak mencabik-cabik wilayah Islam dekat perbatasan Suriah dengan Jazirah Arab. Padahal seperti yang saya katakana sebelumnya, sebagian besar pejabat kerajaan Romawi menganut ajaran Arius. Jadi di sini, ini bukan soal perang akidah ini dengan akidah itu, tapi ini soal politik. Beda kasus ya.
    Dan dalam artikel di atas, saya hanya menyampaikan bahwa Islam itu mudah diterima oleh penduduk Spanyol karena salah satunya ialah soal kedekatan keyakinan antara Islam dengan Kristen heretic Arianisme. Terlepas dari perbedaan literature versi Arab dan versi Barat.
    Keenam, “Dan lagi, berbeda antara Arianisme dengan Ebionisme atau Ebionite. Anda dengan ngawur dan gak jelas sumbernya dari mana mengatakan bahwa Arianisme termasuk Ebionite. Jelas bertolak belakang sekali. Karena Ebionite tidak mengakui Surat-surat dari Paulus.” Okelah kalau sy disebut ngawur. Gpp. mungkin saya bisa salah dalam menyampaikan yang saya baca. Tapi kalau disebut sesat, sy masih tidak terima karena pertama, saya ga ada niatan menyesatkan dan kedua, yang saya tulis berbasis pada hasil pembacaan saya terhadap literature-literatur keislaman. Masalah ebionite ini saya ada literaturnya kenapa Arianisme dimasukkan ke situ. silahkan saudara menghubungi saya lewat no yang disebut di atas. Telpon aja ya atau via zoom lah ketemuanya. Mungkin bincang syariah bisa menjembatani pertemuan saya dengan saudara Muhammad Salahuddin ini. Silahkan! Dan sebelumnya, terimakasih kepada Saudara salahudin yang telah membaca dan memberikan catatan kritisnya.

  12. Ketujuh, “Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli adalah Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah yang menjadi guru Imam Bukhari, yang mana juga menjadi rujukannya Ibnu Taymiyyah. Jadi mustahil kalau Ibnu Taymiyyah menyatakan Arianisme selaras karena Arianisme itu Kafir dan jauh lebih kafir dan musyrik dari Kristen umumnya.”
    Untuk mengomentari poin ketujuh ini, pertama, saya sampaikan Iyaa saya tahu Muhammad bin Yahya Adz-Dzhuli ini gurunya Imam Bukhari meski Imam Bukhari sendiri ini pernah dituduh gurunya sendiri sebagai orang yang mempercayai bahwa al-Quran itu makhluk. Tuduhan ini berawal karena gurunya itu dengki kepada Imam Bukhari. Imam ad-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala secara jelas menceritakan ini. Makanya, karena pernah merasa tersakiti oleh gurunya sendiri, Imam al-Bukhari dalam al-Jami as-Sahih sampai-sampai hanya menyebut Muhammad, tanpa adz-Dzhuhli. Di kalangan ahli hadis, ini dinamakan tadlis.
    Kedua, saudara saya sarankan jangan terlalu lugu dan polos dalam memahami ungkapan adz-Dzuhli ini. Memang wajar sih, karena pemahaman yang terlalu polos ini jadinya gampang nyebut yang tidak seide dengan saudara sebagai sesat, bidah. Tapi masih mending lah dari pada saudara menyebut kafir ke website ini. Supaya tidak polos memahami ungkapan adz-Dzhuli ini, silahkan saudara baca bukunya Abid al-Jabiri yang berjudul al-Mutsaqqafun fi al-Hadarah al-Islamiyyah dan kedua, bukunya Muhammad Fahmi Jad’an yang berjudul al-Mihnah: Bahtsun fi Jadaliyati ad-Dini wa as-Siyasi. Ulasan kedua pemikir Islam ini sangat mengagumkan. Mereka mencoba meniliki sesuatu yang politis dalam inquisisi keterciptaan Alquran berbasis pada data-data kesejarahan primer seperti at-Tabari dan seterusnya. Jadi singkatnya, fatwanya Muhammad bin Yahya ad-Dzhuhli ini lahir dari sikap permusuhannya terhadap Muktazilah, aliran yang menjadi ideologi negara saat itu. Karena bermusuhan, wajar lawan politiknya bisa dikata-katain sebagai musyrik-kafir dst. Mungkin seperti anda, dikit-dikit cap sesat. Dikit-dikit cap bid’ah. Gara-gara sikapnya yang terlalu seperti ini, Muhammad bin Yahya ini sampai-sampai menuduh muridnya sendiri al-Bukhari sebagai yang meyakini al-Quran itu makhluk. Ini dilakukan supaya Imam Bukhari pergi dari Nisabur dan tidak ada yang menyainginya. Imam adz-Dzhuli ini imam Hadis di Nisabur.
