10 Ulama Tabi’in yang Diutus Berdakwah  ke Afrika Utara

0
967

BincangSyariah.Com – Setelah Hassan bin Nu’man as-San’ani sukses mengakhiri perlawanan suku Barbar pada tahun 84 H, situasi Afrika Utara semakin membaik dan stabil. Kondisi ini membuat perlahan tapi pasti ajaran Islam mulai banyak digandrungi para pribumi asal Afrika Utara. Artinya, peran dai dan faqih sudah sangat dibutuhkan.

Pandangan khalifah Umar bin Abdul Aziz pun tidak luput dari momen ini. Agar seluruh masyarakat Islam dapat mempelajari syariat Islam dengan baik dan benar, sang khalifah menyebar dai – dai dan para fuqaha terbaiknya ke berbagai negara bahkan hingga ke pelosok – pelosok desa. Misalnya ke pedalaman suku Badui, Mesir hingga Afrika Utara.

Jika ke Mesir ia mengirimkan mufti besar Madinah, Nafi’ maula Ibnu Umar. Maka ke Afrika Utara diutuslah sepuluh ulama rabbani dari kalangan Tabi’in. Mereka tidak lain adalah orang – orang yang salih, ahli ilmu serta mumpuni dalam berdakwah di tengah – tengah masyarakat. Sebagaimana Abdul Aziz dikenal sangat selektif dalam memilih para dainya.

Adapun biografi singkat kesepuluhnya dirangkum oleh Ali Muhammad As- Shalabi dalam Al Khalifah Ar-Rasyid wa Al-Muslih al-Kabir Umar bin Abdul Azizi. Berikut pemaparannya.

  1. Ismai’l bin Ubaidillah bin Abi Al-Muhajir

Tahun 99 – 100 H, sang Khalifah Umar bin Abdul Aziz mendaulatnya sebagai Gubernur Ifriqiyya (sekarang Tunisia). Posisinya sebagai pejabat tinggi tidak lantas membuatnya lupa diri. Adil, zuhud, rendah hati serta cekatan dalam menyebarkan ilmu, begitulah sikap – sikap yang tertanam dalam dirinya. Selain itu, ia sangat senang menghafal hadist Nabi dan mengajak teman – temannya untuk melakukan hal serupa.

Dikisahkan selama masa jabatannya banyak dari kalangan suku Barbar berduyun – duyun memeluk agama Islam. Ia bermukim di Kairouan kurang lebih 33 tahun sebagai guru pengayom masyarakat sekaligus perowi hadist. Sebelum kemudian meninggal pada tahun 131 H.

  1. Bakar bin Sawadah Al-Jadzami (Abu Tsumamah)
Baca Juga :  Ini di antara Orang yang Paling Dekat dengan Rasulullah di Hari Kiamat

Ia telah menetap di utara Afrika lebih dari tiga puluh tahun sebagai mufti dan perawi hadist. Riwayat yang ia bawa berasal dari para Sahabat seperti Uqbah bin Nafi’, Sahal bin Sa’ad As-Saidi, dan Sufyan bin Wahab Al-Khaulani. Selain itu diperoleh juga  dari sejumlah Tabi’in seperti Said bin Al Musayyib dan Ibnu Syihab Az-Zuhri. Jika dihitung, ia memiliki hampir 40 orang masyayikh yang meriwayatkan hadist kepadanya.

Masyarakat sekitar mendapatkan manfaat besar dari kehadiran Abu Tsumamah. Banyak dari mereka berguru kepadanya dan turut meriwayatkan hadits darinya. Seperti Abdurrahman bin Ziyad dan Abu Zar’ah Al-Ifriki. Sebagai sorang muhaddists, Bakar dinilai sebagai perowi terpercaya. Periwayatannya diakui dan dinukil oleh Imam Muslim dan empat imam besar lainnya.

Selain itu, imam – imam hadits kenamaan seperti Bukhari, Ahmad dan At-Thabrani juga memasukan komentar Bakar pada kitab – kitab mereka. Kendati semasa hidupnya ia lebih lama tinggal di Kairouan, namun para ahli lebih sering  mencatatnya dalam daftar perowi asal Mesir.  Tahun 128 H, Bakar wafat di tanah perjuangannya, Kairouan.

  1. Ju’tsul bin ‘Ahan Ar-Ru’aini Al-Qutabani (Abu Sa’id)

Abu Al-Arab, Ibnu Hajar dan lainnya memasukan nama Ju’tsul dalam kalangan Tabi’in. Namun, mereka tidak menjelaskan dari sahabat siapa Ju’tsul meriwayatkan hadist. Namun yang jelas ia adalah seorang perowi hadist, faqih sekaligus penghafal Al-Qur’an. Ia telah menetap dan menebar keilmuannya di Kairoaun lebih dari lima belas tahun. Karirnya pun cukup cemerlang, diantara jabatan tinggi yang pernah ia tempati ialah hakim pemerintah di Kairouan.

Adapun perawi yang meriwayatkan darinya antara lain, Ubaidillah bin Zahar, Abdurrahman bin Ziad dan Bakar  Al Jadzami yang tidak lain adalah teman yang menemaninya saat menjadi delegasi di sebuah pertemuan ilmiah. Sebagian besar pemerhati hadist menilainya sebagai perowi terpercaya. Ia meninggal tahun 115 H setelah lebih dari 15 tahun mengabdi untuk masyarakat Kairouan.

