Abdul Qahir al-Baghdadi dan Puncak Penulisan Ilmu Kalam Mutakadimin

1
1471

BincangSyariah.Com – Abu Manshur Abdul Qahir al-Baghadi yang wafat pada tahun 429 Hijriyah merupakan salah satu ahli kalam Asy’ariyyah terkemuka. Al-Baghdadi terkenal di kalangan ahli hadis melalui karya al-Farq bain al-Firaq.

Karyanya ini menjelaskan pandangan sekte-sekte dan aliran-aliran dalam Islam berikut bantahannya terhadap mereka melalui bahasa-bahasa yang sedikit bombastis. al-Baghdadi ini memiliki banyak karya lain yang tak kalah menariknya dengan al-Farqu bain al-Firaq.

Dari sekian banyak karyanya ini, kitab Ushuluddin akan kita jadikan dalam tulisan ini sebagai fokus utama pembahasan.

Kitab ini dipilih karena menyajikan persoalan-persoalan yang menggayut dalam pemikiran Asy’ariyyah secara mendalam namun dikemas dengan ringkas. Pertimbangan lainnya juga karena kitab ini mencerminkan puncak manhaj mutaqaddimin dalam penyusunan bab-bab dan penyusunan bahasan-bahasannya. Adapun jika dilihat secara isi kitabnya, bahasannya tetap itu-itu saja yang menjadi concern utamanya.

Meski selalu mendukung pandangan Asyariyyah dalam membahas persoalan keyakinan dalam agama, al-Baghdadi melalui kitab ini menyajikan pandangan yang sangat sistematis yang mencerminkan secara jelas struktur dan susunan ilmu kalam menurut manhaj mutaqaddimin.

Al-Baghdadi berhasil menyajikan persoalan-persoalan ilmu kalam Asy’ariyyah sebagaimana yang dikenal di masanya dengan terstruktur jika memang tidak dikatakan sebagai sangat struktural. Dalam kata pengantarnya yang amat ringkas, al-Baghdadi mengatakan:

هذا كتاب ذكرنا فيه خمسة عشر أصلا من أصول الدين وشرحنا كل أصل منها بخمسة عشر مسألة من مسائل العدل والتوحيد والوعد والوعيد وما يليق بها من مسائل النبوات والمعجزات وشروط الإمامة والزعامة من الأولياء وأهل الكرامة، وأشرنا في كل مسألة منها إلى أصولها بالتحصيل دون التطويل ليكون مجموعها للعالم تذكرة وللمتعلم تبصرة.

“Kitab ini memuat lima belas prinsip keyakinan dalam Islam. Kami jelaskan lima belas persoalan di masing-masing prinsip keyakinan tersebut. Persoalan-persoalan tersebut meliputi persoalan keadilan, tauhid, janji dan ancaman, kenabian, mukjizat, syarat-syarat kepemimpinan para wali dan ahli karamah. Kami kembalikan pula setiap persoalan kepada prinsip dasarnya secara ringkas tanpa berpanjang kalam agar semua bahasan tersampaikan sehingga menjadi pengingat bagi seorang ulama dan penambah pemahaman bagi seorang pembelajar. ”

Baca Juga :  Kritik Al-Ghazali atas Kesalahpahaman dalam Memaknai Tauhid dan Ilmu Kalam

Berikut  elemen-elemen dasar yang membentuk struktur kitab Ushuluddin karya Abdul Qahir al-Jurjani ini:

Pertama, sebelum masuk kepada persoalan inti dalam ilmu kalam al-Baghdadi terlebih dahulu menjelaskan basis-basis rasional yang melandasi ilmu kalam. Dalam kitab ini basis-basis rasional tersebut disebut sebagai Bayan al-Haqa’iq wa al-Ulum.

Pembahasan mengenai hal ini biasa dilakukan oleh ulama mutaqaddimin dalam berbagai karya-karya mereka sebelum masuk ke inti persoalan. Anggap saja penjelasan di awal kitab ini sebagai deskripsi tentang metode yang akan digunakan dalam membahas ilmu kalam. Kalau kita berkaca ke ulama lainnya, penjelasan mengenai basis-basis rasional dan epistemic ini misalnya dikhususkan al-Baqilani dalam bab-bab pertama dari kitabnya yang berjudul at-Tamhid.

Abdul Jabbar al-Mu’tazili dalam kitab al-Mughni mengkhususkan jilid kedua belasnya untuk menjelaskan metodologi dalam ilmu kalam. Jilid kedua belas ini bisa dikatakan sebagai jilid paling tebal dibanding jilid-jilid lainnya. al-Baghdadi, seperti juga ulama lainnya, menyajikan definisi ilmu, bagian-bagiannya dan cara-cara pemerolehannya berdasarkan sudut pandangan mazhabnya, mazhab Asy’ariyyah.

Misalnya seperti pembahasan mengenai pengetahuan yang diperoleh melalui pencerapan inderawi, pengetahuan yang diperoleh melalui pencerapan rasio, ilmu-ilmu pasti dan ilmu-ilmu teoretis, khabar mutawatir, macam-macam khabar, ijma dan qiyas, ilmu yang hanya menjadi wilayah nalar dan ilmu yang hanya menjadi wilayah  syariat dan seterusnya. Bahasan ini semua terdapat dalam prinsip keyakinan pertama (al-aslul awwal).