    Tidak seperti saudara yang enak banget mencap saudara seiman sebagai bid’ah, sesat dan seterusnya, Imam Bukhari dalam meriwayatkan hadis itu beliau terbuka terhadap aliran-aliran yang menurut Ahlu Sunnah sesat. Misalnya al-Bukhari meriwayatkan hadis dari Qadariyyah, Syiah, Khawarij, Murjiah dan seterusnya. Lihat Jalaluddin as-Suyuti dalam Tadrib ar-Rawi atau Jamaludin al-Qasimi dalam Qawaid at-Tahdits. Semoga mata saudara terbuka ya dan segera bertaubat untuk tidak gampang menyesatkan orang. Amin.

  13. Kedelapan, Saudara mengatakan “Tanpa rujukan jelas? Anda sendiri rujukannya pun juga gak jelas.” Ini orang udah saya bilang, rujukannya ulama-ulama Ahlus Sunnah seperti Ibnu Hajar al-Asqalani, Ibnu Taymiyyah, Ibnu Hazm dan lain-lain. Saudara mempertanyakan keahlusunnahan mereka? Rujukan ulama-ulama besar seperti ini saudara masih bilang ga jelas? Nah, sebaliknya nih, sumber saudara malah Wikipedia, bacaan saudara malah sumber dari agama lain, bukan dari Islam, advent lagi. Haduuuh. Ini namanya belajar agama, taunya dari internet, ga jelas itu internetnya sumbernya ahlus-sunnnah apa bukan, malah dipakai untuk ngasih stempel sesat ke orang. Ini jangan-jangan saudara bukan ahlus sunnah, atau ahlus-sunnahnya sekedar topeng doing untuk nyetempelin sesat ke jidat orang-orang? Saudara sudah sesat kah? Sy ga menuduh saudara seperti itu, tapi perilaku saudara yang menunjukan seperti itu, sesat. Singkatnya saudara kalau ga teliti baca, jangan gampang menyesatkan orang.
    Kesembilan, saudara mengatakan “Saya bicara sesuai dengan apa yg ada dlam sejarah,” sejarah versi mana? Kalau saudara menuntut saya untuk ikut ahlus-sunnah, manhaj yang jelas, harusnya rujukan sejarah saudara ya ulama ahlus-sunnah. Masa iya rujukan ahlusunnah itu Wikipedia dan advent? Kacau kalau gini mah. Saudara minim rujukan, dan rujukannya bukan sunni pula. Anehnya, malah nyetempelin orang lain pake stempel sesat. Kurang kerjaan ini. Hehe.
    Kesepuluh, saudara mengatakan “Kalau mau tahu, silahkan Buka Buku Teologi karya Arius yang berjudul Thalia, yg dibakar oleh Pihak Gereja apa isinya?” silahkan kalau ada pdfnya, dishare ke no wa saya, saya akan baca. Pastikan dulu sebelum dishare, buku ini tidak ditahrif ya oleh orang-orang yang memusuhi Arius.
