Peran Kyai dalam Akulturasi Jawa-Islam

0
179

BincangSyariah.Com – Sebelum Islam menyebar dalam ranah Nusantara, peran kyai sangat dibutuhkan oleh kerajaan Hindu atau Budha sebagai legitimasi. Begitu pula sebaliknya, bahwa kyai atau tarekat Jawa mengabadikan kultur Jawa dalam bentuk sinkretisme sebagai jalan kekuasaan serta menyebarkan agama Islam.

Selama ini masyarakat Jawa memahami bahwa kyai atau tarekat di Jawa menyebarkan agama Islam dengan menitikberatkan pada pencerahan terkait hakikat kehidupan dan ketauhidan. Namun, supaya ajaran kyai dan tarekat diterima oleh masyarakat Jawa, Kyai menempuh dengan cara mengaktualisasikan nilai-nilai Islam, tanpa meninggalkan tradisi Jawa. Sehingga kyai mampu menyebarkan agam Islam dengan luwes dan tidak kaku.

Ricklefs ahli sejarah dari Australia mengatakan dalam Mystic Synthesis in Java, bahwa sinkretisme terbentuk ketika bagaimana Islam, di satu sisi sebagai bentuk ideologis, masuk ke masyarakat Jawa yang dipresentasikan dalam unsur indentitas dan perilaku orang Jawa. Begitu pula Heniy Astiyanto dalam Filsafat Jawa: Menggali Butir-Butir Kearifan Lokal, bahwa selama terdapat konsep Agami Ageming Aji, yaitu agama harus memegang prinsip kehormatan dan itu terletak pada sikap sosial yang kooperatif, maka agama akan dengan mudah bersinkretis dengan kebudayaan Jawa.

Pada masa kerajaan Hindu Budha, kyai merupakan orang yang dipercaya masyarakat Jawa Hindu Budha sebagai orang yang memiliki keahlian di bidang ritual keagamaan, maka di panggil “kai” yang sekarang disebur dengan “kiai” dan murid yang berguru kepada kai dinamakan “sahasti” atau sekarang disebut dengan santri. Sedangkan guru ritual agama Islam disebut dengan Syech.

Siklus historis, para penyebar agama Islam melakukan pendekatan pada kerajaan, dengan cara mengajarkan ajaran Islam yang  begitu ramah tanpa menghancurkan tradisi Jawa. Hingga akhirnya para penghuni kerajaan memanggil para penyebar agama Islam dengan sebutan “kia” atau “kiai”. Karena dikenal sebagai sosok yang kharismatik mampu menjadi problem solver dari setiap kalangan masyarakat menengah hingga penghuni kerajaan.

Baca Juga :  Hari Ini Haul ke-47, Ini Riwayat Hidup Abah Falak

Akibat kepercayan menjadi kyai, maka kyai Islam membangun sebuah padepokan tempat untuk belajar keagaman bagi para santri yang sekarang disebut dengan pesantren. Meski begitu, para kyai tetap menyusun stretegi dakwah yang kreatif dan tidak meninggalkan simbol-simbol Hindu.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Ampel, seorang ulama penyebar agma Islam, salah satu dari golongan walisongo di Jawa atau lebih dikenal Raden Rahmat di pelapah Tanah Jawa Timur kota Surabaya. Ia melakukan sinkretisme berupa menyepekati arsitektur Kubah masjid Ampel di area pesantrennya dibuat dengan kubah Hindu. Peran Raden Rahmat ini mampu menciptakan Islam yang moderat dan keberadaan Islam dapat diterima oleh kerajaan Majapahit. Serta masyarakat sekitarpun berbondong-bondong belajar keagaman ke Raden Rahmat.

Apa yang dilakukan oleh para kyai dan tarekat Jawa pada zaman dulu memang tidak bisa di bilang mudah. Metode dakwah kyai dan tarekat Jawa yang dilakukan juga sangat berbagai macam cara, dan tetap  mengabadikan kearifan lokal (local wisdom), dengan cara pendekatan kultural yang mengusung konsep sinkretisme. Berikut beberapa tradisi yang diakulturasi oleh kyai dan tarekat Jawa yang masih hangat dan dipraktikkan di tengah masyarakat Jawa sampai sekarang, misalnya selametan Jawa, megengan, tradisi mujahadah, tradisi pembacaan sholawat mansub, muludan, ruwahan, suroan, ngadren dan lain sebagainya.

Katakanlah tradisi nyadran yang ada di Jawa Tengah. Sebelum diakulturasi dengan butir-butir ajaran Islam, nyadran merupakan tradisi memuji leluhur, mempercayai makhluk Ghaib, Nyi Roro Kidul, percaya pada hal yang magic.

Berbeda setelah para kyai dan tarekat Jawa berhasil mengakulturasi tradisi nyadran (budaya Jawa) dengan ajaran Islam. Nyadran menjadi sebuah tradisi masyrakat Jawa dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Nyadran dilakukan pada saat sebelum bulan puasa pada tanggal 10 rajab atau 15, 20 Sya’ban (ruwah). Dengan tujuan rasa syukur kepada Allah dan menghormati para leluhur.

Baca Juga :  Mengapa Ulama Merutinkan Baca Surah Al-Waqi‘ah untuk Kelancaran Rezeki? Ini Penjelasan Imam al-Ghazali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here