Kedua, al-Baghdadi menjelaskan kebaharuan alam dalam kitab Ushuluddin. Kebaharuan alam ini merupakan persoalan kalam pertama yang menjadi dasar bagi manhaj mutaqaddimin. Untuk membuktikan kebaharuan alam semesta ini, para mutaqadimin menggunakan teori atomisme atau al-jawhar al-fard.

Dalam bagian ini, al-Baghdadi membahas persoalan-persoalan seperti permbahasan mengenai makna dan hakikat alam semesta, bahasan mengenai bagian-bagian terpisah yang membentuk alam ini, bahasan mengenai aksiden (a’radh),  bagian-bagian aksiden,  bagian-bagian kompleks semesta, bantahan terhadap hukum kausalitas, kebaharuan aksiden dan seterusnya. Semua ini dijelaskan dalam prinsip keyakinan kedua.

Baca Juga :  Kisah Raja Salih dan Anak-Anaknya yang Zuhud

Ketiga, al-Baghdadi membahas persoalan penting dalam ilmu kalam yang selalu menjadi topik hangat sampai saat ini seperti misalnya bahasan mengenai zat, sifat, asma dan af’al. dalam bagian ini juga al-Baghdadi menjelaskan persoalan af’al seperti tawallud dan doktrin kasb. Pembahasan ini terekam dalam prinsip keyakinan ketiga, keempat, kelima dan keenam dari kitabnya.

Keempat, al-Baghdadi juga menjelaskan mengenai konsep kenabian, mukjizat dan karamat. Dalam bagian ini, dibahas pula makna kenabian, risalah, kebolehan mengutus para nabi, bahasan mengenai keutamaan wali di atas para malaikat beserta ishmah mereka. Semua ini dibahas dalam prinsip keyakinan ketujuh dan kedelapan. Adapun prinsip keyakinan yang kesembilan, al-Bagdadi memasukkan persoalan seperti rukun Islam dan beberapa hukum syar’iat.

Kelima, al-Baghdadi juga membahas eskatologi (ukhrawiyat) dalam kitab Ushuluddin. Dalam kitab ini, al-Baghdadi menjelaskan tentang kefanaan entitas-entitas kebendaan, argumen  kefanaan makhluk, penjelasan mengenai surga dan neraka, penjelasan mengenai syafaat Nabi, jembatan Shiratal Mustaqim dan soal al-Mizan. al-Bagdadi membahas semua ini dalam prinsip keyakinan kesebelas. Adapun prinsip keyakinan kedua belas, yang dibahas ialah masalah iman, kufr, ketaatan dan kemaksiatan dan seterusnya.

Keenam, al-Baghdadi menjelaskan pula tentang imamah atau kepemimpinan dalam Islam. Penulisan mengenai al-imamah ini seolah menjadi bahasan wajib dalam berbagai karya-karya yang menjelaskan ilmu kalam. al-Bagdadi mengkritik konsep politik Syiah dan mengukuhkan teori kekhilafahan Sunni dan terkesan kritiknya ini didasarkan kepada reaksi terhadap teori imamah Syiah yang muncul lebih dulu ketimbang Sunni. Hal demikian dilakukan oleh al-Baghdadi dalam prinsip keyakinan ketiga belas.

Adapun dalam prinsip keyakinan keempat belas, al-Baghdadi mengkhususkan pembahasannya mengenai Bayan ahkam al-Ulama wa al-aimmah ‘hukum para ulama dan pemerintah’. Sebagian persoalan yang dikemukakan mengenai hal ini dimasukkan juga ke dalam bab mengenai imamah dan sebagian lainnya dikemukakan dalam bab-bab lainya.

Baca Juga :  Kisah Polemik Mengaji Sifat 20 di Medan dan Bukittinggi di Awal Abad ke-20

Terkait prinsip keyakinan kelima belas yang merupakan pembahasan terakhir, al-Baghdadi memfokuskan kajiannya mengenai konsep keimanan dan kekufuran serta pembahasan mengenai sekte-sekte bidah. al-Baghdadi membaca sekte-sekte di luar Sunni tersebut dalam bingkai aliran Asy’ariyyah.

Demikianlah komposisi utama bangunan pemikiran kalam menurut manhaj mutaqaddimin. Jika kita menelisik lebih jauh basis pemikirannya, akan terlihat bahwa ilmu kalam menurut manhaj mutaqaddimin terdiri dari dua substansi utama pembahasan: pertama, mekanisme dan basis-basis penalaran atau sebut saja metodologi penalaran kalam yang meliputi teori, konsep dan acuan pemikiran dan kedua, keyakinan agama.

Untuk yang pertama, yakni, mekanisme penalaran terbagi lagi menjadi dua bagian; bagian pertama berkenaan dengan teori pengetahuan, macam-macam pengetahuan dan metode pemerolehan pengetahuan. Sebut saja bagian pertama ini sebagai bagian yang membahas metode ilmu kalam. Sedangkan bagian kedua membahas tentang relasi alam dan manusia yang semuanya dibahas dalam kerangka teori jauhar fard (teori atomisme Islam).

Sementara untuk kategori kedua, yakni, keyakinan keagamaan, maka objek kajiannya berkenaan dengan zat, sifat, asma dan af’al, ma’ad, pahala dan siksa serta pembahasan mengenai imamah.

Mekanisme penalaran  dengan kedua bagiannya biasanya digunakan untuk membela pandangan tertentu, baik di kalangan mazhab sendiri  melawan pemikiran lainnya yang se-mazhab maupun untuk membela mazhab sendiri melawan mazhab lainnya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here