Abbad bin Bisyr; Sahabat Nabi yang Wafat Dinaungi Cahaya Allah

0
141

BincangSyariah.Com Nama lengkap beliau adalah Abbad bin Bisyr bin Waqsy Al-Asyhali Al-Khazraji. Allah yarham. Sebagaimana disebutkan dalam Al-A’lam karya Khairuddin bin Mahmud bin Muhammad az-Zirakli (w. 1396 H),  Abbad bin Bisyr terlahir pada tahun 33 sebelum hijriah dan meninggal dunia pada tahun 12 H di Yamamah.

Awal dari keislaman Abbad bin Bisyr dimulai ketika Mush’ab bin Umeir tiba di Madinah sebagai utusan Rasulullah SAW untuk mendakwahkan ajaran Islam kepada kelompok Anshor yang telah di bai’at. Dengan penuh keikhlasan, Abbad bin Bisyr selalu datang setiap saat Mush’ah bin Umeir menggelar kajian.

Di samping terkenal sebagai sosok yang tekun dalam beribadah, seorang dermawan yang rela berkorban segala yang dimilikinya, Abbad bin Bisyr juga terkenal sebagai seorang kesatria perang yang tangguh dan ahli dalam hal strategi perang.

Al-kisah, suatu saat, semenjak kepindahan Nabi Muhammad di Madinah, mulailah terjadi peperangan-demi peperangan untuk mempertahankan diri dari serangan kaum Quraisy dan sekutunya. Di antara  perang yang sempat diikuti oleh Abbad bin Bisyr adalah perang Dzatur Riqa’ dan Perang Yamamah.

Perang Dzatur Riqa’ merupakan perang melawan Bani Muharib, Bani Tsa’labah, dan Bani Ghatarah yang terjadi di dekat perkebunan kurma, sebelah utara daerah Khaibar, 100 km dari kota Madinah.

Mengingat jarak yang teramat jauh untuk kembali dan belum selesainya peperangan, Nabi Muhammad memutuskan untuk bermalam disana dan menunjuk beberapa kelompok untuk bergantian jaga. Di antara mereka yang terpilih adalah ‘Ammar bin Yasir dan Abbad bin Bisyr yang berada dalam satu kelompok.

Sementara yang lain mulai beristirahat, Ammar bin Yasir dan Abbad bin Bisyr bersiap-siap menempatkan posisi untuk jaga malam.  Namun demikian, melihat wajah Ammar bin Yasir yang teramat sangat lelah, Abbad bin Bisyr berinisiatif menawarkan kepada Ammar bin Yasir untuk sejenak beristirahat terlebih dahulu hingga sedikit memulihkan tenaganya.

Baca Juga :  Khawarij, Kaum Ekstrimis pada Masa Awal Islam

Setelah berjaga beberapa saat, dan terlihat kondisi masih aman, Abbad bin Bisyr memutuskan melaksanakan beberapa raka’at shalat sunnah. “Dengan melaksanakan beberapa raka’at shalat sunnah, semoga Allah melipatgandakan pahalaku”, gumam Abbad bin Bisyr dalam hati.

Tanpa di sangka, beberapa saat setelah Abbad bin Bisyr selesai membaca surat al-Fatihah pada raka’at yang kedua, anak panah dengan cepat menghujam deras di pangkal lengannya. Dengan menahan rasa sakit, Abbad bin Bisyr kemudian mencabut anak panah tersebut dan tetap menjalankan shalatnya.

Tidak lama setelah itu, untuk yang kedua kalinya, anak panah kembali menghujam tepat di badannya. Seperti halnya yang terjadi pada anak panah yang pertama, Abbad bin Bisyr kembali mencabut anak panah yang kedua dan tetap menjalankan shalatnya.

Dan untuk yang ketiga kalinya, panah kembali menghujam tepat di badan Abbad bin Bisyr. Hal yang sama terjadi lagi. Bukannya membatalkan shalat untuk membangunkan Ammar bin Yasir, Abbad bin Bisyr justru kembali mencabut anak panah tersebut dan kembali melanjutkan shalatnya dengan menahan rasa sakit yang luar biasa.

Dengan segenap sisa tenaga yang dimiliki, saat Abbad bin Bisyr sedang sujud, diulurkan tangannya menggapai Ammar bin Yasir hingga terbangun dan kembali melanjutkan shalatnya hingga selesai.

Setelah Ammar bin Yasir terbangun dari tidurnya, dan dilihatnya Abbad bin Bisyr merintih menahan rasa sakit, Ammar bin Yasir menghambur dari tidurnya hingga menimbulkan kegaduhan membuat musuh kembali mundur. “Subhanallah! Mengapa engkau tidak membangunkan saya ketika engkau di panah yang pertama tadi?”, ujar Ammar.