    Kesebelas, saudara mengatakan “Siapa yg sesat? Yg membela Arius dan membela ajarannya,” Kalau sumbernya Islam Sunni, Arius ini meyakini Yesus sebagai hamba Allah. Bukan Tuhan, bukan pula Firman Allah seperti al-Quran. Kalau sumbernya Wikipedia, advent, yang bukan sunni, yang saudara pakai untuk nyetempelin jidat orang pake komat-kamit sesat, Allahu A’lam.
    Keduabelas, saudara mengatakan “Malah saya yg berbalik menanyakan status dri website ini. Banyak yg menipu dan memalsukan perkataan ulama2 Salaf,” ah saudara sok salafi ini statusnya, harusnya bikin status ya di WA atau di Pacebook. kalau perilaku yang gampang kasih stempel sesat ke jidat orang-orang, itu perilaku ulama-ulama salaf bukan? Gampang nuduh orang itu nipu/bohong itu perilaku ulama salaf bukan? Yang jelas ulama salaf ga pernah bikin status di WA atau Facebook ya.
    Ketigabelas, saudara mengatakan “Dari website bincang syariah yg saya baca sndiri, gak jelas manhaj website ini,” kayaknya saudara deh yang ga jelas manhaj-nya…masa nyesatin orang-orang sunnah pakainya mbah google, pake Wikipedia dan newadvent sumbernya. Ama mbah google percaya minta ampun, giliran dikasih tau pandangan ulama salaf ga percaya minta ampun lagi. Ampun dah. Ini manhaj beragama yag ga jelas, itu perilaku saudara sendiri ya yang bilang begitu. Bukan saya.
    Keempatbelas, saudara mengatakan “Ebionite hanya punya Injil Matius yang tertulis dalam bahasa Ibrani,” silahkan tunjukkan dan kirimkan injil berbahasa Ibrani ini ke no WA saya. Saya hanya punya perjanjian lama dalam bahasa ini. Namanya Biblia Hebraica Stuttgartensia. Saya dua tahun terakhir sedang belajar bahasa Ibrani. Ya mungkin dikit-dikit saya bisa baca dalam bahasa ini insya Allah. Kalau saudara akan mencap saya sebagai orang Yahudi karena belajar bahasa Ibrani, saya akan katakan bahwa belajar bahasa Ibrani/bahasa lainnya itu sunnah nabi. Nabi pernah meminta Zaid binTsabit untuk belajar bahasa ini. Karena itu, kata Kyai saya dlu, belajar bahasa itu Sunnah Nabi.
    Kelimabelas, saudara, manhaj itu artinya jalan, filosofi jalan itu artinya saudara yang berada di atas jalan tidak boleh berhenti, kalau berhenti ya saudara tidak berjalan lagi. Sama saja dengan belajar agama, kalau saudara berhenti berjalan mencari kebenaran, berarti saudara ya sudah tidak bermanhaj, karena suadara tidak jalan lagi kan pikirannya. Islam itu agama toleran, tanpa kefanatikan dan tidak membelenggu jiwa. Kalau saudara gampang menyesatkan orang, artinya semangat toleran, semangat tanpa kefanatikan, dan semangat tidak membelenggu jiwa yang menjadi ciri khas Islam itu sendiri sudah hilang dari dalam diri saudara.

