11 Dampak Buruk yang Ditimbulkan Maksiat

3
9234

BincangSyariah.Com – Ibnu Qayyim dalam kitab al-Daa’ wa al-Dawaa‘ menjelaskan bahwa  maksiat menimbulkan dampak buruk dan berbahaya bagi kalbu dan tubuh, baik di dunia maupun di akhirat. Hanya Allah yang mengetahui seluruh dampaknya. Banyak sekali dampak maksiat, di antaranya;

Pertama, maksiat adalah penghalang dari ilmu. Karena ilmu adalah cahaya yang Allah tanamkan dalam hati, sedangkan maksiat memadamkan cahaya. Ketika Imam al-Syafi‘i duduk dan membaca di hadapan Imam Mâlik, Imam Malik kagum dengan kecerdasan dan pema hamannya yang sempurna. Sang guru pun berkata, “Kelihatan nya, Allah telah menanamkan cahaya dalam hatimu. Karena itu, janganlah kau padamkan cahaya itu dengan kegelapan maksiat!”

Beberapa lama kemudian, al-Syafi‘i mendatangi Waki’, lalu bersyair, “Aku mengadu kepada Wakî‘ akan buruknya hafalanku Ia menunjukkan kepadaku agar aku meninggalkan maksiat Ia berkata, “Ketahuilah bahwa ilmu adalah karunia, dan karunia Allah tidak diberikan kepada ahli maksiat”

Kedua, terhalang dari rezeki. Dalam al-Musnad disebutkan, “Seorang hamba terhalang dari rezeki akibat dosa yang dikerjakannya.” Apabila ketakwaan kepada Allah menjadi sebab datangnya rezeki, meninggalkan ketakwaan menjadi sebab datangnya kemiskinan. Tidak ada hal yang mendatangkan rezeki sebagaimana sikap meninggalkan maksiat.

Ketiga, perasaan jauh dari Allah, dan hal ini tentu tidak bisa digantikan dengan nikmat apa pun. Nikmat iman adalah sesuatu yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang kalbunya hidup. Luka tentu tidak menyakitkan bagi orang yang mati.

Keempat, perasaan jauh dari makhluk, terutama dari orang-orang saleh. Pelaku maksiat akan merasa ada jarak antara dirinya dan mereka. Ketika perasaan ini makin kuat, ia makin jauh dari mereka dan tidak lagi duduk bersama mereka sehingga tidak bisa meraih manfaat dari mereka. Perasaan terasing makin lama makin kuat sampai akhirnya juga menimpa hubungan dirinya dengan istri, anak, serta kerabatnya. Ia bahkan merasakan kesendirian dan kehampaan hingga membenci diri sendiri.

Kelima, urusan menjadi sulit. Ketika hendak menyelesaikan urusannya, pelaku maksiat mengalami jalan buntu dan kesulitan. Urusan orang yang bertakwa dijadikan mudah oleh Allah, sementara urusan orang yang menanggalkan ketakwaan dibuat susah. Sungguh mengherankan jika manusia mendapati seluruh pintu kebaikan tertutup baginya dan jalan-jalannya menjadi buntu, namun ia tidak juga menyadari penyebabnya.

Keenam, kegelapan yang dirasakan dalam jiwa sama pekatnya dengan malam. Gelapnya maksiat yang menyelimuti hati tak ubahnya seperti kegelapan yang dialami mata. Karena ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah kegelapan. Semakin gelap hati mereka, semakin tercampak diri mereka dalam kebingungan. Mereka tak ubahnya seperti orang buta yang keluar di kegelapan malam sendirian.

Ketujuh, lemahnya kalbu dan tubuh. Kelemahan kalbu menjadi nyata, bahkan maksiat dapat terus melemahkannya hingga membunuhnya. Adapun kelemahan tubuh terjadi karena kekuatan mukmin terletak di kalbunya. Ketika kalbu menguat, tubuh pun menguat demikian pula sebaliknya.

Delapan, terhalang dari ketaatan. Kalaupun dosa tidak berakibat siksa, ia dapat menjadi penghalang ketaatan dan menutup jalan menuju ketaatan lain. Dengan berbuat dosa, seseorang mungkin menutup jalan ketaatan yang ketiga, keempat, dan seterusnya. Akibat dosa, begitu banyak jalan ketaatan terputus, padahal setiap ketaatan lebih baik daripada dunia dan seisinya. Keadaan pendosa ini bagaikan orang yang telah menyantap makanan yang membuatnya sakit berkepanjangan sehingga tidak bisa menyantap banyak makanan nikmat lainnya. Semoga Allah melindungi kita dari hal ini.

Sembilan, maksiat memperpendek umur. Jika kebaikan memperpanjang umur, kemaksiatan memperpendek umur. Ada beragam pandangan mengenai hal ini: Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud dengan berkurangnya umur pelaku maksiat adalah hilangnya keberkahan umurnya. Ini benar, karena hal itu termasuk dampak dari maksiat. Sebagian lain berpendapat bahwa umur memang benar-benar berkurang seperti berkurangnya rezeki. Allah menjadikan begitu banyak sebab keberkahan dalam rezeki, demikian pula dalam umur manusia.

Sepuluh, berulangnya maksiat. Di antara dampak maksiat adalah terulangnya maksiat sehingga pelakunya sulit meninggalkannya. Para ulama salaf mengatakan, “Di antara akibat dosa adalah munculnya dosa lain, dan di antara balasan kebaikan adalah lahirnya kebaikan lain.  Hal yang sama berlaku pada dosa dan keburukan. Maksiat dapat terus berulang sehingga ketaatan dan kemaksiatan menjadi sifat yang melekat dan tabiat yang tetap.

Sebelas, maksiat melemahkan hasrat kebaikan. Di antara dampak maksiat paling mengkhawatirkan adalah lemahnya dorongan kalbu. Keinginan untuk bermaksiat menguat, sementara keinginan untuk bertobat sedikit demi sedikit melemah sampai akhirnya tidak ada lagi hasrat bertobat. Andaikan setengah kalbu mati, ia bertobat kepada Allah dengan tobat seorang pendusta yang hanya sebatas lisan, sementara hatinya terikat dengan maksiat dan masih berhasrat melakukan maksiat. Ini adalah penyakit paling hebat dan paling dekat dengan penyesalan.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here