5 Karamah Sahabat Abu Bakar al-Shiddiq

2
1729

BincangSyariah.Com – Nama lengkap sahabat Abu Bakar adalah Abdullah bin Utsman (Abi Quhâfah) bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad bin Taim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi. Nasabnya bertemu dengan Nabi pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Abu Bakar adalah shahabat Rasulullah yang setia menemani Rasulullah sejak awal kerasulan, beliau termasuk sahabat yang awal masuk Islam. Memiliki julukan ash-Shiddiq dan Atiq, dijuluki ash-Shiddiq karena ketika terjadi isra-mikraj, ia langsung membenarkan peristiwa tersebut, sementara orang-orang kafir tidak mempercayainya. Dijuluki Atiq karena suatu hari Nabi pernah bersabda pada beliau, “Anta atiqun min an-nar” ‘engkau adalah orang yang dimerdekakan Allah dari api neraka’.

Ia juga adalah sahabat yang paling loyal dan paling tulus dalam bersahabat dengan Nabi, sehingga Nabi sering memberikan sanjungan padanya, di antaranya adalah sabda Nabi saat sakit menjelang wafat: “Sesungguhnya orang yang paling banyak memberikan perlindungan kepadaku dengan diri dan hartanya adalah Abu Bakar. Andaikan aku boleh mengambil seorang kekasih (khalîl), niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Tetapi persaudaraan Islam itu lebih utama. Tutuplah dariku semua pintu kecil dalam masjid ini, kecuali pintu Abu Bakar.” (HR. Bukhari) (Baca: Firasat dalam Hadis Nabi Menurut Ibnu Athaillah)

Abu Bakar adalah sahabat yang paling dicintai Baginda Nabi, sebagaimana diceritakan oleh Amru bin al-Ash radhiyallahu`anhu, bahwa Rasulullah mengutusnya atas pasukan Dzatus Salâsil : “Aku lalu mendatangi beliau dan bertanya: “Siapa manusia yang paling engkau cintai?” beliau bersabda: “Aisyah” aku bertanya lagi: “Kalau dari lelaki?” beliau menjawab: “Ayahnya (Abu Bakar)” aku berkata: “Lalu siapa?” beliau menjawab: “Umar” lalu menyebutkan beberapa orang lelaki.” (HR. Bukhari).

Sebagai sahabat pilihan, Abu Bakar memiliki beberapa karamah yang kisahnya diabadikan dalam karya para ulama masa lampau, dia antaranya ditulis oleh Imam Malik dalam kitab al-Muwaththa dari sayyidah Aisyah, sebagaimana berikut: Abu bakar memberi Aisyah buah kurma sebanyak dua puluh wasaq dari harta beliau yang ada di Ghabah ‘hutan’.

Baca Juga :  Ketika Umar bin Khattab Menangis di Hadapan Rasulullah

Menjelang wafatnya, Abu Bakar berkata: “Wahai putriku, sepeninggalku, tiada seorangpun (dari para ahli waris) yang sangat aku harapkan menjadi kaya selain engkau, dan tidak ada yang lebih berat aku rasakan selain kefakiranmu. Aku telah memberimu kurma sebanyak dua puluh wasaq, jika engkau telah memanen dan mengumpulkannya, maka ia telah menjadi milikmu. Sekarang harta itu menjadi harta waris, dan yang mewarisi adalah dua saudara laki-lakimu dan dua saudara perempuanmu. Bagilah harta warisan itu sesuai dengan kitab Allah.”

Aisyah lalu berkata: “Wahai ayah, seandainya harta yang engkau berikan padaku sebanyak ini dan itu, maka akan aku tinggalkan (demi mengharap ridhomu). Namun, saudara perempuanku hanyalah Asma’, lalu siapa saudara perempuanku yang lain?” Abu Bakar menjelaskan: “Anak yang ada dalam kandungan Binti Kharijah (Istri Abu Bakar yang bernama Habibah binti Kharijah), aku melihatnya akan terlahir perempuan.”

Dari kisah di atas ada dua karamah yang tampak dari sayyidina Abu Bakar. Pertama, beliau tahu bahwa sakit yang sedang diderita akan menghantarkan beliau pada kematian, sehingga memberitakan pada Aisyah, bahwa harta yang dulu dihibahkan padanya kini menjadi harta waris yang harus dibagi, antara dirinya, dua saudara laki-lakinya (Muhammad dan Abdurrahman), dan dua saudara perempuannya (Asma’ dan Ummi Kultsum).

Karamah kedua, Abu Bakar tahu bahwa anak yang sedang dikandung oleh istrinya kelak akan terlahir perempuan, dan benar saja, setelah Abu Bakar wafat istrinya melahirkan anak perempuan yang kemudian diberi nama Ummu Kultsum.

Karamah lain yang tampak pada sahabat Abu Bakar dikisahkan dalam Shahih Bukhari dari Abdurrahman bin Abu Bakar sebagaimana berikut: Para Ashhabush Shuffah (sahabat yang tinggal di teras masjid Nabawi) adalah orang-orang yang fakir. Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa memiliki makanan cukup untuk dua orang, maka ajaklah orang yang ketiga. Jika memiliki makanan untuk empat orang hendaklah mengajak orang yang kelima atau keenam.”

