Abdul Aziz Ast-Tsa‘alabi; Sosok Ulama yang menjadi Pahlawan Kemerdekaan Tunisia

1
1104

BincangSyariah.Com – “Ketika masih kecil, aku melihat ibuku menangis. Lalu aku bertanya mengenai penyebabnya. Ibuku menjawab: Apakah kamu tidak melihat suku Frank (penduduk asli Perancis) melewati area sini? Mereka tidak akan keluar kecuali untuk berperang” Percakapan tersebut merupakan sepenggal kisah antara Ats-Tsa‘alabi kecil dengan ibunya. Menggambarkan kondisi negaranya, Tunisia saat sedang dijajah Perancis.

Sejak penjajah memasuki wilayah Tunisia, rakyat Tunisia tidak henti–hentinya melakukan perlawanan. Namun, karena hanya bermodalkan senjata tanpa ada perencanaan yang matang, membuat usaha mereka selalu kandas. Beda halnya dengan generasi selanjutnya. Mereka telah memahami tentang seluk-beluk politik dan kebangsaan. Mereka paham betul bahwa kemerdekaan tidak dapat diraih hanya dengan perjuangan fisik, tapi diperlukan juga tokoh-tokoh intelektual yang dapat membangun sebuah negara yang kuat melalui pemikiran-pemikirannya.

Di antara tokoh-tokoh tersebut yang paling menonjol adalah Abdul Aziz Ats-Tsa‘alabi (1874 M – 1944 M). Seorang anak yang terlahir dari keluarga religius dan berpendidikan. Sejak kecil ia sudah hafal Al-Qur’an. Adapun ayahnya, Abdurrahman Ats-Tsa’alabi merupakan pejuang dari Al-Jazair yang kemudian pindah ke Tunisia. (Jejak Islam di Dunia; Masyarakat Arab Bergaya Eropa)

Ats-Tsa’alabi menempuh pendidikan setingkat SMP dan SMA di Jami Zaitunah. Di sini ia dibekali ilmu–ilmu Islam, seperti fikih, hadis, etika, Al-Qur’an, sejarah, tafsir  dan lain-lain. Anak ini termasuk murid yang cerdas sehingga dapat memperoleh ijazah lebih cepat dibanding murid–murid pada umumnya. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Khalduniyah sebuah sekolah modern. Di madrasah ini selain mempelajari ilmu-ilmu Islam, ia juga mempelajari pengetahuan umum seperti kimia, fisika, matematika dan lain–lain. Dari sekolah ini, ia bertemu dengan guru sekaligus tokoh pembaharu Islam yaitu Salim Bou Hajib dan Ali Basyusyah.

Baca Juga :  Sejarah Penaklukan Tunisia di Masa Sahabat Nabi; Membutuhkan Waktu Lebih dari 30 Tahun

Selain cerdas, ia juga piawai dalam menulis. Di usia 16 tahun, ia sudah aktif menulis di koran al Mubasyer.  Kemudian di umur 19 tahun, ia menerbitkan majalah berbahasa Arab Sabil ar-Rasyad. Majalah tersebut berisi keadaan sosial politik negaranya serta gagasan – gagasan segarnya mengenai pembaharuan.

Pemahaman pembaharuan tersebut ia peroleh dari dua tokoh muslim lainnya, Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani. Sayangnya, setelah satu tahun diterbitkan, pemerintah Perancis menghentikan peredaran majalah tersebut dengan alasan keamanan. Penjajahan Perancis tidak berfokus pada eksploitasi kekayaan alam, tapi mereka lebih menekankan pada eksploitasi budaya dan identitas negara. Bahasa Perancis kemudian digunakan dalam instansi – instansi pendidikan dan pemerintahan. Akibatya penggunaan bahasa Perancis menjadi  lebih dominan dibanding penggunaan bahasa Arab.

Ats-Tsa‘alabi menilai hal tersebut merupakan sebuah ancaman terhadap identitas Muslim Tunisia. Untuk mencegah hal tersebut, tahun 1907 ia menyalurkan gagasan–gagasannya ke dalam sebuah organisasi pergerakan pemuda bernama “Harakat Syabab at-Tunisi” yang dilanjutkan dengan mendirikan Jamiyat al-Adab, sebuah organisasi yang berfokus pada pengembangan penggunaan bahasa Arab yang fasih.

Ats-Tsa‘alabi dikenal sebagai ahli politik. Tak jarang ia dijebloskan ke dalam penjara karna dianggap menjadi suatu ancaman bagi pihak penjajah. Namun, hal itu tidak membuatnya gentar. Ats-Tsa‘alabi meneruskan perjuangan kemerdekaan dengan menerbitkan sebuah buku fenomenal berjudul “Tunis asy-Syahida” berbahasa Prancis. Buku tersebut merupakan hasil analisisnya terhadap keadaan negara. Di dalamnya tertulis juga solusi serta nilai-nilai yang seharusnya ada disetiap diri manusia seperti kebebasan, toleransi dan keadilan.

Secara tidak langsung buku tersebut mengkritik pemerintah Perancis yang kerap kali melakukan intervensi terhadap wilayah internal pemerintah Tunisia. Tak lama setelah buku tersebut tersebar di Prancis, Ats-Tsaalabi ditangkap dengan tuduhan membahayakan keamanan. Kehadiran buku tersebut telah menginspirasi munculnya gerakan–gerakan kemerdekaan lainnya.

Baca Juga :  Nasihat Nabi kepada Fatimah yang Meminta Pembantu

Setelah bebas, ia berserta para elit politik lainnya mendirikan “Hizb Dusturi  Tunisi”. Gerakan ini nantinya sangat berperan terhadap keberhasilan rakyat Tunisia dalam meraih kemerdekaan. Ia wafat tahun 1944 M saat berusia 70 tahun, sebelum sempat merasakan kemerdekaan. Duabelas tahun pasca kepergiannya Tunisia berhasil  meraih kemerdekaan.

Berkat kegigihnya, Ats-Tsa’alabi dinobatkan sebagai tokoh pahlawan Nasional Tunisia. Selain berbakat dalam bidang politik, Ats-Tsa’alabi juga dikenal sebagai ulama Islam. Tercatat telah menerbitkan karya – karya Islami seperti Mu’jiz Muhammad Rasulullah dan kitab fenomenal Ruh at-Taharrur fil Quran ‘ruh pembebasan dalam Al-Qur’an’ yang mengundang  banyak pro-kontra di kalangan umat Muslim.

Artikel ini penulis ringkas dari Tunis asy-Syahidah karya Abdul Azizi Ats-Tsa’alabi dan tesis berjudul  Syakhsyiyah Abdul Aziz Ats-Tsa’alabi  karya Siham Bou Zid dan Nada Maqrud.

1 KOMENTAR

  1. […] Tak heran, wilayah yang dihuni oleh suku Barbar ini sudah terbiasa dengan hal – hal baru yang datang dari luar. Walupun saat itu kondisi sosial politik serta ekonomi masyarakat Barbar cukup lemah, hal itu  tidak lantas memudahkan pasukan Muslim untuk menguasai daerah tersebut. Tercatat sejarah bahwa penaklukan Tunisia membutuhkan waktu lebih dari tiga puluh tahun. (Baca: Abdul Aziz Ast-Tsa‘alabi; Sosok Ulama yang menjadi Pahlawan Kemerdekaan Tunisia) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here