Abdul Aziz bin Musa; Tokoh Muslim Penyempurna Pembebasan Portugal

0
97

BincangSyariah.Com – Kemampuan Abdul Aziz dalam bidang militer mengalir deras dari darah ayah dan kakeknya. Sang ayah, Musa bin Nusair merupakan panglima perang berpengalaman sekaligus Gubernur Afrika Utara yang  berkontribusi penuh atas penaklukan Spanyol.

Sedangkan sang kakek, Nusair bin Abdurrahman adalah tentara dibawah pimpinan Khalid bin Walid yang juga pernah bertugas sebagai pengawal khusus Muawiyah bin Abi Sufyan.

Dua penduhulunya memiliki ikatan kuat dengan keluarga Dinasti Umayyah. Maka tidak heran jika Abdul Aziz pun tumbuh berkembang di kalangan keluarga kerajaan tersebut. Secara tidak langsung hal ini membentuk kecerdasan serta kepribadian Abdul Aziz dalam menyikapi segala hal secara proporsional.

Meskipun termasuk dalam keluarga kerajaan, ia tetap mendapatkan pendidikan militer. Untuk memperkuat fisiknya ia diajari teknik menunggang kuda, memanah, berenang dan mengayunkan pedang.

Selain itu, ia juga mempelajari ilmu kemiliteran seperti pembuatan strategi perang,  pemilihan medan perang, trik berlindung dari serangan,  kemampuan melarikan diri, hingga teknik bertahan hidup dalam keadaan lapar dan haus. Ilmu – ilmu ini banyak ia serap terutama dari sang ayah selaku panglima militer Muslim yang sudah malang melintang ke berbagai wilayah.

Pada saat itu ilmu kemiliteran belum dibukukan sehingga diperlukan daya ingat yang kuat dan pengaplikasian langsung di lapangan. Untuk menambah pengalaman pemuda yang masuk dalam generasi Tabi’ut Tabi’in ini, pada tahun 93 H ia diikutsertakan oleh ayahnya dalam ekspedisi militer menuju Spanyol.

Pembebasan Portugal

Kedatangan Musa bin Nusair awalnya direncanakan untuk membantu melindungi jalur – jalur yang telah ditaklukan Tariq bin Ziyad. Hal tersebut bertujuan agar dapat mengurangi resiko serangan susulan dari kelompok Gothic. Namun, melihat situasi yang ada tugas tersebut  dialihkan kepada Abdul Aziz yang turut ikut dalam rombongan pasukannya.

Dalam perjalan berikutnya, meskipun Musa bin Nusair telah bekerja sama dengan Tariq bin Ziyad untuk menyebar pasukan guna memperluas wilayah, nyatanya hal tersebut belum cukup untuk menguasai seluruh area Andalusia. Terlihat masih ada sejumlah titik yang belum pernah dimasuki umat Islam sehingga masih dikuasai kerajaan Gothic.

Baca Juga :  Kisah Berhijab di Negeri Tiongkok dan Kisah Keramahan Penjual Lamian

Sisa – sisa pasukan kerajaan Gothic ini masih bersembunyi dan mulai menggalang kekuatan di wilayah yang dinilai aman dari jangkauan umat Islam salah satunya di barat Andalusia atau yang kini dikenal dengan nama Portugal.

Menurut Falih Handzal dalam karyanya al-‘Arab wal Burtughal fi Tarikh saat itu istilah Portugal belum dikenal baik dalam kamus bahasa Spanyol maupun Portugal. Oleh sebab itu, masyarakat Arab menyebutnya gharb (barat) karena terletak di barat Spanyol dan barat Sevilla yang kala itu menjadi ibu kota Spanyol.

Musa bin Nusair melihat bahwa letak Portugal sangat strategis dalam memperlancar upaya penaklukan seluruh kawasan Andalusia. Jika Portugal dapat dikuasai, setidaknya akan memudahkan pembebasan utara Spanyol sekaligus mengamankan rute perjalanan pasukan Muslim yang hendak kembali ke Damaskus. Selain itu, hal ini dinilai efektif untuk mendesak kekuatan kerajaan Gothic.

Begitu berpengaruhnya posisi Portugal, Musa segera mengutus Abdul Aziz untuk melakukan ekspedisi menuju wilayah tersebut mengingat lokasinya berada tidak terlalu jauh dari tempat Abdul Aziz menetap yakni di Beja, Portugal.

Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai tokoh pertama yang menaklukan Beja, apakah Musa bin Nusair atau putranya Abdul Aziz. Namun yang jelas, sosok Abdul Aziz inilah yang punya andil besar dalam menyempurnakan pembebasan Portugal.

Dalam ekspedisi yang berlangsung pada tahun 714/715 M ini, Abdul Aziz berhasil membebaskan sejumlah wilayah seperti Evora, Sanlarn, Caimbra hingga sampai ke ujung barat menuju Astorga. Berkat keberhasilannya ini, buku – buku sejarah Islam mencatatnya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam penaklukan Portugal.

