Abdul Malik Fadjar: Tokoh Pejuang Pendidikan dari Muhammadiyah

0
478

BincangSyariah.Com – Indonesia kembali berduka. Bangsa ini kehilangan seorang tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam membangun pendidikan di Indonesia yakni Abdul Malik Fadjar, sang guru dari Muhammadiyah.

Ia adalah sosok pengajar sekaligus politikus Indonesia yang religius. Ia dikenal sebagai Menteri Pendidikan Nasional pada masa Kabinet Gotong Royong kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Selain itu, ia juga dikenal juga sebagai sosok intelektual Muslim yang berilmu, rendah hati dan menginspirasi.

Abdul Malik dilahirkan di Jogjakarta pada 22 Februari 1939. Sang ibu bernama Salamah dan bapaknya bernama Fadjar Martodiharjo. Sejak kecil, Abdul Malik memiliki kegemaran membaca dan menimba ilmu. Keduanya adalah pedoman hidup yang selalu ia terapkan sejak kecil.

Bagi Abdul Malik, membaca adalah bagian yang tak terpisahkan dalam hidupnya. Tidak hanya membaca buku, ia juga memiliki kebiasaan membaca lebih dari sepuluh media cetak setiap pagi. Kebiasaan tersebut membentuk pemikiran dan komitmennya dalam membangun pendidikan Indonesia.

Pendidikan Sepanjang Hayat

Dalam satu kesempatan, saat diwawancarai Tokoh Indonesia, ia menyatakan bahwa mengatur manajemen pendidikan sama dengan mengatur manajemen masa depan yang berarti juga mengatur manajemen informasi. Orang yang bisa mengatur manajemen informasi, maka akan memperoleh keberhasilan yang lebih.

Bagi Abdul Malik, pendidikan adalah proses yang tak mengenal pemberhentian. Proses tersebut harus terus berlanjut sepanjang hidup. Baginya, masalah pendidikan Indonesia yang paling mendesak adalah bagaimana segera mewujudkan pendidikan yang lebih memanusiakan manusia.

Memanusiakan manusia yang dimaksud di sini adalah pendekatan pendidikan yang lebih humanis yang berarti ada keseimbangan antara head (rasio), heart (perasaan) dan hand. Bagi Abdul Malik, ketiganya harus saling bersinergi dan melibatkan keseluruhan unsur. Pelaksanaannya tidak bisa jalan sendiri-sendiri.

Baca Juga :  Kalender Masehi Tidak Sepenuhnya Milik Non-Muslim

Seusai menyelesaikan studi di Pendidikan Guru Agama Atas (PGAA), ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang dan berhasil meraih gelar sarjana pada 1972. Pada 1981, ia berhasil meraih gelar Master of Science di Department of Educational Research, Florida State University, Amerika Serikat.

Bagi Abdul Malik, pekerjaan guru adalah sebuah komitmen dalam hidup. Ia menjadi guru sejak tahun 1959. Pahit getir menjadi guru sudah pernah ia rasakan. Ia pernah berjalan kaki dan naik sepeda berkilo-kilo agar bisa mengajar. Ia merasa berdosa jika tidak masuk mengajar. Baginya, masih banyak guru yang baik dan memiliki kepedulian tinggi pada pendidikan Indonesia.

Ia mengawali karir sebagai pengajar dengan mengajar agama di SD Negeri Taliwang. Berkat kegigihannya, ia berhasil menjadi guru besar di IAIN Sunan Ampel setelah meraih gelar Master of Science selama kurang lebih 7 tahun.

Ia sempat menjadi Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sejak 1983 sampai 1984 dan dilanjutkan menjadi Rektor di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Unmuh Malang sampai tahun 2000. Saat menjadi Rektor, ia juga menjadi Menteri Agama Indonesia. Pada 2001, ia dipercaya lagi untuk menjadi Menteri Pendidikan Nasional dengan masa jabatan hingga 2004.

Abdul Malik menyatakan bahwa menjemput masa depan adalah sebuah proses. Peran seorang pendidik dibutuhkan untuk mengondisikan, baik di tengah keluarga, masyarakat ataupun secara formal di sekolah. Baginya, pendidikan sekolah dan pendidikan di rumah sudah menyatu sebagai entity. Oleh karena itu, pendidikan dalam hidup tidak pernah berakhir, Life Long Education.

Nabi Besar Muhammad Saw. sudah menyampaikan bahwa pendidikan dimulai dari bayi sampai liang lahat. Maka dari itu muncul istilah belajar sepanjang hayat, life long learning, pendidikan usia dini, dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Sidang Tanwir Muhammadiyah: Semangat Beragama yang Mencerahkan

Menjadi Inspirasi Munir

Abdul Malik Fadjar adalah sosok yang menginspirasi dan mengubah Munir dari pengalaman beragama yang radikal dan ekstrem. Pada pertengahan 1980, rezim Orde Baru merepresi Gerakan Islam melalui pemberlakuan Pancasila sebagai asas tunggal.

Dua produk kebijakan diantaranya adalah peristiwa Tanjung Priok 1984 dan Talangsari 1989. Dua peristiwa tersebut membentuk keadaan yang akhirnya melahirkan suasana kebatinan kalangan Islam yang merasa dipinggirkan dan ditindas.

Situasi tersebut membuat Munir, pejuang hak asasi manusia Indonesia, selalu membawa pisau dalam tasnya dan bersiap memerangi apa yang dibayangkannya sebagai musuh-musuh Islam. Sikap tersebut dianggap Malik Fadjar sikap beragama yang bodoh. Ungkapan “bodoh” ini membuat tubuh Munir langsung berkeringat di kota Malang yang dingin.

Atas nasehat Malik Fadjar, Munir kemudian membaca kembali Nilai Dasar Perjuangan (NDP) Himpunan Mahasiswa Islam. NDP adalah karya pemikiran Nurcholish Madjid. Dalam NDP dijelaskan bahwa Islam mendiagnosa adanya penindasan.

Setelah membaca kembali NDP, Munir akhirnya sadar bahwa Islam ada untuk membebaskan mereka yang tertindas. Kejadian itulah yang membuat Munir menjadi sosok yang reflektif dan akhirnya menjadi sosok yang humanis dan altruis.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here