6 Karamah Ali Bin Abi Thalib

0
391

BincangSyariah.Com – Nama Sahabat Ali adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdil Muthallib bin Hasyim al-Hasyimiy, berjuluk Abu Turab, Abu Raihanatain, Abu al-Hasanain, Ash-Shiddiq al-Akbar, dan Haidarah. Dia adalah putra paman Nabi, sekaligus suami putri tercinta Nabi, laki-laki pertama yang memeluk islam, dan salah satu dari sepuluh orang yang diberi khabar gembira sebagai ahli surga. Di masanya, dia adalah manusia terbaik yang hidup di muka bumi. (Baca: 5 Karamah Sahabat Abu Bakar al-Shiddiq)

Sebagai sahabat dekat Nabi Muhammad, Ali memiliki banyak keistimewaan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Ali adalah sahabat yang paling dicintai Allah. Suatu hari di dekat Nabi ada seekor burung, lalu beliau bersabda, “Ya Allah, semoga Engkau mendatangkan kepadaku makhluk yang paling Engkau cintai, agar dia bisa memakan burung ini bersamaku,” maka datanglah Ali bin Abi Thalib yang kemudian makan bersama Nabi. (Baca: 5 Karamah Umar bin Khattab)

Ali memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Nabi, sampai-sampai Nabi bersabda, “Kedudukan Ali bagiku seperti kepala dari tubuhku.” Dalam kesempatan lain Nabi bersabda, “Kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada lagi Nabi setelahku.” (Baca: 5 Karamah Sahabat Usman bin Affan)

Ali bin Abi Thalib memiliki banyak karamah, berikut adalah enam karamah Ali bin Abi Thalib:

Pertama, dikisahkan oleh Fahruddi ar-Razi dalam tafsir Mafatih al-Ghaib: Suatu hari, salah seorang muhibbin (pecinta) sayyidina Ali melakukan pencurian, dia adalah seorang budak hitam. Ia pun dihadapkan pada Ali dan ditanya, “Apakah engkau mencuri?”. “Benar”, jawabnya.

Ali kemudian memotong tangannya. Setelah itu, ia pergi jauh dari Ali dan bertemu dengan Salman al-Farisi dan Ibnu al-Kira. Ibnu al-Kira lantas bertanya, “Siapa yang telah memotong tanganmu?”

Baca Juga :  Kisah Umar Dimarahi Istri

Kemudian dijawab, “Yang memotong tanganku adalah amirul mukminin, ya’subul muslimin (ya’sub: lebah jantan atau raja lebah), khatnur Rasul (menantu Rasul), dan suami Fatimah al-Batul. Ibnu al-Kira merasa heran, “Ali telah memotong tanganmu, tapi engkau malah menyanjungnya.”

Budak itu menjawab, “Bagaimana aku tidak menyanjungnya karena dia telah memotong tanganku dengan cara yang haq, dan telah menyelamatkan diriku dari api neraka. Salman yang mendengar percakapan kedua orang itu lantas bercerita pada Ali. Ali pun memangggil budak hitam tersebut dan menempelkan tangan yang telah terputus pada lengannya, lalu ditutup dengan saputangan.

Setelah itu, Ali memanjatkan beberapa doa. Tidak lama kemudian, kami mendengar suara dari langit, “Bukalah kain itu dari tangannya.” Kami pun membukanya dan dengan izin Allah tangan tersebut sembuh seperti semula.

Kedua, dalam Riyadh an-Nudhrah dikisahkan dari al-Asbagh, ia berkata: Kami sedang pergi bersama Ali dan melewati sebuah tempat yang kelak akan menjadi makam Husain (di Karbala). Ali berkata, “di sana tempat menderumnya kendaraan mereka, di sana tempat pelana unta mereka, dan di sana tempat ditumpahkannya darah mereka. Beberapa pemuda dari keluarga Nabi Muhammad SAW. akan dibunuh disebabkan bencana yang dahsyat ini, langit dan bumi akan menangis atas kejadian tersebut.

Apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib menjadi kenyataan, perselisihan kekhalifahan yang terjadi di tengah kaum muslimin, pada akhirnya mengakibatkan terbunuhnya Husain dan keluarganya pada perang Karbala tanggal 10 Muharram 61 H. / 680 M.

Ketiga, diceritakan dari ja’far bin Muhammad dari ayahnya, ia mengisahkan: ada dua orang pria dihadapkan pada Ali bin Abi Thalib karena sengketa, sementara Ali duduk di dasar tembok. Salah satunya tiba-tiba mengingatkannya, “Wahai Amirul Mukminin, temboknya roboh.” Ali dengan tenang menjawab, “Teruskan saja, cukuplah Allah sebagai pelindung.” Ali kemudian menyampaikan keputusan hukum untuk keduanya, setelah itu beranjak pergi, seketika tembok pun langsung runtuh.

Baca Juga :  Ibn Hazm Mengaji pada Perempuan

Keempat, diceritakan dari Ali bin Zadan: Suatu hari Ali bin Abi Thalib menyampaikan sesuatu, saat itu ada seorang yang tidak mempercayainya. Ali kemudian berkata: “Bolehkah aku mendoakan sial untukmu jika engkau yang benar?” orang itu menjawab, “Ya boleh”. Ali kemudian mendoakan kesialan untuknya, dan doa itu langsung terkabul, sebelum Ali beranjak dari tempatnya, orang itu telah kehilangan penglihatannya.

Kelima, diceritakan dari Abu Dzar: Rasulullah SAW mengutusku untuk memanggil Ali. Aku bergegas menuju rumahnya dan memanggil-manggil, tetapi Ali tidak menjawab. Aku kemudian kembali dan memberi tahu Rasulullah. Rasul pun bersabda, “Kembalilah sekali lagi, panggillah dia, sesungguhnya ia ada di dalam rumah”. Aku lantas kembali dan memanggi-manggil Ali.

Tiba-tiba dari dalam terdengar suara gilingan yang sedang menumbuk, aku kemudian melihat dari atas, ternyata memang ada gilingan yang sedang menumbuk, tetapi tidak ada seorang pun di sana. Aku kembali memanggil-manggil Ali. Dia kemudian keluar menemuiku dengan sangat senang. Aku lantas berkata padanya, “Sesungguhnya Rasulullah memanggimu.”

Ali segera datang menemui Nabi. Di hadapan Nabi, tidak henti-hentinya aku memandang beliau, Nabi juga memandangku. Lalu Nabi bertanya, “Wahai Abu Dzar apa yang terjadi padamu?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah aku heran dengan kejadian yang ajaib, aku melihat gilingan yang bisa menumbuk sendiri di Rumah Ali, sementara tidak ada seorang pun di sana.” Rasul bersabda, “Wahai Abu Dzar, Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang selalu berjalan di atas muka bumi, mereka telah ditugaskan untuk mengurus kebutuhan keluarga Muhammad SAW.”

Keenam, diceritakan dari Fadhalah bi Abi Fadhalah: ayahnya pernah menjenguk Ali RA. yang sedang sakit dan ingin membawanya ke Madinah, agar ketika meninggal bisa diurus dan disalati oleh para sahabat. Tetapi Ali tidak berkenan dan mengatakan: “Aku tidak akan meninggal karena sakit ini, sesungguhnya Rasulullah SAW telah berjanji padaku, bahwa aku tidak akan meninggal sebelum ditikam, dan (jenggotku) ini diwarnai (dengan darah) yang berasal dari kepalaku.

Baca Juga :  Keutamaan Membaca Surah Al-Infithar; Selamat di Hari Kiamat

Perkataan Ali menjadi kenyataan, ia meninggal sebab tikaman pedang Abdurrahman bin Muljam, penganut Khawarij yang menyimpan kebencian padanya. Ibnu Muljam menyerang Ali saat mengimami shalat subuh hari Jum’at, 17 Ramadhan, tahun 40 H. hari itu juga ia meninggal dan malam harinya dimakamkan di Kufah. Meninggal di usia enam puluh tiga tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here