  1. Hibban bin Jabalah Al-Qurasyi
Baca Juga :  Aban Putra bin Usman bin Affan: Seorang Ulama, Sejarawan, dan Pejabat  

Sebelum dimerdekakan, Hibban awalnya adalah seorang budak. Konon ia pernah dikirim ke Mesir untuk mengajari ilmu agama, tapi pendapat ini ditampik oleh Ali Muhammad As Shalabi. Menurutnya Hibban bukan diutus ke Mesir melainkan ke Kairouan. Riwayat hadisnya didapat dari sederet Sahabat ternama seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abdullah bin Amr dan ayahnya, Amr.

Sedangkan muridnya antara lain Abdurrahman bin Ziyad, Ubaidillah bin Zahar dan Musa bin Ali bin Rabah. Ia tergolong perowi yang terpercaya. Periwayatannya dicatat oleh imam – imam hadits seperti Imam Bukhari dalam kitab sahihnya, Ibnu Sanjar dalam musnadnya, dan Hakim dalam mustadraknya.  Lebih dari 25 tahun ia abdikan waktu dan tenaganya untuk menyebarkan ilmu di Kairoaun dan meninggal di sana pada tahun 122 H.

  1. Sa’ad bin Mas’ud at Tajibi (Abu Mas’ud)

Sa’ad meriwayatkan hadist dari sejumlah Sahabat satu diantaranya dari Abu Darda. Ia juga meriwayatkan hadist dari Nabi secara mursal. Sehingga beberapa orang mengira Abu Mas’ud adalah Sahabat Nabi. Namun, hal ini segera diluruskan oleh berbagai macam sumber bawa ia bukanlah Sahabat melainkan Tabi’in.

Kajian – kajian di majlis ilmu yang ia buka di Kairouan selalu diisi dengan kalam hikmah dan nasihat – nasihat. Selain itu, ia juga adalah orang yang tegas terhadap penguasa. Muslim bin Yasar Al-Ifriqi, Ubaidillah bin Zahar, Abdurrahman bin Ziyad, Ibnu Wahad adalah tokoh – tokoh Kairoaun yang meriwayatkan hadist dari Abu Mas’ud. Ia meninggal di Kairoaun namun tidak diketahui tahun wafatnya.

  1. Thalq bin Ja’ban al-Farisi

Konon nama ayahnya adalah Jaban, namun yang benar adalah Ja’ban seperti yang tertulis dalam kitab Al-Ikmal. Ia adalah seorang faqih dan ahli ilmu yang banyak meriwayatkan hadist dari Tabi’in. Diantara masyarakat Kairoaun yang mengambil riwayat darinya adalah Musa bin Ali dan Ibnu An’am. Sayangnya, sumber sejarah tidak mengetahui jelas masa domisilinya di Kairouan begitu juga dengan tahun wafatnya.

  1. Abdurrahman bin Rafi’ at-Tanukhi (Abu Jahm)
Baca Juga :  Tiga Aliran Mufasir Al-Qur'an di Masa Tabi’in

Abu Jahm memasuki kota Kairoaun tahun 80 H. Ia adalah hakim pertama Kairouan yang bertugas sejak era Hassan bin Nu’man dan bertahan hingga 33 tahun lamanya. Riwayat hadistnya diambil dari sahabat terkenal salah satunya Abdullah bin Amr bin Ash. Sementara perawi yang menukil hadist darinya antara lain Abdurrahman bin Ziad, Abdullah bin Zahar dan Bakar Al-Jadzami. Ia meninggal di Kairouan tahun 113 H.

  1. Abdullah bin Al-Mughirah bin Abi Burdah Al – Kannani

Sebelum diminta berdakwah oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Abdullah telah lebih dahulu menetap di Kairouan. Tahun 99 H, ia diberi amanah sebagai hakim wilayah tersebut sampai tahun 123 H. Sebagai figur seorang ulama besar ia dikenal adil, zuhud, wara’ dan ahli ilmu. Ia telah berkecimpung di dunia dakwah di Kairouan lebih dari 25 tahun.

  1. Abdullah bin Yazid Al-Ma’afiri al-Hubuli

Abdullah pergi ke kota Kairouan bersama Musa bin Nusair pada 86 H.  Ia pernah juga ikut dalam penaklukan Andalusia. Sekembalinya ke Kairouan ia kemudian membangun sebuah rumah dan masjid.  Ia meriwayatkan hadits dari beberapa Sahabat seperti Ibnu Umar, Uqbah bin Amir, Ibnu Amr dan Abu Dzar. Sementara perawi yang menukil darinya antara lain Abdurrahman bin Ziyad dan Abu Kuraib. Ia wafat tahun 100 H di Kairouan.

  1. Wahab bin Hay Al Ma’afiri

Wahab bin Hay termasuk tokoh senior dalam sejarah Afrika Utara. Ia telah mengikuti upaya penaklukan benua hitam ini sejak dulu kala. Sebab, ia pernah diminta Ibnu Abbas untuk mengenal masyarakat Maghrib. Wahab termasuk salah satu tokoh berpengaruh dalam menyebarkan riwayat hadist dari Ibnu Abbas di Afrika Utara. Adapun perawi yang meriwayatkan hadist darinya antara lain Abdurrahman bin Ziyad Al-Ifriki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here