Dalam kitab Qadat Fath Andalus, Mahmud Syit Khattab menerangkan bahwa saat menaklukan Portugal Abdul Aziz hanya dibekali pasukan khusus dalam jumlah yang sangat terbatas. Bala tentaranya kala itu terdiri dari pasukan berkuda terlatih yang mampu bergerak dengan cepat.

Baca Juga :  Asal-Usul Nama Nabi Adam dalam Bahasa Ibrani

Hal ini disebabkan kekuatan kerajaan Gothic di Portugal jauh lebih lemah dibanding pusat kekuatan mereka yang berada di area – area  pegunungan dan kota – kota terpencil di utara Spanyol. Maka untuk menaklukkan pusat komando ini baik Musa maupun Tariq memerlukan tenaga tentara Muslim dalam jumlah yang sangat besar. Sedangkan untuk Portugal, dirasa cukup dengan pasukan kecil saja.

Langkah – langkah Abdul Aziz saat lakukan pembebasan

Dalam menaklukan suatu wilayah, Abdul Aziz menerapkan langkah – langkah tertentu. Diantaranya : Pertama, mempersiapkan strategi sesuai situasi dan kondisi wilayah sasaran. Jadi sebelum melakukan ekspedisi Abdul Aziz mencari terlebih dahulu informasi baik mengenai  kekuatan pasukan musuh maupun kondisi geografis wilayahnya.

Kedua, menggunakan cara – cara yang baik seperti mengajukan kesepakatan damai guna meminimalisir kerugian kedua belah pihak terutama untuk menghindari jatuhnya korban jiwa. Sehingga memungkinkan kedua kubu hidup berdampingan. Ketiga, jika cara kedua tidak berhasil maka jalur yang ditempuh adalah dengan berperang.

Dalam catatan sejarah Islam, Abdul Aziz pernah melakukan kesepakatan dengan raja Theodemir. Theodemir setidaknya memegang tujuh kawasan di Tenggara Andalusia yaitu Oriehuela, Villena, Alicante, Mula, Bigastro, Ello dan Lorca. Hasilnya umat Islam dan masyarakat Spanyol non Muslim bisa hidup berdampingan secara damai di kawasan – kawasan tersebut, meskipun bersifat sementara.

Hal ini berbeda dengan yang terjadi di Portugal. Dimana kesepakatan tidak tercapai sehingga cara kedua perlu diambil. Namun, karena pertempuran ini tidak masuk dalam kategori peperangan besar maka jumlah kerugian pun tidak begitu besar.

Abdul Aziz dilantik sebagai gubernur Muslim pertama Spanyol

Walaupun Musa bin Nusair dan Tariq bin Ziyad adalah dua panglima perang yang memberikan sumbangsih besar terhadap penaklukan Spanyol, namun mereka berdua diminta untuk kembali ke Damaskus. Sedangkan jabatan gubernur dipercayakan kepada Abdul Aziz.

Baca Juga :  Daftar 6 Keluarga Besar Muslim yang Pernah Menduduki Portugal

Keputusan ini dibuat antara lain sebab putra Musa bin Nusair dinilai mempunyai wawasan luas soal kondisi sosial politik penduduk Spanyol. Pengetahuan ini tidak lain banyak didapatkan saat ia bergabung dalam korps militer Muslim.

Tercatat, dalam ekspedisi Spanyol ia berkontribusi dalam penaklukan wilayah Sevilla ke dua, dimana penaklukan  pertama telah dilakukan oleh Tariq bin Ziyad. Selain itu, ia juga menaklukan wilayah sekitarnya seperti Niebla dan Beja. Tidak berhenti sampai disitu Abdul Aziz diperintahkan ayahnya menuju Malaga, Elvira dan tujuh kawasan Tenggara Andalusia seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya.

Meskipun Musa telah memilih sejumlah pejabat ulungnya seperti Habib bin Abu Ubaidah al-Fihri untuk membantu kinerja Abdul Aziz. Namun, sorotan tajam dari para politisi tidak dapat dihindarkan. Hal ini umum terjadi di masa peralihan.

Tantangan besar Abdul Aziz dimulai saat Musa bin Nusair kembali ke Damaskus. Setidaknya ia digepit dari dua arah. Di satu sisi, ia perlu menetralkan situasi dengan munculnya lawan politik yang tidak menyukai dirinya sebagai pemimpin.

Disisi lain, ia juga perlu melindungi wilayahnya dari gempuran pasukan Gothic yang berupaya menggulingkan kekuasaan Muslim. Situasi ini diperparah dengan meletusnya sederet propaganda yang ditujukan kepada dirinya. Dengan keadaan demikian, Abdul Aziz hanya mampu mempertahankan jabatannya dalam kurun waktu sekitar dua tahun saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here