28 Juli Akan Terjadi Gerhana Bulan, Ini Tata Cara Salatnya

1
436

BincangSyariah.Com – Gerhana bulan merupakan salah satu kebesaran kekuasaan Allah Swt. Pada tahun ini,  Rabu 31 Januari terjadi gerhana bulan total. Pada 28 Juli mendatang, diprediksikan akan ada fenomena alam serupa. Oleh sebab itu, umat Muslim dianjurkan untuk melaksanakan shalat gerhana bulan.

Syekh Abu Syuja’ dalam matan Taqrib dan Syekh as-Syirbini dalam al-Iqna’ menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan gerhanaShalat gerhana, baik matahari maupun bulan, merupakan sunah muakkad (sangat kuat) yang mana Rasulullah Saw. selalu melakukannya. Adapun niat shalat gerhana bulan bisa diucapkan demikian: ushalli sunnatal khusufi (gerhana bulan) imamam/ma’muman lillahi ta’ala. Shalat gerhana bulan maupun matahari terdiri dari dua rakaat. Dalam setiap rakaat, terdiri dari dua kali berdiri dan dua kali ruku’, seperti demikian:

Setelah Anda melakukan takbiratul ihram sambil niat melakukan shalat gerhana, seperti biasa Anda dianjurkan membaca doa iftitah. Setelah itu Anda membaca surah al-fatihah, dan kemudian membaca surah Alquran setelah selesai membaca al-fatihah. Dalam membaca surah ini, dianjurkan membaca surah Alquran yang agak panjang. Terkait bacaan surah Alquran yang panjang ini tidak ada batasan tertentu.

Setelah selesai membaca surah, Anda ruku seperti shalat biasanya. Namun saat ruku, Anda dianjurkan membaca tasbih sebanyak-banyaknya. Bila mampu, Anda dianjurkan membaca tasbih subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar seukuran seratus ayat dari surah al-Baqarah. Namun bila dianggap terlalu lama, boleh dikurangi dari anjuran tersebut.

Sehabis melakukan ruku, Anda diwajibkan diri kembali, dan langsung membaca al-fatihah dan bacaan surah Alquran seperti sebelumnya. Saat diri yang kedua dalam rakaat pertama ini, Anda dianjurkan juga membaca surah panjang, namun tidak sepanjang pada diri yang pertama kali tadi. Setelah selesai membaca surah Alquran, Anda langsung melakukan ruku, i’tidal, langsung sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kembali, dan berdiri untuk melanjutkan rakaat yang kedua.

Baca Juga :  Tiga Ritual yang Perlu Dilakukan saat Anak Baru Lahir

Tata cara melakukan rakaat dua sama persis seperti yang dijelaskan pada rakaat pertama. Pada intinya, tata cara shalat gerhana sama saja seperti shalat lima waktu pada umumnya. Hanya saja, yang perlu digarisbawahi itu dalam setiap rakaat shalat gerhana terdiri dari dua kali berdiri dan dua kali ruku.

Perlu diketahui bahwa shalat gerhana itu dianjurkan dilakukan secara berjamaah. Dalam jamaah shalat gerhana bulan, imam dianjurkan untuk membaca bacaan Alquran dengan jahr (dikeraskan suaranya). Saat imam membaca al-fatihah, makmum dianjurkan untuk mendengarkannya terlebih dulu, dan bersama-sama membaca amin dengan imam. Di saat imam membaca surah Alquran setelah al-fatihah, di situ makmum mulai membaca al-fatihah sendiri.

Hal ini berbeda ketika imam memimpin shalat gerhana matahari, maka ia dianjurkan membaca sir (tidak dikeraskan suaranya) (Baca: Bacaan Alquran dalam Shalat Gerhana Matahari).Setelah shalat selesai, imam dianjurkan untuk melakukan khotbah sebagaimana khotbah Idul Adha atau Idul Fitri yang dilakukan setelah shalat selesai. Dalam khotbah ini, imam dianjurkan mengisi khotbah yang memotivasi orang lain untuk terus mengingkatkan kebaikan, seperti memperbanyak tobat, sedekah, dan menyantuni fakir-miskin.

Apakah shalat gerhana boleh dilakukan sendirian? Iya, boleh. Namun khotbah tidak dianjurkan bagi orang yang shalat sendirian di rumah. Secara zahir, tentu pahala yang melakukan shalat gerhana sendiran di rumah berbeda dengan yang shalat di masjid.

Bila Anda tertinggal dari imam pada ruku awal rakaat pertama, maka Anda terhitung masih mendapatkan rakaatnya imam. Artinya, setelah imam membaca salam pada tahiyat akhir, Anda tidak perlu menambah satu rakaat. Namun demikian, apabila Anda baru datang, dan imam sudah ruku kedua pada rakaat awal, maka rakaat pertama Anda bersama imam itu tidak terhitung. Jadi, misalnya Anda tertinggal ruku kedua imam dari rakaat keduanya itu artinya Anda harus menambah dua rakaat shalat gerhana, karena menyusul imam dalam kondisi tersebut sudah tidak terhitung mengikuti rakaatnya imam.

Baca Juga :  Pandangan Ibnu Arabi tentang Tragedi Pembantaian Imam Husen

Perlu diketahui bahwa mandi sebelum melakukan shalat gerhana itu dianjurkan sebagaimana shalat sunah lainnya. Anda bisa niat mandi shalat gerhana dengan niat demikain: nawaitul ghusla li hudhuri shalati khusufil qamari (gerhana bulan)/ kusufis syamsi (gerhana matahari) lillahi ta’ala.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.