“Ketika saya sedang shalat, saya membaca beberapa ayat Al-Qur’an yang sangat mengharukan hatiku, hingga rasanya tidak ingin mengakhirinya. Dan demi Allah, saya tidak menyianyiakan pos penjagaan tersebut. Saya lebih memilih mati daripada memutuskan bacaan yang saya baca tadi”, jawab Abbad menahan rasa sakit.

Baca Juga :  Sa’ad bin al-Rabi’: Pejuang Uhud Hingga Titik Darah Penghabisan

Disertai Cahaya Allah Ketika Meninggal Dunia

Setelah Sepeninggal Nabi Muhammad wafat, era baru dimulai. Peperangan demi peperangan yang semula hanya berhadapan dengan kaum kafir Quraisy dan sekutunya, maka sepeninggal Nabi Muhammad, peperangan juga terjadi di antara sesama muslim yang murtad.

Meskipun sudah berumur cukup tua, sebagai orang terkenal dalam hal ketangguhan, juga keahliannya dalam hal strategi, dan juga kecintaannya yang sangat besar kepada Allah dan Rasul-Nya, Abbad bin Bisyr merasa  memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk ikut serta menumpas segala kemurtadan yang ada.

Selain karena faktor di atas, keikutsertaan Abbad bin Bisyr dalam menumpas segala bentuk kemurtadan yang ada juga berlandaskan pada pidato yang pernah disampaikan Nabi Muhammad. Kurang lebih begini sabdanya: “Hai golongan Anshar! Kalian adalah inti, sedang golongan lain bagaikan kulit ari! Maka menjadi tidak mungkin aku dicederai oleh kalian!”.

Sehari sebelum terjadinya Perang Yamamah, yakni perang antara Khalifah Abu Bakar melawan Musailamah al-Kazzab (632 M), Abbad bin Bisyr mengalami mimpi yang cukup mengejutkan. Dalam mimpinya, Abbad bin Bisyr melihat pertempuran yang sangat sengit akan dihadapkan kepada kaum muslimin dan dibukanya langit untuknya dan kemudian tertutup kembali.

Dan waktu yang ditunggu pun tiba. Abbad bin Bisyr yang dengan penuh keyakinan berangkat untuk menumpas kemurtadan dalam Perang Yamamah. “Pecahkan sarung-sarung pedangmu dan tunjukkanlah kelebihan kalian!”, seru Abbad bin Bisyr kepada kaum Anshar.

Sesaat setelah berkata demikian, Abbad bin Bisyr bersama Abu Dajanah dan Barra bin Malik—Allah yarham—mengerahkan sebanyak 400 pasukan dari golongan kaum Anshar menuju taman bunga, benteng pertahanan pasukan Musailamah al-Kazzab.

Melihat neraca pertempuran yang tidak seimbang, Abbad bin Bisyr sempat merasa goyah. Namun itu hanya sesaat. Teringatlah dalam fikiran Abbad bin Bisyr tentang perkataan Nabi Muhammad dahulu, “Kalian adalah inti! Maka tidak mungkin saya dicederai oleh kalian!”.

Baca Juga :  Manfaat Bercelak dalam Islam

Kalimat itu memenuhi seluruh rongga tubuh Abbad bin Bisyr. Dengan penuh semangat, Abbad bin Bisyr kemudian bergegas menaiki sebuah bukit dan kembali menyerukan kepada kaum Anshar, “Hai golongan Anshar! Pecahkan sarung-sarung pedangmu, dan tunjukkanlah keistimewaanmu dibandingkan kelompok lainnya!”.

Mendengar hal tersebut, berkobarlah api semangat yang membara pada seluruh prajurit kaum Anshar. Abbad bin Bisyr dan para prajurit bertempur habis-habisan sebagai seorang Mu’min dari golongan Anshar yang membaktikan seluruh hidup dan matinya di jalan Allah dan juga sebagai seorang lelaki sejati.

Dan mimpinya menjadi kenyataan. Setelah bertempur dengan sengit dan cukup lama, peperangan tersebut berakhir dengan kemenangan kaum muslimin atas pasukan pemberontakan Musailamah al-Kazzab.

Dan di hari yang mulia tersebut, Abbad bin Bisyr menemui syahidnya penuh dengan sambaran pedang di wajah dan badannya. Tidak lama setelah itu, akibat ketekunannya dalam beribadah, ketulusannya dalam membaktikan diri kepada Allah dan Rasul-Nya, terlihatlah langit membuka pintunya dengan gembira menyambut roh Abbad bin Bisyr yang penuh cahaya Allah.

Melalui kisah Abbad bin Bisyr, memberikan kesan bahwa barang siapa yang menanam kebaikan niscaya kelak ia akan mendapatkan kebaikan pula. Semoga kita termasuk golongan umat yang senantiasa demikian, amin.

Wallahu’alam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here