Sembilan Nasihat K.H. Muslim Rifai Imampuro, Pencetus Slogan “NKRI Harga Mati

0
278

BincangSyariah.Com – Pelajaran-pelajaran KH Muslim Rifa’i Imampuro atau Mbah Liem (alm) yang disampaikan di sini saya kutip dari tulisan yang ada di kalender Yayasan Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti yang menurut saya sangat-sangat penting dan saya anggap sebuah pelajaran penting dari Mbah Liem.

Saya berharap dan berdoa semoga saya dan saudara semua pun bisa meneladani pelajaran-pelajaran tersebut, selain dari kutipan tulisan di kalender saya juga menulis pelajaran-pelajaran Mbah Liem dari sumber lain.

Mbah Liem dalam cerita para santri baik dari santri 5 atau yang disebut Mbah Liem sebagai Pendowo Limo maupun dari cerita santri senior yang lain seperti KH Muhaimin Yogyakarta dan dari apa yang sedikit saya saksikan sejak tahun 2008 akhir hingga wafatnya beliau. Mbah Liem memang tidak pernah membacakan sebuah kitab kepada para santrinya melainkan beliau langsung mengajarkan dengan ilmu hal atau memberi contoh langsung.

Ajaran-ajaran Mbah Liem tersebut yaitu:

1. “Nguwongke Uwong, Gawe Legane Uwong.” Mbah Liem selalu menghargai dan menerima setiap orang dengan segala potensi dan niat baiknya. Kalaupun kita tidak membutuhkan, mungkin manfaatnya bisa dirasakan keluarga, tetangga atau masyarakat kita. Contohnya setiap kali ada tamu, baik pejabat maupun tokoh yang lain, Mbah Liem selalu menyambut dengan hangat siapapun orangnya dan Mbah Liem tidak lupa memberikan ruang interaksi untuk mendekatkan pejabat/tokoh dengan masyarakat.

2. “3 T“: Titi – Tatak – Tutuk. Mbah Liem mengajarkan saat melaksanakan setiap tugas dalam hidup, haruslah titi (cermat, teliti dan selektif), tatak (legowo, sabar), sehingga tutuk (sampai, selesai dengan hasil yang memuaskan).

3. “3 K “: Kuli – Kiai – Komando. Setiap santri haruslah mampu memerankan diri sebagai Kuli (siap bekerja keras), Kiai (siap mengamalkan ilmu dan berdoa), Komando (siap menjadi pemimpin yang piawai mengambil keputusan, bijak serta berwibawa)

Baca Juga :  Ketika Mendiang K.H. Ali Mustafa Yaqub Mengingat Kematian

4. “Kita harus Tegak, Tegas dan Tegar selama benar “  setiap melaksanakan kebenaran kita harus Tegak (penuh keyakinan, tidak goyah oleh pengaruh apapun), Tegar (tak kenal kompromi terhadap pelanggaran aturan), Tegar (Ikhlas, Sabar)

5. “3 R “: Rampung bangunane – Rame jama’ahe – Rukun masyarakate “. Dalam mendirikan sarana apapun ada 3 hal yang harus diupayakan yakni “Rampung bangunane“ (bisa terwujud), Rame jamaahe (berfungsi dan dibutuhkan para pemangku kepentingan), Rukun masyarakate (menjadi sumber kedamaian dan perekat persatuan)

6. “Aja Mung Benteng Ulama, ning Nahnu Anshorullah, Masyriq-maghrib“ di samping peranya sebagai Benteng Ulama, Banser seharusnya mampu menjalankan peran yang lebih luas di seluruh permukaan bumi, dalam bingkai “Nahnu Anshorulloh”.

No  1 – 6 penulis kutip dari kalender.

7.     “ 3 S “:  Sholat – Sinau – Sungkem. Maksudnya  “ Sholat “ Seorang santri harus tekun beribadah, prihatin dan berdoa.  “ Sinau “ santri harus belajar terus menerus. “ Sungkem “santri harus mempunyai akhlak yang mulia, tau sopan santun, tawadhu’ pada Kyai/Guru.

8.   “ 2 B “ Berhasil – Berkah . dalam mencapai cita – cita/usaha  harus mempunyai komitmen yang kuat agar tercapai yang di inginkan,”  Berkah “setiap cita–cita/ usaha harus dimulai dengan niat ibadah (niat baik) agar mendapat keberkahan dari Allah Swt.

(No 7–8 sumber dari Umi Hasanah Santri pertama MA Al Muttaqien Pancasila Sakti)

9. “ Dadi uwong ki ojo gur mangan terus tapi yo Ngising barang” (Jadi orang itu jangan hanya makan aja tapi ya buang air besar juga). Kita tidak boleh hanya melulu mencari harta terus tapi kita juga harus rajin bersedekah. (sumber dari Umi Hasanah dari Hj Siti Choiriyah putri pertama Mbah Liem).

Baca Juga :  Meningkatnya Animo Berinvestasi di Negara Muslim

Selanjutnya saya tulis juga tiga kebiasaan Mbah Liem.

1. Setiap bertemu dengan orang lain, di manapun selalu mendoakan dengan uluk salam “Assalamu’alaikum!“

2. Dalam perjalanan setiap kali bertemu dengan makam dan sungai, beliau selalu membaca Fatihah kepada ahli kubur dan Fatihah kepada Nabiyullah Khidzir as.

3. Jika berpapasan dengan pelajar/mahasiswa, beliau selalu mendoakan “saleh, salehah penerus”.

Selain itu saya mendengar pemaparan Pak Haji Danun (santri/sopir mbah Liem) setiap mau berangkat perjalanan silaturrahmi ke manapun Mbah Liem selalu berkata “niate silaturrahmi, ngubengi RI untuk mendoakan NKRI Pancasila agar AMD Aman, Makmur, Damai. Dan di dalam mobil Mbah Liem selalu mengajak zikir dan salawat di sepanjang perjalanan.

Subhanallah semoga kita bisa meneladani ajaran beliau. al-Fatihah

Ali Mahbub, Pengajar Bahasa Arab dan Ke-NU-an MA Al-Muttaqien Pancasila Sakti

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di nu.or.id



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here