Abbas bin Abdul Muthalib: Paman Sepermainan Nabi, Leluhur Dinasti Abbasiyah

0
1506

BincangSyariah.Com – Pada artikel biografi tentang Hamzah bin Abdul Muthalib telah disinggung bahwa hanya sedikit paman-paman Nabi yang membela dakwahnya. Selain Abu Thalib dan Hamzah, satu lagi paman yang berada dalam barisan pendukung Nabi adalah Abbas bin Abdul Muthalib. Namun berbeda dengan Hamzah yang sejak awal telah memeluk Islam, Muhammad al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala menuliskan bahwa Abbas baru masuk Islam setelah perang Badar.

Nama Abbas bisa dibilang cukup familiar di kalangan umat muslim. Terutama bagi mereka yang belajar sejarah kekhalifahan Islam. Karena satu di antara dinasti yang pernah berkuasa pada masa monarki Islam menjadikan Abbas sebagai nisbat. Ya, Dinasti Abbasiyyah adalah jawabannya. Dinasti Abbasiyyah ini dibentuk oleh Abu al-‘Abbas Abdullah bin Muhammad dan bergelar al-shaffah. Mendirikan kekuasaannya pada tahun 750 M. Bagaimana sebenarnya kisah hidup dari Abbas bin Abdul Muthalib ini? Artikel ini akan menguraikannya lebih lanjut.

Latar Belakang Keluarga

Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat al-Kubra mengutip riwayat dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, “Ayahku dilahirkan tiga tahun sebelum datangnya pasukan gajah.” Atau bisa diartikan pula bahwa Abbas tiga tahun lebih tua dari Nabi Muhammad Saw karena di tahun itulah Ia dilahirkan.

Abbas lahir dari pasangan Abdul Muthalib bin Hasyim dan Nutailah binti Janib. Menurut pendapat para sejarawan seperti Ibnu Ishaq, Nutailah adalah istri terakhir Abdul Muthalib, dan Abbas adalah anak bungsu Abdul Muthalib.

Anak tertua Abbas bernama al-Fadhl, karena itulah ia diberi julukan (kunyah) Abu al-Fadhl. Dalam catatan Ibnu Sa’ad dari istri pertamanya yang bernama Lubabah binti al-Harits bin Hazn, Abbas memiliki enam orang putra dan satu orang putri bernama: al-Fadhl, Abdullah, Ubaidillah, Abdurrahman, Qutsam, Ma’bad, dan Ummu Habibah. Dari istri bernama Ummu Walad, Abbas memiliki dua putra dan satu putri bernama Katsir, Tammam dan Shafiyyah. Kemudian dari istri bernama Hujailah binti Jundub, Abbas memiliki seorang putra bernama al-Harits. Berdasarkan catatan ini, bisa diketahui bahwa Abbas bin Abdul Muhtalib memiliki tiga istri dan tiga belas orang anak.

Baca Juga :  Belajar dari Kuburan

Masa Kecil Hingga Dewasa

Di masa kecil Abbas berada dalam asuhan langsung ayahnya Abdul Muthalib. Karena usianya yang tidak terlampau jauh, sejak Muhammad Saw menjadi yatim piatu dan berada dalam asuhan kakeknya, maka Abbas menjadi teman sepermainan Nabi Muhamamd. Keduanya tumbuh bersama dan dikenal sangat akrab dari kecil, remaja, hingga dewasa. Menurut Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyyah, karena keakraban tersebut seringkali ketika orang-orang mencari Muhammad Saw, mereka akan bertanya kepada Abbas.

Seperti orang-orang Quraisy pada umumnya, Abbas juga berprofesi sebagai pedagang. Bahkan ia termasuk sebagai salah satu saudagar sukses yang cukup kaya raya. Setelah Abu Thalib, Abbaslah yang bertanggung jawab untuk memasok makanan dan minuman bagi para jamaah yang datang untuk berhaji ke Mekah. Di masa-masa sulit kakak kandungnya, Abu Thalib, Abbas ikut membantu dengan mengasuh salah satu putra Abu Thalib bernama Ja’far, sebagaimana Nabi Muhammad Saw mengasuh Ali pada waktu itu.

Ketika Nabi Muhammad Saw telah diutus sebagai Rasulullah, Abbas bin Abdul Muthalib mendukung penuh kegiatan dakwahnya meskipun tidak secara langsung menyatakan keislamannya. Seperti Abu Thalib, al-Abbas turut menyokong Nabi Muhamamd Saw baik dalam segi moril maupun materil. Hal ini terbukti ketika terjadi embargo ekonomi dan boikot sosial di tahun ke-7 Kenabian, Abbas bin Abdul Muthalib beserta Bani Hasyiim lainnya ikut merasakan penderitaan bersama Nabi Muhammad dan para sahabat selama tiga tahun.

Mengikuti Perang Badar Bersama Quraisy 

Menurut pendapat Baladzuri dalam bukunya Ansab al-Asyraf ketika Pasukan Quraisy Mekah menuju Badar, Abbas bin Abdul Muthalib berada dalam barisan Quraisy untuk berperang melawan pasukan muslim. Menurut riwayat Baladzuri, Abbas dipaksa untuk ikut. Ia menulis surat kepada Rasulullah Saw untuk membocorkan informasi keberangkatan pasukan itu dan ia akan berusaha untuk membuat pasukan Quraisy kalah.

Baca Juga :  Karena Kejujuran Ayahnya, Anak Seorang Sahabat Nabi Selamat Nyawa

Ketika pasukan Quraisy kalah telak, masih menurut Baladzuri, Abbas menjadi salah satu tawanan perang. Pendapat ini diperkuat dengan catatan Ibnu Hisyam yang menyebutkan bahwa QS. al-Anfal ayat 70 tentang Abbas bin Abdul Muthalib.

Setelah bebas dari tawanan perang Badar, Abbas kemudian meminta izin untuk berhijrah  ke Madinah. Namun menurut Baladzuri, Nabi Muhammad belum mengizinkan Abbas untuk hijrah agar menjadi sumber informasi di lingkungan Quraisy Mekah. Abbas tidak menyia-nyiakan posisinya di Mekah, ia memberikan informasi seputar rencana Perang Uhud dan perang Khandaq. Baru ketika menjelang pembebasan kota Mekah (Fath al-Makkah) Abbas diperbolehkan untuk hijrah ke Madinah.

Kisah Masuk Islam

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan sejarawan terkait masuk Islamnya Abbas bin Abdul Muhtalib. Sebagian sejarawan seperti Baladzuri Abbas telah masuk Islam sejak awal dakwah Nabi Muhammad. Sedangkan sebagian lain ada yang berpendapat sebelum hijrah, sebelum perang Badar, setelah perang Badar tahun ke-3 H, dan ada pula yang mengatakan pada saat perang Khaibar tahun ke-7 H. Dari beberapa pendapat tersebut Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala menulis bahwa pendapat yang paling kuat adalah setelah perang Badar. Akan tetapi pendapat ini juga bertentangan dengan catatan Ibnu al-Atsir yang menulis bahwa alas an Rasulullah Saw melarang Abbas bin Abdul Muthalib dibunuh ketika Perang Badar adalah karena ia telah masuk Islam.

Wafat

Tidak seperti saudara kandungnya Hamzah, Abbas bin Abdul Muthalib dikaruniai usia yang panjang hingga mencapai 88 atau 89 tahun. Menurut Ibnu Sa’ad, Abbas meninggal pada tahun 32 H di masa kekhalifahan Usman bin Affan, tepatnya di Hari Jumat tanggal 14 Rajab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here