BincangSyariah.Com – “Haruskah kubunuh engkau wahai Anakku, Ismail?” Pertanyaan itu kurang lebih yang terlontar dari lisan Nabi Ibrahim As. ketika mendapatkan perintah untuk menyembelih putranya sendiri Nabi Ismail As. Kisah ini terangkum di dalam beberapa ayat surah al-Shaffat:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Ketika ia (Ismail) sudah mencapai masa dewasa bersama (ayah)-nya (Ibrahim), Ibrahim pun berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihatmu di dalam mimpi bahwa aku sedang menyembelihmu, apa pendapatmu wahai anakku? (Ismail) pun berkata, “Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan padamu. Dengan izin Allah, semoga kau mendapatiku sebagai golongan orang yang sabar” (Al-Shaffat: 102).

Betapa shock-nya Nabi Ibrahim As. mendengar jawaban anaknya itu. Seorang anak yang baru berumur 13 tahun – menurut pendapat Ibn ‘Ashur, mufasir Tunisia lewat karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir – bisa dengan lugas dan tidak ragu menuruti perintah Allah pada ayahnya, yang memang seorang Nabi. Walaupun ada pendapat yang menyatakan bahwa putra Ibrahim yang akan dijadikan korban adalah Ishak.

Kisah kehidupan Nabi Ibrahim As. adalah kisah tentang cobaan hidup di satu sisi, dan keteguhan komitmen untuk menerima cobaan itu sebagai bagian dari perintah Allah Swt. untuk bersikap taat dengan apa yang diperintahkan-Nya. Keteguhannya untuk terus menaati apa yang Allah perintahkan, dipuji oleh Allah Swt. sebagai cara untuk menjadikannya sebagai pemimpin bagi umat manusia. Allah Swt. berfirman:

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Ketika Tuhannya menguji Ibrahim dengan beragam kalimat-Nya, ia mampu memenuhi segala yang diperintahkan-Nya. (Allah) berkata, sesungguhnya aku ingin menjadikanmu sebagai pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: “dan begitu juga dari keturunanku ?”, Allah menjawab: “janjiku tidak akan didapatkan oleh mereka yang zalim” (Al-Baqarah: 124).

Kegigihan Ibrahim As. sejak muda sudah terlihat, untuk menaati perintah-Nya. Lantas, peristiwa apa saja dalam kisah hidup Nabi Ibrahim As. yang menunjukkan kegigihannya dalam berkomitmen terhadap kebenaran. Ada 4 peristiwa yang kami rasa tepat menunjukkan hal tersebut.

Pertama, sikap kritisnya dalam menentukan siapa yang patut ia jadikan Tuhan. Sikap ini boleh jadi di masa sekarang akan kita lihat sebagai orang yang hobi mendebat kebenaran yang secara umum seolah sudah menjadi aksioma, tidak perlu ditanyakan lagi. Tapi Ibrahim As. tidak begitu.

Sejak dalam kandungan, keselamatan hidupnya sudah terancam karena ada kebijakan raja Babilonia saat itu, Namruz – menurut satu riwayat – yang dinasihati oleh para ahli nujumnya kalau akan ada seorang bayi laki-laki yang lahir di tahun itu, akan meruntuhkan kekuasaan Namruz.

Percaya dengan nasihat mereka, Namruz menangkap seluruh ibu yang hamil pada waktu itu, memenjarakannya, dan jika mereka melahirkan anak laki-laki, maka langsung dibunuh. (Tarikh al-Umam wa al-Muluk: 1/142)

Baca Juga :  Anjuran Bershalawat Diturunkan pada Bulan Sya'ban

Beruntung Ibrahim As. selamat, karena dalam satu riwayat kandungan ibunya belum begitu terlihat, sehingga ia sempat melarikan diri keluar kota dan bersembunyi di sebuah gua. Ibrahim dilahirkan di sana, dan terus diasingkan ibunya sampai agak besar. Sejak di dalam gua, Ibrahim sudah dikaruniai keinginan mengetahui siapa Tuhannya.

Ketika ia keluar gua di malam hari, ia melihat bintang. Ia mengira itulah Tuhannya. Begitu bintang menghilang lalu muncul bulan, Ia memilih bulan, karena lebih besar. Begitu muncul matahari, ia pun meyakini itu sebagai Tuhannya, karena itu adalah Tuhan yang paling besar. Namun ketika terbenam, ia pun menyatakan bahwa seluruh tuhan-tuhan itu palsu. Ia menyatakan kalau ia menyerahkan seluruh dirinya kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.