  14. Benar website ini , kalian harus pelajari dari awal sejarah Konsili nicea 325, mulai disitu ARIUS dan pengikutnya semakin banyak dan memasuki tanah arab

  15. coba deh ya belajar lagi sejarah, teruntuk bagi penulis ini , masa iya sih agama Islam menyetujui sang bidaah Arius yang mengajar ada Allah Mayor dan Allah Minor yang adalah Kalimatullah itu/ Isa pfttttt

  16. Isa/Yesus adalah orang Yahudi yang berasal dari kota Nazareth.dan pengikutnya disebut sebagai Nasrani,dalam bahasa Arab disebut Nasraha dan dalam Al Quran disebut Kaum Hawariyyun atau ahli kitab karena mereka mentaati ajaran alkitab yaitu kitab Taurat yang diturunkan Allah kepada nabi Musa.yaitu ajaran para nabi2 terdahulu hanya mengimani ajaran Tauhid yaitu tentang keesaan Tuhan sang pencipta alam semesta ini yang bernama ALLAH sedangkan Kristen adalah ajaran yang muncul 13 tahun setelah kepergian Yesus diangkat kelangit,pendirinya adalah Paulus di kota Antiokia,Syria ketika dia mengajarkan kepada orang2 pagan Yunani dan Romawi para penyembah banyak berhala yang tidak bersunat tentang ajaran Yesus yaitu ajaran Taurat dan perlu diingat Yesus tidak pernah membawa ajaran yang bernama Kristen namun Paulus telah berkata lain kepada mereka bila Yesus itu adalah jelmaan Tuhan yang turun kedunia dan anda tidak perlu disunat,karena sunat fisik itu hanya untuk orang Yahudi,anda hanya perlu sunat hati,Paulus melakukan ini agar mereka tertarik akan ajarannya..Setelah kepergian Yesus ,orang2 Nasrani ini menyebarkan ajarannya sampai ke Libya,maka tidak heran ajaran Tauhid kaum Nasrani ini banyak pengikutnya di Mesir,Libya dan Ethiopia.Dan pada tahun 318 masehi muncullah seorang Libya yang bernama Arius pengikut ajaran orang2 Nasrani yang menentang ajaran Paulus..dan mereka disebut sebagai pengikut Arianus,para pengikut Arius dan Paulus sering terjadi pertikaian,maka pada tahun 325 masehi diadakanlah Koncili di kota Nicea untuk mendamaiakan 2 kelompok ini oleh kaisar Romawi saat itu yang bernama Konstantine,namun demi kepentingan politik Konstantine berpihak kepada kelompok Paulus yang pada saat itu disebut sebagai Trinitranian.maka munculah SK kaisar bahwa ajaran Arius adalah bidat atau sesat,dan semua naskah/manuskrip lembaran Injil yang berbahasa Aram bahasa asli Yesus dimusnahkan dan dibakar,namun yang dipakai hanya kitab2 karangan orang2 Yunani yang sudah pasti berbahasa Yunani bukan bahasa Yesus,maka tidak heran mengapa kitab orang Kristen tidak memakai bahasa asli Yesus yaitu Aram/Aramaic,karena Injil yang asli sudah musnah bahkan para pengikut Arius yang masih menyembunyikan lembaran2 Injil yang berbahasa Aram akan dibunuh atas perintah gereja dan mereka diburu dan ditangkapi bahkan Arius pun ditangkap dan dimasukan kedalam penjara.dan dia mati diracun pada tahun 336 masehi oleh pengikut Trinitas.sebagian besar dari mereka menyelamatkan diri ke Ethiopia pada zaman nabi disebut negeri Habasyah dimana rajanya yang bernama Najasyi dan nabi Muhammad,Dia berkirim surat kepadanya dimana saat itu Orang-orang Quraisy mulai mengganggu dan menganiaya mereka. Ketika Mekkah sudah terasa sesak bagi kaum muslimin karena gencarnya tekanan-tekanan musyrikin Quraisy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di negeri Habasyah bertakhta seorang raja yang tidak suka berlaku zalim terhadap sesama. Pergilah kalian ke sana dan berlindunglah di dalam pemerintahannya, sampai Allah subhanahu wa ta’ala membukakan jalan keluar dan membebaskan kalian dari kesulitan ini.”…inilah kaum Nasrani/ahli kitab pengikut Yesus yang terakhir dimana rajanya beserta rakyatnya memeluk ajaran Islam,dan nabi pun di salah satu hadisnya menginjinkan kaum Muslim untuk mengawini para ahli kitab…dan bukanlah orang2 Kristen pengikut Paulus saat ini,yang meng-klaim mereka adalah ahli kitab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here