Baca Juga :  Al-Kilabi, Punggawa Ahlu Sunnah sebelum Abu Hasan al-Asy’ari

Maka Abu Bakar datang dengan membawa makanan yang cukup untuk tiga orang. Nabi SAW lalu datang dengan membawa makanan yang cukup untuk sepuluh orang.” Abdurrahman bin Abu Bakar berkata, “Mereka itu adalah aku, bapakku, ibuku, -perawi berkata; aku tidak tahu apakah Abdurrahman mengatakan- isteriku dan pelayan yang biasa membantu kami dan keluarga Abu Bakar. Saat itu Abu Bakar makan malam di dekat Nabi SAW hingga waktu isya, dan ia tetap di sana hingga shalat dilaksanakan.

Lalu Abu Bakar kembali lagi ke rumah Nabi, sehingga Nabi pun makan. Ketika Abu Bakar pulang di waktu yang sudah larut malam, isterinya berkata, “Apa yang menghalangimu untuk menjamu tamu-tamumu?” Abu Bakar balik bertanya, “Kenapa tidak engkau jamu mereka?” Isterinya menjawab, “Mereka enggan untuk makan hingga engkau kembali, padahal mereka sudah ditawari.”

Abdurrahman berkata, “Kemudian aku pergi dan bersembunyi.” Abu Bakar lantas berkata, “Wahai Ghuntsar (kalimat celaan : dungu)!” Abu Bakar terus saja marah dan mencela aku. Kemudian ia berkata (kepada tamu-tamunya), “Makanlah kalian semua.” Lalu ia berkata lagi, “Demi Allah, selamanya aku tidak akan makan.” Demi Allah, tidaklah kami ambil satu suap kecuali makanan tersebut justru bertambah semakin banyak dari arah bawah, melebihi yang semula.”

Abdurrahman berkata: “Mereka kenyang semua, dan makanan tersebut menjadi lebih banyak dari yang semula. Abu Bakar memandangi makanan tersebut tetap utuh bahkan lebih banyak lagi. Kemudian ia berkata kepada isterinya, “Wahai saudara perempuan Bani Firas, bagaimana ini?” Isterinya menjawab, “Tak masalah, bahkan itu suatu kebahagiaan, ia bertambah tiga kali lipatnya.”

Abu Bakar kemudian memakannya seraya berkata, “Sumpah yang aku ucapkan untuk tidak makan pasti dari setan”, Kemudian ia memakan satu suap lantas membawa makanan tersebut ke hadapan Nabi SAW. Waktu itu antara kami mempunyai perjanjian dengan suatu kaum dan masanya pun telah habis. Kemudian kami membagi orang-orang menjadi dua belas orang, dan setiap dari mereka diikuti oleh beberapa orang -dan Allah yang lebih tahu berapa jumlah mereka-. Kemudian mereka semua menyantap makanan tersebut hingga kenyang.”

Baca Juga :  Surga dan Neraka itu Tidak Penting bagi Rabi’ah al-‘Adawiyah, Mengapa?

Itulah karamah sahabat Abu Bakar, makanan yang disantap para tamu tidak berkurang, justru bertambah banyak, sisanya dibawa ke rumah Nabi dan cukup untuk menjamu banyak sahabat. Karamah tersebut mungkin disengaja oleh Abu Bakar, karena beliau ingin menjamu seluruh tamunya. Mungkin juga tidak disengaja, namun Allah berkehendak menampakkan karamah tersebut untuk menunjukkan keberkahan Abu Bakar.

Dalam tafsir ar-Razi dan tafsir an-Naisaburi, juga diceritakan karamah Abu Bakar yang tampak saat pemakaman beliau, sebagai berikut:

Di antara karamah Abu Bakar as-Shiddiq, ketika jenazahnya dipikul menuju pintu makam Nabi saw., lalu diucapkan salam, assalamu ‘alaika ya rasulallah, ini adalah jenazah Abu Bakar, telah ada di depan pintu. Tiba-tiba pintu makam terbuka dengan sendirinya dan terdengar hâtif (panggilan tanpa rupa) dari arah makam, “masukkanlah sang kekasih menuju sang kekasih.”.

Demikianlah beberapa karamah sahabat Abu Bakar yang dikutip dari beberapa sumber, dan sesungguhnya karamah para sahabat Nabi dan para auliya’ membuktikan kebenaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. karena karamah hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar ittiba’ (mengikuti) dan mencintai Baginda Nabi Muhammad saw.

2 KOMENTAR

  1. […] Usman adalah sahabat yang memiliki banyak keistimewaan, salah satunya diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahîhnya: Suatu hari Nabi menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Usman, tiba-tiba terjadi gempa. Nabi kemudian bersabda: “Diamlah wahai Uhud –sambil menghentakkan kaki beliau– tiada yang berada di atasmu ini kecuali Nabi, orang yang Shiddiq dan dua orang Syahid (Umar dan Usman)”. (Baca: 5 Karamah Sahabat Abu Bakar al-Shiddiq) […]

  2. […] BincangSyariah.Com – Nama Sahabat Ali adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdil Muthallib bin Hasyim al-Hasyimiy, berjuluk Abu Turab, Abu Raihanatain, Abu al-Hasanain, Ash-Shiddiq al-Akbar, dan Haidarah. Dia adalah putra paman Nabi, sekaligus suami putri tercinta Nabi, laki-laki pertama yang memeluk islam, dan salah satu dari sepuluh orang yang diberi khabar gembira sebagai ahli surga. Di masanya, dia adalah manusia terbaik yang hidup di muka bumi. (Baca: 5 Karamah Sahabat Abu Bakar al-Shiddiq) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here