Membicarakan Sejarah Rasm Usmani

0
242

BincangSyariah.Com – Pada mulanya Alquran belum berbentuk sebuah mushaf sebagaimana yang kini kita lihat. Alquran pertama kali dikumpulkan di masa Sahabat Abu Bakar Ra. Faktor yang mendasari hal ini ialah peristiwa Perang Yamamah yang menewaskan banyak pasukan muslim yang sebagian besarnya merupakan para penghafal Alquran.

Timbullah keresahan di dalam hati Umar Ra. Beliau pun mengadukan keresahannya kepada Abu Bakar Ra. yang kala itu menjabat sebagai khalifah. Abu Bakar Ra. menolak apa yang dikeluhkan oleh Umar Ra. dengan berdalih bahwa hal ini tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah Saw. Umar pun terus mendesak hingga Allah memperlihatkan Abu Bakar urgensitas pengkodifikasian Alquran sebagaimana yang sudah diutarakan Umar Ra. kepadanya.

Abu Bakar akhirnya setuju dengan apa yang diusulkan Umar Ra. Beliau pun menunjuk Zaid bin Haritsah menjadi ketua panitia pengkodifikasian Alquran. Awalnya Sahabat Zaid enggan melakukannya, layaknya Sahabat Abu Bakar Ra. Namun, setelah Allah perlihatkan apa yang dilihat oleh Sahabat Abu Bakar dan Umar Ra. Sahabat Zaid pun mengiyakan. Akhirnya Sahabat Zaid pun mengumpulkan ayat-ayat yang telah dihafal para sahabat dan yang ditulis di pelepah kurma, tulang, dsb.

Sampai suatu ketika Sahabat Zaid kehilangan satu ayat yang beliau rasa harusnya ada, ayat tersebut adalah ayat 23 surah al-Ahzab, namun beliau tidak menemukan ayat ini di manapun. Hingga akhirnya beliau mendapati ayat tersebut pada seorang Sahabat Anshar. Setelah susah payah mengumpulkan akhirnya jadilah Alquran dalam bentuk satu bundel mushaf. satu bundel mushaf Alquran itu disimpan oleh Sahabat Abu Bakar Ra. hingga akhir hayatnya, lalu disimpan oleh Sayyidah Hafshah. Yang kemudian terkenal dengan nama Suhuf Abu Bakar. Seteleh itu tim kodifikasi ini secara tidak langsung non-aktif.

Baca Juga :  Hukum Membaca Alquran dengan Suara Keras

Di era kepemimpinan Sahabat Usman Ra., beliau melakukan standarisasi terhadap tulisan ayat Alquran. Sebab ketika itu, Sahabat Hudzaifah bin Yaman (w. 36 H.) yang menyaksikan langsung perselisihan atas perbedaan bacaan antara pasukan muslim dari Syam dan dari Irak saat pembebasan Armenia dan Azerbaijan yang hampir saling mengkafirkan satu sama lain. Menanggapi hal ini, Sahabat Usman Ra. Mengaktifkan kembali tim kodifikasi yang telah dibentuk di era Sahabat Abu Bakar Ra. Lalu Sahabat Usman Ra. mengirim utusan kepada Sayyidah Hafshah untuk meminjam suhuf Alquran yang nantinya akan distandarisasi menjadi sebuah mushaf. Sebelum tim ini mulai, Sahabat Usman Ra. memberi pesan untuk tim ini, “apabila terjadi perbedaan tulisan, maka tulislah dengan Bahasa Quraisy karena Alquran diturunkan diturunkan kepada Orang Quraisy.”

Setelah tim ini memulai tugasnya, mereka mendapati masalah di penulisan kata at-taabuut. Menurut Sahabat Zaid kata itu ditulis dengan at-Taabut (diakhiri ta’ marbuthah). Sedangkan menurut orang Quraisy kata itu ditulis dengan at-Taabuut (diakhiri ta’ maftuhah). Masalah ini pun diadukan kepada Sahabat Usman Ra., beliau pun memberi keputusan bahwa kata itu ditulis dengan ta’ maftuhah karena penulisan ini sesuai dengan apa yang diutarakan oleh orang quraisy. Selain itu, tim ini juga mendapati sebuah masalah lain. Sahabat Zaid selaku ketua merasa ada ayat yang tertinggal, ayat tersebut adalah QS. at-Taubah: 128. Namun beliau tidak temui ayat tersebut di seorangpun. Hingga, beliau menemukannya pada Sahabat Khuzaimah bin Tsabit.

