5 Unsur Dasar yang Harus Ada di Pondok Pesantren

0
1330

BincangSyariah.Com – Pesantren di Indonesia memiliki karakter yang tidak sama dengan lembaga pendidikan lainnya. M. Afif Hasan dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam mengatakan, negara-negara Islam atau negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tidak memiliki lembaga pendidikan seperti pesantren yang kita miliki ini; yakni yang mencirikan minimal 5 unsur: kiai, santri, pengajian kitab kuning, masjid, dan asrama/pondok santri. Kekhasan pesantren ini menarik minat peneliti untuk mengadakan penelitian. Tidak hanya peneliti dalam negeri melainkan juga dari luar negeri.

Menurut Prof. Dr. Abd. Halim Soebaihar, MA dalam Modernisasi Pesantren, pesantren pertama kali dirintis oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1399. Selanjutnya, Raden Rahmat (Sunan Ampel) mendirikan dan mengembangkan pesantren yang kemudian diikuti oleh putra dan para santrinya. Pada masa itu pesantren hanyalah media islamisasi yang memadukan tiga unsur, yaitu ibadah untuk menanamkan iman, tabligh untuk menyebarkan Islam, dan ilmu serta amal untuk mewujudkan kegiatan sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat (Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren).

Dalam perjalanannya, pesantren terus mengalami perkembangan. Usaha ini dilakukan agar pesantren mampu konsisten menjawab tantangan zaman utamanya problematika hidup dalam beragama. Meskipun banyak berinovasi, pola kehidupan pesantren tetaplah sama; berpegang pada prinsip kemandian, kesederhanaan, dan keikhlasan.

Aktualusasi kemandirian pesantren bisa dilihat dari bagaimana santri menjalani kehidupan di pesantren. Mereka mencuci baju sendiri, menanak nasi sendiri, dan hal lain yang biasanya dikerjakan oleh seorang Ibu dikerjakan sendiri oleh santri. Orang tua memberikan sejumlah uang kepada anaknya (biasanya tiap bulan) dan anaknya yang nyantri mengatur keuangannya agar cukup hingga kiriman berikutnya. Bahkan pesantren sendiri berdiri tanpa bantuan pemerintah bahkan berlannjut hingga pesantren berkembang dan maju.

Baca Juga :  Mengenal Budaya Mengelana Ulama Mencari Ilmu

Kesederhanaan pesantren juga bisa kita lihat pada kehidupan santri. Lauk pauk yang dimakan hanya tahu dan tempe. Pakaiannya hanya beberapa dan itu-itu saja. Sebab beberapa pesantren membatasi santrinya membawa pakaian banyak. Harga sarung yang dipakai biasanya juga dibatasi dan dilarang memakai sarung bermerk. Aturan ini tidak lain agar santri belajar hidup sederhana.

Pola kehidupan di pesantren yang tak kalah penting adalah keikhlasan. Kiai dan para ustadz tidak mengharapkan imbalan atas jerih payahnya mengajar. Pun para santri saat membantu pekerjaann di dhelem (kediaman Kiai) juga tidak akan mendapatkan apa-apa. Selain karena tawaddu’ pada guru, hal ini juga sebagai media pembelajaran bagi santri agar bekerja ikhlas. Pembiasaan bekerja ikhlas diharapkan menjadi kebiasaan, tidak hanya waktu di pesantren melainkan juga ketika terjun di masyarakat kelak.

Ketiga prinsip kehidupan pesantren ini adalah keunikan dan kelebihan pesantren dibadingkan dengan lembaga pendidikan lainnya. Wallahu taala a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here