4 Tokoh dalam Al-Qur’an yang Sangat Menyayangi Ayahnya

1
1462

BincangSyariah.Com – Kita tahu, Islam adalah agama yang sangat mengedepankan etika kepada kedua orangtua. Namun yang sering disalahtafsirkan adalah adanya diskriminasi yang terjadi antara sikap yang ditujukan seorang anak kepada ibu dan ayahnya, setiap anak punya kecenderungan tersendiri apakah ia lebih dekat dengan ayah atau ibunya. (Baca: Ini Etika Terbaik kepada Orangtua Menurut Imam al-Ghazali)

Namun, kita sering jumpa kaum lelaki banyak ditempatkan pada kasta yang lebih rendah dibanding wanita. Diduga, karena ‘agama’ yang sering mereka dengar hanya soal berbakti pada ibu, ibu, dan ibu. Ayah jarang bahkan hampir tak pernah disinggung oleh pemuka agama. Padahal ayah punya hak yang sama dengan ibu, dihormati dan disayangi anaknya.

Padahal dalam Al-Qur’an sendiri relationship yang sering diceritakan adalah soal hubungan anak dengan ayahnya. Bukankah porsi cerita antara Ismail dan Ibrahim lebih banyak dibanding Ismail dan ibunya? Bukankah Luqman adalah sebuah surat yang secara intens membahas nasihat – nasihat seorang Luqman Al-Hakim kepada anaknya? Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an berusaha bicara pada kita, bahwa ayah juga punya peran yang penting bagi anaknya. Maka perlu bagi seorang anak berbakti kepada ayahnya.

Di artikel ini, Penulis akan menceritakan kisah 4 orang tokoh dalam Al-Qur’an yang sangat mencintai ayahnya, dilihat dari tutur kata dan model diksi yang dipilih.  Tokoh pertama, adalah Nabi Yusuf AS. Seperti yang kita ketahui di artikel gamis Yusuf beberapa saat yang lalu, bahwa Nabi Yusuf dan Ayahnya yakni Nabi Ya’kub, punya kedekatan emosional yang lebih dibanding saudara-saudaranya. Diantaranya adalah panggilan Yaa Abati¸ yang tertulis di surat Yusuf ayat 4:

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

Baca Juga :  Peran Ibu dalam Pertumbuhan Jiwa Anak

Artinya : “(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku”.(Q.S Yusuf : 4)

Yang menunjukkan kedekatannya dengan sang ayah adalah, ketika Yusuf mulai mimpi aneh demikian, tempat curhat pertamanya adalah sang ayah. Padahal, kebanyakan dari kita kemungkinan akan menjadikannya sebagai opsi terakhir.

Tokoh kedua yang sangat menyayangi ayahnya adalah Khalilullah Nabi Ibrahim A.S. meskipun lahir dikeluarga yang tidak beriman, Nabi Ibrahim lewat penelitian – penelitiannya berhasil menjadi The Father of Monotheism atau Bapak Tauhid. Kendati demikian, hal tersebut tak serta merta membuat Ibrahim menjadi congkak. Ia malah berusaha sebaik – baiknya mengajak ayahnya ke jalan kebenaran

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

Artinya : “Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” (Q.S Maryam : 42)

Seorang anak, berdakwah pada ayahnya. Tak serta merta dituduh kafir dan musyrik. Nabi Ibrahim berusaha menjelaskan pada ayahnya secara Ilmiah, ia tak mau ayahnya berfikir ia sedang disalahkan. Bahkan di kisah selanjutnya, sang ayah menolak, lalu apa yang terjadi? Ibrahim tak berani memaksa, karena takut melewati batas kedurhakaan. Akhirnya ia memilih pergi, bahkan mendoakan keselamatan bagi ayahnya.

Selanjutnya, rasa sayang nabi Ibrahim sepertinya secara genetis menurun kepada putra sulungnya, yakni Nabi Ismail A.S.  sangat tidak logis bagi Nabi Ismail menyayangi orang yang jelas – jelas berkata akan menyembelihnya. Tapi begitulah pemikiran seorang Ismail A.S, berbeda dengan kita. Imannya pada Allah SWT membuat rasa sayangnya pada sang ayah tumbuh begitu besar.