Apa-apa yang disebut Tuhan itu sebenarnya adalah bagian proses “mencoba-gagal” Ibrahim dalam menguji sosok-sosok yang dituhankan kaumnya. Kisah ini tersebut di dalam Alquran surah Al-An’am: 74-79.

Sejak saat itu, Ibrahim As. komitmen tidak menuruti sembahan kaumnya. Meski ayahnya adalah pedagang berhala kaumnya, ia menjualnya hanya atas dasar bakti kepada orangtua. Dalam proses menjualnya, ia selalu berseloroh, siapa yang mau membeli “tuhan-tuhan” ini lalu disembah, betapa bodohnya mereka yang mau membeli berhala ini.

Kedua, adalah keteguhannya untuk mengatasi argumen-argumen Raja dan para ahli nujumnya tentang kesesatan apa yang mereka sembah. Ibrahim As. melakukan suatu aksi yang mungkin akan disebut radikal di masa sekarang. Menghancurkan “tuhan-tuhan” kaumnya, di saat mereka pergi. Kaget bukan kepalang mereka melihat kondisi tuhan-tuhannya yang hancur lebur.

Mereka menyimpulkan hanya Ibrahim As. yang mau melakukan ini semua, toh dia yang selalu menyindir dan menghina tuhan-tuhan mereka. Ibrahim pun menjawab tuduhan mereka. Ibrahim malah bertanya, “Apakah kalian menyembah Tuhan yang tidak mampu makan, bagaimana bisa ia memberi makan kalian?! Patung-patung itu tidak berbicara, mengapa kalian sembah?!” Kisah ini direkam dalam ayat Alquran surah al-Shaffat: 85-95.

Pada momen ini, Ibrahim As. dihukum dengan dibakar oleh penduduk kota. Mereka mengira Ibrahim akan mati, namun Ibrahim tetap selamat dengan pertolongan Allah Swt. Kisah ini bisa didapat dalam surah Al-Anbiya: 58-69.
Seorang raja pun pernah menantang Ibrahim. Raja menyatakan kalau ia adalah Tuhan.

“Kalau memang kau memang Tuhan, Tuhanku mampu menghidupkan dan mematikan!” Raja membuktikannya dengan memanggil dua tahanan, satu dibunuh dan satu dibiarkan hidup. “Lihat! aku mampu menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim memberikan argumen baru, “Tuhanku mampu menjalankan Matahari dari Timur ke Barat, mampukah kau membalik kedatangan matahari?!”. Bukan main malunya sang Raja karena tidak mampu menjawab argumen Ibrahim Ini. Kisah ini dapat ditemukan dalam surah al-Baqarah: 258.

Baca Juga :  Anas Bin Malik: Sahabat yang Mendedikasikan Hidupnya untuk Melayani Rasulullah saw

Ketiga, justru terjadi ketika Ibrahim menginjak masa tua. Dalam Tarikh al-Tabari disebutkan ia baru memiliki anak di usianya yang ke 85 tahun. Itulah anak yang bernama Ismail As. dari ibu bernama Siti Hajar, seorang wanita Mesir yang pada awalnya diberikan hadiah sebagai pembantu bagi rombongan Nabi Ibrahim As. dan istrinya Sarah, ketika bermukim di Mesir beberapa saat. Di saat itu, Ibrahim begitu merindukan kehadiran anak.

Pernikahannya dengan Siti Sarah, yang sama-sama dari Bani Israil, tak kunjung terlihat tanda-tanda kehamilan dari Siti Sarah. Namun, keteguhan Ibrahim As. dalam beribadah dan menyampaikan kebenaran, membuatnya tidak pernah berhenti berusaha dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Rasa rindunya untuk memiliki momongan pun terpenuhi setelah Siti Hajar dinikahinya – dengan seizin Sarah rupanya – lalu mengandung. Bukan main senangnya Ibrahim As. bersama kedua istrinya itu. Lahirlah ke alam dunia, Ismail As. Namun, ujian kedua datang. Siti Sarah, istri pertamanya terhinggapi rasa cemburu luar biasa, walaupun pada awalnya ikut senang dengan kehadiran Ismail.

Seolah terlintas dalam hatinya, kalau ia tidak lagi menjadi “satu-satunya” yang dicintai Ibrahim, dengan kehadiran istri keduanya dan putranya Ismail. Ibrahim As. lalu mengalah. Berdasarkan petunjuk Allah, diantarkan istri dan anaknya ini ke daerah yang sangat tandus, dan jarang dilewati manusia, di Jazirah Arab – yang kini dikenal sebagai kota Mekah.