Masalah lain yang terjadi adalah suatu ketika orang-orang berbeda bacaan hingga ribut. Sahabat Usman Ra. mengumpulkan mereka dan menelaah satu persatu ayat Alquran. Di setiap ayat, untuk memastikan kevalidannya, mereka mendatangkan sahabat yang dirasa pernah dibacakan ayat tersebut oleh Rasulullah Saw. meskipun tinggalnya di tempat yang cukup jauh. Setelah mencocokkan bacaan kepada sahabat terkait, tim pun menulisnya.

Baca Juga :  Semiotika dalam Ayat-ayat Alquran

Setelah standarisasi penulisan Alquran rampung, beliau salin mushaf tersebut menjadi beberapa salinan. Menurut Imam ad-Dani (w. 444 H.), salinan tersebut adalah empat, yang didistribusikan ke Kufah, Bashrah, Syam, dan satu beliau simpan (pribadi). Menurut Imam as-Suyuthi (w. 911 H.), salinan tersebut adalah lima yang didistribusikan ke empat yang sama dengan tambahan Mekkah. Menurut Imam Ibnu ‘Ashir (w. 1040 H.), salinan tersebut adalah enam yang didistribusikan ke lima tempat yang sama dengan tambahan Madinah. Menurut Imam Abu Hatim as-Sijistani (w. 250 H.), Abu Shamah (w. 665 H.), al-Mahdawi (w. 440 H.), dan Makki (w. 437 H.), salinan tersebut adalah tujuh yang didistribusikan ke lima tempat yang sama kecuali Madinah dengan tambahan Bahrain dan Yaman. Menurut Imam Ibnu Jazari (w. 833 H.), salinan tersebut adalah delapan yang didistribusikan ke enam tempat yang sama dengan tambahan Yaman dan Bahrain.

Adapun pendapat yang paling kuat adalah yang menyatakan bahwa salinan tersebut berjumlah enam. Berdasarkan jumlah sahabat ahli Alquran yang diutus berjumlah lima dan beberapa perbedaan tulis yang umumnya merujuk pada enam mushaf terebut.

Setelah standarisasi penulisan dilakukan, ada beberapa orang mengklaim tulisan Alquran tersebut berubah. Imam Malik Ra. pernah ditanya dengan pertanyaan demikian. Beliau menjawab, “Tidak, tulisan Alquran tetap dengan tulisan awal mulanya.” Menurut Abu Amr sendiri tidak ada ulama yang mengingkari bahwa Alquran itu tetap dengan tulisan awal mulanya.

Munculnya Titik dan Harakat pada Alquran

Seiring berkembangnya zaman, Alquran mengalami perkembangan. Di era Dinasti Bani Umayyah, sudah mulai dirumuskan tanda diakritik (titik) untuk tanda baca yang diinisiasi oleh Gubernur Ziyad  bin Ziyad melalui Abu al-Aswad ad-Du’aly. Selain itu, di era ini pula mulai dirumuskan titik untuk untuk huruf yang mirip (ba, ta, tsa, dll.). Ini diinisiasi oleh al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi melalui Yahya bin Ya’mar dan Nashir bin Ashim (w. 90 H). Di era Dinasti Abbasiyah tanda diakritik melalui tahap penyempurnaan, yang dilakukan oleh al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H.).

Baca Juga :  Kisah Kematian Al-Hallaj

Di era selanjutnya Alquran terus mengalami perkembangan. Pada masa sesudahnya, mulai digunakan simbol waqf, seperti waqf tam, waqf jaiz, dan sebagainya. Dari segi cara baca, Alquran juga mengalami perkembangan. Dari segi khat atau gaya tulisan, mulai berkembang dengan munculnya khat kufi, naskhi, dan lainnya. Hal ini terus berjalan sampai menjadi Mushaf Alquran yang kita kenal sekarang.

Itulah proses pengumpulan, penstandarisasian, dan pengkodifikasian Alquran di zaman al-Khulafa ar-Rasyidun dan beberapa masa setelahnya. Lika-liku telah mereka tempuh agar Alquran menjadi satu mushaf sebagaimana kini. Hal ini sekaligus menjadi cikal bakal munculnya diskursus ilmu rasm usmaniWallahu A’lam bi-sh-Shawab.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here