Abdullah bin Al-Mubarak dan Kuda Pintar yang Dibeli Santrinya

0
710

BincangSyariah.Com – Dalam Hadis yang kedua puluh satu, Imam Muhammad Bin Abu Bakar (rahmatullah alaih) mengisahkan tentang Abdullah Al-Mubarak (rahmatullah alaihi) dan santrinya yang membeli kuda pintar.

Sebagaimana yang telah kita ketahui, Abdullah Bin Al-Mubarak (Ibnul Mubarak) adalah termasuk salah satu ulama tsubut dari Khurasan. Beliau lahir pada tahun 118 H di Marwa Khurasan dan wafat pada Tahun 181 H.

Suatu saat beliau jalan-jalan ke pasar. Beliau melihat seseorang yang lagi menawarkan kudanya. Dia mau melepas kudanya seharga 40 dirham. Ibnul Mubarak merasa ada yang aneh, mengapa kuda tersebut dihargai semurah itu. Penjual tersebut berkata,

ما ارخصه قبل فيه عيوب

Jika tidak ada aibnya, aku tidak akan menjual murah.

Ibnul Mubarak menanyakan aib dari kuda tersebut sehingga menyebabkannya dijual murah. Pemilik kuda tersebut berkata,

لا يعدو خلف العدو ويقف حتى يدركه العدو ويصهل ويصيح في موضع يحتاج فيه الى السكوت

Kuda ini tidak bisa berlari kencang saat mengejar musuh. Apabila terkejar, ia tidak dapat menghindar dari kejaran musuh. Pasti akan ketangkap. Ia juga sering meringkik di saat seharusnya diam.

“Jika begitu, berarti 40 dirham bukan harga yang murah”, jawab Ibnul Mubarak sambil pergi meninggalkan pemilik kuda tersebut.

Perihal kuda tersebut, ada santri Ibnul Mubarak yang mau membelinya dengan harga yang ditawarkan. Kabar ini didengar oleh Ibnul Mubarak, lalu ditanyakan mengenai aib kuda yang disampaikan si penjual. Muridnya berkata,

 هو كما كان فيما ذكروا ولكن لما اشتريته قلت في اذنه ايها الفرس اني تركت الذنب وتبت ورجعت الى الله تعالى فاترك انت ايضا ما فيك من العيوب فحرك رأسه واجاب فرحا بان تركت الذنب

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 1-3; Risalah Nabi Muhammad

Iya Syekh, benar apa yang mereka sampaikan tentang kuda tersebut. Namun, ketika aku sudah membelinya, maka aku membisikkan sesuatu pada telinganya. Aku bilang padanya “Hei kuda, aku sudah meninggalkan semua dosaku. Aku jera, aku bertobat dan kembali pada Allah Swt. Maka dari itu, tinggalkan juga semua aib yang ada padamu.” Lalu, kuda tersebut menggerakkan telinganya sebanyak tiga kali. Seakaan-akan ia senang mendengar pernyataanku untuk meninggalkan dosa.

Kuda tersebut yang asalnya lamban, menjadi secepat kilat. Yang asalnya berisik, menjadi tenang. Kuda tersebut menjadi hebat setelah berpindah kepemilikan. Santri Ibnul Mubarak melanjutkan perkataannya,

فعلمت ان العيوب من صاحب الفرس لا من الفرس لان فرس الكفار يلعن صاحبه حتى ينزل عن ظهره والظالم كذلك

Dari itu, saya bisa tahu bahwa aib kuda tersebut berasal dari pemiliknya. Bukan dari si kuda. Sesungguhnya kuda milik orang kafir akan melaknat si pemilik hingga ia turun dari punggungnya. Begitu juga kuda milik orang yang dholim.

Dalam artian, bisa saja pemilik kuda tersebut pernah melakukan kedholiman sehingga kudanya menjadi malas-malasan. Ia melaknat pemiliknya karena melakukan pembangkangan pada Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Qs. Hud (11) : 18,

وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۗ اُولٰۤىِٕكَ يُعْرَضُوْنَ عَلٰى رَبِّهِمْ وَيَقُوْلُ الْاَشْهَادُ هٰٓؤُلَاۤءِ الَّذِيْنَ كَذَبُوْا عَلٰى رَبِّهِمْۚ  اَلَا لَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الظّٰلِمِيْنَ ۙ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata, “Orang-orang inilah yang telah berbohong terhadap Tuhan mereka.” Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang yang zalim,

Menurutnya, jika Allah Swt. sudah melaknat, maka makhluk yang lain juga akan melaknat. Seperti halnya kuda tersebut. “Ketika ia sudah aku bisiki tentang tobatku, maka berarti aku telah membuatnya gembira, ” tutur santri itu pada gurunya, Abdullah Bin Al-Mubarak.

Baca Juga :  Sejarah Terjemahan Al-Qur'an Kementerian Agama

Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here