Ditinggalkanlah istri dan anaknya yang masih kecil itu, di tanah tandus yang belum ada siapa-siap. Terkenallah doa Nabi Ibrahim As. yang sangat terkenal seperti disebut didalam Alquran:

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِر

“Tuhanku, Jadikanlah negeri ini aman, anugerahkanlah penduduknya yang beriman kepada Allah dan Hari akhir dengan (rezeki berupa) aneka ragah buah-buahan” (Al-Baqarah: 126).

Jadilah Ismail kecil dan ibunda Hajar ditinggal sendirian di tengah padang pasir Jazirah Arab. Tempat mereka berdua rupanya adalah tempat berdirinya Kakbah yang menurut catatan sejarah pernah dibangun oleh Nabi Adam As., dan di masa mendatang akan dibangun lagi oleh Ibrahim As. dan Ismail As. secara bersama-sama.

Beberapa tahun berlalu, Ibrahim kembali menengok putra dan ibunya yang ditinggal di padang pasir itu. Rupanya ia sudah besar. Bukan main senangnya Ibrahim melihat Ismail yang waktu bayi pernah ia serahkan “nasibnya” langsung kepada Tuhan-Nya. Justru, daerah yang dahulu tidak berpenghuni itu, menjadi ramai dengan munculnya Air Zam-Zam, air yang muncul ketika Ibu Siti Hajar kebingungan mencari air disaat stok persediaan habis.

Peristiwa ini kemudian diabadikan menjadi ibadah Sa’i antara bukit Shafa dan Marwah. Ini semua adalah berkat salah satu doa nabi Ibrahim As. sesaat sebelum meninggalkan Ibu Hajar dan Ismail kecil:

Baca Juga :  Travelling dalam Islam

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan Kami, sungguh aku tinggalkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan di dekat rumah-Mu yang dihormati ini wahai Tuhanku, agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati manusia tertarik kepada mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka berupa buah-buahan, mudah-mudahan mereka menjadi orang yang bersyukur” (Ibrahim: 37).
Peristiwa Keempat, adalah di saat belum begitu lama Ibrahim dan Ismail bercengkerama bersama. Ibrahim As dimimpikan untuk menyembelih putranya sendiri. Ismail baru mencapai usia – kira-kira bisa diajak untuk bekerja. Ismail, begitu juga Ibundanya, Siti Hajar – dalam riwayat yang menyatakan kalau yang dikurbankan Nabi Ishaq, Siti Hajar sudah wafat ketika Ibrahim tiba di Mekah – tegar untuk melaksanakan perintah ini. “Engkau akan mendapatiku sebagai orang-orang yang sabar!” tandas Ismail.

Ali Syari’ati dalam bukunya Hajj, dan diterjemahkan kedalam bahasa Arab dengan judul al-Faridhah al-Khamisah menyatakan kalau peristiwa pengurbanan Ismail adalah di antara ujian untuk membuktikan apakah benar Ibrahim As. mencintai Allah Swt.

Ibrahim As. juga awalnya harus memilih, antara cintanya (love) kepada Ismail, atau memilih kebenaran (truth) wahyu dari Allah Swt. Ibrahim berusaha mencari-cari jalan lain agar itu tidak terjadi. “Mungkin maksudnya menyembelih kambing untuk menunjukkan rasa syukur saja, mungkin perintah ini untuk semua orang!” Tapi perintahnya sederhana, “Sembelih Ismailmu!” (al-Faridhah al-Khamisah: 130-131).

Saat penyembelihan itu tiba, Ibrahim sudah bersiap menyembelih. Ismail As. bahkan memberikan aba-aba agar ayahnya menutup wajahnya, dan menghadapkan sisi mukanya searah dengan muka ayahnya, dan menahan kuat-kuat lehernya agar tidak berontak saat disembelih, dan ayahnya tidak melihat ekpresi wajahnya ketika disembelih. “Dengan pertolongan Allah anakku.”

Ketika akan dilakukan, Allah memanggil Ibrahim As., bahwa ia sudah mempercayai mimpinya. Atas ganjaran sikap ihsan-nya ini, Allah mengganti kurban Ismail dengan domba. Dombanya dari mana? ada banyak riwayat tentang itu, ada yang mengatakan dombanya langsung didatangkan dari langit. Ada yang meriwayatkan kalau domba itu adalah kurban Habil di zaman nabi Adam yang dahulu diterima oleh Allah Swt.

Bagaimanapun caranya, yang jelas keteguhan Ibrahim untuk menuruti perintah Allah Swt. menyembelih Ismail, sekali lagi adalah bukti konkrit rasa cintanya pada Tuhan. Karena itu, Allah pun “terpesona” sehingga memujinya sebagai Khalilullah. Wattakhadzallahu Ibraahiima Khaliila. Selamat Berlebaran Idul Adha!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here