Baca Juga :  Dinasti Ayyubiyyah: Dari Memberontak Fatimiyyah sampai Saling Berebut Kekuasaan antar Keluarga

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(Q.S As-saffat : 102)

Ayahnya memohon dengan sangat hati – hati padanya. Tanpa ragu ia langsung mengiyakan permintaannya. bahkan Ismail menggunakan Fi’il Amr , tanda ia begitu siap dengan segala resikonya. Selain itu, kita juga pernah mendengar kisah dimana Nabi Ismail mendapat teguran dari ayahnya tentang istrinya. Pun, tanpa pikir panjang ia menceraikan istri pertamanya.

Yang terakhir adalah, 2 putri Nabi Syuaib AS. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa scene Nabi Syuaib dan kedua putrinya ada di plot cerita Nabi Musa AS. Kisah dimulai, dengan kaburnya Nabi Musa dari kejaran suruhan Fir’aun, lalu sampailah ia di negara bernama Madyan dan bertemu 2 gadis yang butuh pertolongan. Disitulah kisah dimulai.

Al-Mawardi menyebutkan dalam tafsirnya, nama keduanya Adalah Shafura dan Lia. Shafura adalah wanita yang akan dinikahi nabi Musa nantinya. Lia yang mendengar kisah kaburnya Musa dari bala tentara Fir’aun merasa iba kepada Musa, dan meminta ayahnya untuk menampungnya sementara waktu dan mempekerjakannya untuk merawat domba – dombanya.

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

Artinya : “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. ( Q.S Al-Qasas : 26)

Ke-4 tokoh ini, punya panggilan sayang kepada ayahnya, yang jika kita bandingkan dengan panggilan tokoh – tokoh lain berbeda. Tokoh lain memanggil ayahnya dengan panggilan Yaa Abii atau Yaa Abaana. Namun ke-4 tokoh ini memanggil Ayahnya dengan panggilan Yaa Abati. Dalam prinsip ilmu nahwu, ada penjelasan bagaimana bisa lafadz Abii berubah menjadi Abati.

Namun, yang paling penting disini adalah mengapa ke-4 tokoh ini dari segi bahasa, menggunakan panggilan yang berbeda dan dalam percakapannya bisa disimpulkan sangat menyayangi ayahnya. Lalu, Mengapa panggilan Yaa Abati  bisa dijadikan patokan besarnya rasa kasih sang anak pada Ayah? Munir Mahfudz Al-Musiri menjelaskan pada bukunya At-Taudih Fi At-Tamyiz Baina Al-Bathil Wa As-Sahih menjelaskan bahwa maksud dari panggilan tersebut adalah

Baca Juga :  Khubaib bin ‘Adi; Sahabat Nabi yang Wafat di Tiang Salib

نلاحظ من خلال هذا الحوار كيف استخدم نبي الله إبراهيم الخطاب بقوله (يا أبت) وهي أعظم وشيجة ورابطة بما تحمل من معاني الحب والرحمة والإخلاص والصدق في النصح والشفقة للمنصوح

Artinya : ”Jika kita teliti bersama teks di atas, dari percakapan antara Nabi Ibrahim dengan Ayahnya, bagaimana mungkin seorang Nabi Ibrahim menggunakan redaksi “Yaa Abati”, padahal itu adalah tanda relasi yang sangat kuat dan sebuah koneksi yang diiringi nilai – nilai cinta, kasih saying, keikhlasan, dan kesungguhan hati dalam menasehati, dan simpati bagi yang dinasehati”

Itulah beberapa tokoh yang begitu mencintai ayahnya, bahkan beberapa tak mendapat kasih yang sepadan dari sang Ayah. Dan redaksi Yaa Abati adalah salah satu tolok ukur seberapa mereka mencintai ayah mereka. Semoga kita juga bisa meneladani rasa cinta mereka kepada ayah – ayah mereka.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here