3 Tingkatan Ahli Ibadah Menurut Sufi

1
30

BincangSyariah.Com – Syekh Al-Imam Ahmad  Ar-Rifa’i dalam karyanya Halatu Ahli Al-Haqiqati Ma’allahi Ta’ala (juz, 1 Hlm. 20) mengutarakan tentang tingkatan ahli ibadah:

اصناف العابدين

Macam-macam ahli ibadah

Terkait kalam hikmah di atas, Imam ar-Rifa’i mengisahkan tentang kisah Nabi Isa AS. Pada suatu hari Nabi Isa AS bertemu dengan sekelompok kaum yang kurus badannya. Nabi Isa bertanya kepada kaum tersebut, “Apa yang telah terjadi pada kalian dengan apa yang telah aku lihat?” Mereka menjawab, “Kami memperbanyak ibadah karena takut neraka.” Nabi Isa AS berkata, “Allah akan memberikan rasa aman kepada kalian dari rasa takut.”

Nabi Isa AS. menemui kelompok lainnya. Keadaan mereka lebih memprihatinkan dan badannya lebih kurus lagi dari kelompok sebelumnya, Nabi Isa AS, berkata kepada mereka, “Apa yang telah terjadi pada kalian dengan apa yang telah Aku lihat?” Mereka menjawab, “Kami memperbanyak ibadah kerena rindu pada surga.”

Nabi Isa AS, berkata, “Allah akan mengabulkan apa yang kalian minta.” Selanjutnya Nabi Isa AS menemui kelompok yang lebih memperihatinkan lagi keadaannya. Nabi Isa AS bertanya kepada mereka, “Apa yang telah terjadi pada kalian dengan apa yang telah aku lihat?” Mereka Menjawab, “Kami memperbanyak ibadah karena cinta dan rindu kepada Allah.” Nabi Isa berkata kepada mereka, “Kalian semua adalah orang-orang yang dekat dengan Allah, perkataan itu diulangi tiga kali oleh Nabi Isa AS.

Masih di halaman yang sama, Imam Ar-Rifa’i mengutip pernyataan Hasan Al-Basri. Ahli makrifat yang ada di dunia ini dibagi menjadi tiga tingkatan ahli ibadah:

Pertama, seorang lelaki yang rajin beribadah kepada Allah SWT, dan ia melanggengkan ibadahnya, sampai mendarah daging, hatinya terpatrai untuk terus menerus beribadah. Ia parsah terhadap rezeki yang telah di tentukan oleh Allah Swt, sehingga ia tidak merepotkan dirinya untuk mencari rezeki, menjadikan langit sebagai atap, dan bumi sebagai lantainya. Ia tidak perduli, apakah di hari esok menghadapi kemudahan atau kesengsaraan. Hal tersebut ia jalani sampai ajalnya menjemput. Lelaki ini sangat jarang dijumpai di dunia ini.

Kedua, lelaki yang tidak sabar seperti sabarnya lelaki yang pertama. Ia masih menyibukkan dirinya untuk mengais rezeki, ia bekerja untuk menyambung hidupnya, menghiasi tubuhnya dengan kain untuk menutup auratnya, mempunyai rumah sebagai tempat tinggal, mempunyai keluarga, istri, dan anak. Akan tetapi ia sangat takut terhadap siksaan Allah dan mempunyai harapan besar untuk mendapat ampunan Allah.

Ketiga, lelaki yang rajin bekerja sehingga dari hasil pekerjaan itu. Ia bisa membangun rumah mewah, kendaraan yang bagus, dan mempunyai pembantu rumah tangga. Kelak di ahirat ia tidak memperoleh kemewaan karena Allah telah memberikannya di dunia, kecuali Allah mengasihinya. Wallahu A’lam Bissawab.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here