Abdul Mukmin bin Ali: Khalifah Pertama Dinasti Muwahhidun

1
645

BincangSyariah.Com – Penggagas pertama Dinasti Muwahhidun sebenarnya adalah Muhammad bin Tumart. Namun sebelum kewafatan Muhammad bin Tumart saat perang Bahira, ia sempat membaiat Abdul Mu’min bin Ali dan menjadikannya sebagai khalifah pertama Dinasti Muwahhidun. Maka jadilah khalifah pertama untuk orang-orang Muwahhidun adalah Abdul Mu’min bin Ali. Mereka menyebutnya sebagai khalifah karena mereka bercita-cita Kuntuk mewujudkan pemerintahan yang sepenuhnya menjalankan syariat. Ia resmi menjadi khalifah pertama pada tahun 1146 M.

Ia bernama lengkap Abdul Mu’min bin Ali bin Ali bin Makhluf bin Ya’la bin Marwan yang masih merupakan keturunan suku Amazig bangsa Berber. Ia lahir di kota Tagurat, Maroko pada tahun 1094 M. Abdul Mu’min tumbuh sebagai seorang yang sangat cinta terhadap ilmu pengetahuan sama seperti ayahnya. Saat itu ayahnya merupakan seorang pengrajin barang-barang pecah belah.

Sejarawan muslim, Abdul Wahid al-Marrakasyi mendeskripsikan bentuk fisik khalifah pertama ini. Ia menuturkan bahwa Abdul Mu’min bin Ali merupakan seorang yang berkulit putih, tubuhnya agak gemuk, rambutnya hitam lebat, posturnya tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu pendek, wajahnya cerah, suaranya mantap, kata-katanya fasih, dan disukai banyak orang. Sedangkan Muhammad bin Tumart memujinya dengan menulis beberapa bait syair, memujinya:

تكاملت فيك أخلاق خصصت فيها # فكلّنا بك مسرور ومختبط

فالسنّ ضاحكة والكفّ مانحة # والصدر منشرح والوجه منبسط

Lengkap sudah akhlak-akhlak mulia yang terhimpun pada dirimu

Dan kamu semua merasa bersuka cita

Aku melihat gigimu selalu tampak tersenyum, tanganmu selalu tampak berderma

Dadamu selalu lapang, dan mukamu selalu berseri-seri

Sedangkan adz-Dzahabi dalam kitab al-I’bar menjelaskan karakternya dengan menyebutkan bahwa Abdul Mu’min bin Ali adalah seorang raja yang adil, cermat, sangat kharismatik, bercita-cita tinggi, kuat beragama, budiman, dan dermawan. Gemar membaca Alquran. Sama sekali tidak mengenakan pakaian dari sutra yang umumnya dipakai oleh para pejabat. Tetapi di balik sikapnya yang demikian, ia juga bersifat kejam bagi siapa saja yang menentangnya.

Baca Juga :  Ada Apa dengan 10 Hari Pertama Zulhijjah?

Lain halnya dengan Ibnu Katsir yang menjelaskan sifatnya dalam kitab ­al-Bidayah wa an-Nihayah. Abdul Mu’min takkan segan membunuh orang yang tidak menjaga sholat fardu lima waktu. Jika terdengar azan berkumandang, ia akan segera bergegas menuju masjid. Bahkan sebelum azanpun ia juga akan berdesak-desakkan dengan orang-orang menuju masjid untuk sholat berjamaah. Abdul Mu’min menurut penuturan Ibnu Katsir adalah orang yang senang melakukan pertumpahan darah. Tentu, sikap seperti ini lahir dari kedekatannya dengan Muhammad bin Tumart.

Kecerdasan Abdul Mu’min sebenarnya membuat ia tak mudah begitu percaya atas pengakuan Muhammad bin Tumart sebagai al-Mahdi. Meski dengan menyinggung beberapa hadis dan melakukan narasi sedemikian rupa agar orang-orang percaya. Abdul Mu’min mempercayainya  karena banyak dari kaumnya yang percaya begitu saja dengan pengakuan Muhammad bin Tumart. Jika ia menolak pengakuannya secara terang-terangan, ia khawatir akan menimbulkan perpercahan di antara kaumnya.

Diceritakan oleh Abdul Wahid al-Marrakasyi yang dikutip oleh adz-Dzahabi dalam kita Siyar A’lam an-Nubala bahwa Abdul Mu’min bin Ali tiba di kota Salou, sebuah kota dekat Maghrib al-Aqsha, ia menyebrangi sungai lalu mendirikan tenda kemah di tepinya. Setelah mendapati dirinya dan kelompoknya yang berhasil menyebrangi sungai, ia bersujud kepada Allah sambil menangis dan berdoa.

Selain itu Abdul Mu’min bin Ali memiliki 16 putra, mereka adalah:

  1. Muhammad
  2. Ali
  3. Umar
  4. Yusuf
  5. Utsman
  6. Sulaiman
  7. Yahya
  8. Ismail
  9. Hasan
  10. Husain
  11. Abdullah
  12. Abdurrahman
  13. Isa
  14. Musa
  15. Ibrahim
  16. Ya’qub

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here