Abdul Karim al-Jili, Pewaris Ilmu Kebatinan Ibnu Arabi

1
1093

BincangSyariah.Com – Abdul Karim al-Jili atau Abdul Karim Jili merupakan salah satu tokoh sufi terkemuka yang lahir pada tahun 1365 di wilayah  Jil, Baghdad Irak. Al-Jili juga salah satu keturunan Syeikh Abdul Kadir al-Jailani, pendiri tarikat Qadiriyyah. Meski data-data tentang kehidupannya sangat minim, para ahli sejarah menyebut bahwa Jili ini sering melakukan perjalanan ke berbagai penjuru dunia. Al-Jili menulis lebih dari dua puluh buku dan dari puluhan buku ini, yang terkenal ialah al-Insan al-Kamil.

Konon karyanya ini banyak dipengaruhi oleh gagasan-gagasan al-basyar al-kamil, al-kummal dan seterusnya yang banyak tertuang di kitab al-Futuhat al-Makkiyyah karya Ibnu Arabi. Jadi Abdul Karim al-Jili bisa dijuluki sebagai penafsir terbesar karya-karya Ibnu Arabi, dan mungkin, meski secara waktu berjauhan, beliau merupakan murid Ibnu Arabi secara kasyfi. Artinya, meski tidak bertemu secara langsung, Abdul Karim al-Jili berguru kepada ruhnya Ibnu Arabi.

Sama seperti gurunya, al-Jili banyak belajar mengenai dunia kesufiann terutama rahasia-rahasia penciptaan alam semesta ini dari kasyaf yang didapatkannya. Dalam kitab al-Insan al-Kamil, kita akan sering menemukan perjumpaan Abdul Karim al-Jili dengan malaikat-malaikat, arwah-arwah para nabi dan para wali, dan bahkan berjumpa langsung dengan seorang filosof Yunani, Plato.

Bahkan dalam cerita kasyafnya Abdul Karim al-Jili di kitab al-Insan al-Kamil ini, disebutkan bahwa Aristoteles yang merupakan murid terbesarnya Plato sering membantu nabi Khidr dan banyak menimba ilmu dan inspirasi darinya. Artinya Aristoteles merupakan murid bagi nabi Khidir dan itu artinya Aristoteles diklaim oleh al-Jili sebagai pengikut  dan murid ajaran kenabian.

Kendati banyak menimba inspirasinya dari Ibnu Arabi, kitab al-Insan al-Kamil tetap dianggap sebagai karya yang dihasilkan dari pengalaman unik pengarangnya, yang mungkin di sana sini ada cukup perbedaan yang signifikan dengan guru spiritualnya, Ibnu Arabi. Kedua-duanya sama-sama menegaskan bahwa pengetahuan tertinggi itu tidak bisa diperoleh melalui proses penalaran logis.

Baca Juga :  Apa Itu Hadis Hasan?

Pengetahuan tertinggi bagi al-Jili dan Ibnu Arabi hanya dapat dicapai melalui latihan spiritual yang terus menerus. Kedua-duanya juga sepakat bahwa benda-benda langit, atau benda-benda mati sebenarnya ialah benda yang hidup sama seperti kita. Al-Jili dan Ibnu Arabi percaya bahwa huruf alfabet merupakan makhluk hidup yang sama seperti manusia. di kalangan mereka diutus para nabi dan para rasul.

Namun keduanya berbeda soal teologi trinitas Kristen. Bagi Ibnu Arabi, trinitas ialah dasar eksistensi wujud sedangkan al-Jili tidak sampai mengatakan demikian. Hanya saja al-Jili sepakat dengan Ibnu Arabi soal bahwa agama Kristen juga masih terbilang sebagai agama tauhid, bukan syirik. Bagi al-Jili syriknya orang Kristen itu masih dalam koridor tauhid dan meski mereka berkeyakinan secara keliru, mereka tetap akan mendapat ampunan dari Allah SWT (akan kita perjelas nanti dalam artikel yang lain)

Abdul Karim al-Jili di dunia moderen memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap sosok filosof yang sekaligus sastrawan India yang bernama Muhammad Iqbal. Muhammad Iqbal menaruh banyak kekaguman pada konsep al-Insan al-Kamil yang diperkenalkan al-Jili dan yang ditimba inspirasinya dari teori al-Haqiqat al-Muhammadiyyahnya Ibnu Arabi. Allah A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here