​Alija Izetbegović (1925-2003): Bagaimana Cara Saya Membaca Al-Quran?

0
13

BincangSyariah.Com – Tulisan ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari hasil terjemahan Erman Sinanovic (selanjutnya disingkat: ES), pengamat Politik Islam di Negara-Negara Balkan terhadap tulisan Alija Izetbegovic, mantan Presiden Bosnia Herzegovina. Kami sepenuhnya mengandalkan hasil terjemah ES dalam bahasa Inggris, karena kami tidak mengetahui dan tidak menemukan tulisan asli Izetbegovic tersebut.

Catatan penerjemah [ES]: Dalam tulisan reflektif ini, mantan presiden Bosnia dan Herzegovina berbagi pandangannya tentang bagaimana cara membaca Al-Quran. Dia bukan seorang lulusan seminari Islam (Indonesia: Pesantren) atau madrasah, tapi mampu menawarkan pandangannya tentang Al-Quran dari perspektif seorang intelektual awam. Ini bukti bahwa tidak punya pengetahuan teknis tentang bahasa Arab dan Ilmu Al-Quran bukanlah penghalang untuk memahami Al-Quran. Menafsirkan Al-Quran tanpa paham disiplin ilmunya memang beresiko, tetapi di sisi lain memungkinkan perjalanan pribadi menyelami kedalaman makna Al-Quran.

Seumur hidup, saya telah membaca Al-Qur’an berulang kali tetapi tak pernah benar-benar mempertanyakan, “Bagaimana seharusnya Al-Qur’an dibaca?” Pertanyaan ini membuat saya berpikir, dan tulisan ini menyajikan pendapat saya terkait hal tersebut.

Pertama, perlu diingat bahwa Al-Quran adalah satu kesatuan utuh. Setiap ayat Al-Quran, jika dihilangkan konteksnya, bukanlah sebuah kebenaran utuh, tetapi hanya sebagian dari kebenaran itu sendiri. Hanya Al-Quran (secara keseluruhan) yang merupakan kebenaran lengkap dan utuh. Mengutip satu-dua ayat secara terpisah adalah hal yang tak bisa dihindari, tetapi kita harus menyadari keterbatasannya. Sama seperti karya seni mosaik. Kepingan keramik hitam atau merah hanya mendapat arti penuh dalam komposisi lengkap. Di luar itu, kepingan tersebut berkontribusi sedikit atau tidak sama sekali terhadap gambaran yang dibentuk. Untuk menjelaskan hal ini, saya akan memberikan beberapa contoh.

Ada ayat Al-Qur’an yang mengatur tentang hudud, seperti mata dibayar mata (al-Baqarah [2]: 179), tetapi ada ayat lain yang menganjurkan pengampunan. Ada ayat yang berbunyi: “Jangan mengharamkan hal-hal baik yang telah Allah halalkan bagimu” (Al-Ma’idah [5]: 87), sementara ayat lain menyebutkan: “Janganlah kamu tujukan pandanganmu ke arah hiasan-hiasan kehidupan duniawi” (Thaha [20]: 131).

Pembaca awam akan mengira ada kontradiksi dalam Al-Qur’an. Bukan begitu faktanya. Sebaliknya, itulah kualitas tertinggi dan eksklusif dari Al-Qur’an dan Islam, penggabungan perintah-perintah yang tampaknya bertentangan. Al-Qur’an tidak menginginkan salah satu dari keduanya, tetapi menginginkan keduanya. Al-Quran tidak hanya menginginkan pembalasan, tapi juga menginginkan pengampunan.

Baca Juga :  Kisah Bani Israil yang Dikutuk Jadi Kera di Hari Sabtu

Demikian juga, Al-Quran tidak hanya menginginkan urusan dunia saja atau akhirat saja, tidak pernah hanya salah satunya. Orang-orang yang hanya selalu menghukum, meskipun adil, bukanlah Muslim sejati karena mereka tidak memaafkan. Sebaliknya, mereka yang selalu memaafkan, dan tidak menentang kejahatan, juga bukanlah Muslim sejati. Muslim sejati adalah mereka yang mengetahui ukuran di antara kedua hal tersebut.

Kesimpulan tersebut hanya mungkin diambil dari memahami Al-Qur’an secara keseluruhan, bukan dari ayat-ayat yang dibaca secara terpisah. Saya percaya inilah satu-satunya metode yang membantu kita memahami makna Islam yang seutuhnya dan esensi pesannya.

Aturan kedua dalam membaca Al-Qur’an adalah, selalu mengulang bacaan Al-Qur’an, dengan jeda di antaranya. Metode ini akan membantu menemukan apa yang disebut sebagai “layering” dalam Al-Qur’an. Setiap kali membaca Al-Qur’an kita akan menemukan sesuatu yang baru. Al-Qur’annya tentu saja tetap sama, tetapi hal lainnya tak lagi sama: Anda berubah, situasi Anda berubah, dan dunia tempat Anda tinggal juga berubah. Perubahan ini memungkinkan Anda menemukan lapisan baru dalam Al-Qur’an yang tidak Anda perhatikan sebelumnya, sementara beberapa ayat, yang telah dibaca dan dilewati sebelumnya, sekarang bergema di jiwa Anda dengan cara baru. Semua orang bisa menemukan ini. Saya akan memberikan beberapa contoh dari pengalaman pribadi.

Ketika membaca Al-Qur’an saat masih muda, saya sering berhenti sejenak pada ayat-ayat yang berbicara tentang pekerjaan, perjuangan, dan keadilan. Sebuah buku catatan kecil dari masa itu menjadi saksinya. Buku itu diisi dengan kutipan-kutipan dari Al-Qur’an. Saya mengingatnya dengan baik, terkesan seperti seorang pemuda dengan ayat yang berbicara tentang melawan tirani. Ketika berbicara tentang orang-orang beriman, Al-Qur’an menggambarkan mereka – antara lain – sebagai orang-orang yang “setiap kali ditindas oleh tirani, mereka membela diri.” (Ash-Shura, 39).

Saya dulu mengutip ayat ini dengan senang hati di setiap kesempatan. Berbeda dengan masa lalu, hari ini saya lebih tertarik pada ayat-ayat yang berbicara tentang Tuhan, relativitas kehidupan, bahkan kehidupan setelah mati. Dengan kata lain, saya lebih menyukai ayat-ayat yang membimbing pada meditasi, bukan tindakan. Saya sangat terpesona oleh ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang Tuhan sebagai satu-satunya realitas yang tidak pernah musnah, “Semua akan binasa kecuali Wajah-Nya.” (Al-Qashas [26]: 88) Oleh karena itu, Tuhan adalah Dia yang ada sebelum bintang-bintang diciptakan dan yang akan tetap ada setelahnya. Dialah Yang Maha Esa dan Realitas Sejati.

Baca Juga :  Persahabatan Rasulullah dengan Pembesar Kafir Quraisy

Ketika ibu saya meninggal, dan saat rasa sakit di jiwa masih segar, saya akan membuka halaman Al-Qur’an yang berisi kalimat indah ini, “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan senang hati, menyenangkan. Masuklah di antara hamba-Ku dan masuklah ke surga-Ku.” (Al-Fajr [89]: 27-30). Ayat-ayat ini membuat saya menangis, tetapi juga memberikan ketenangan terbaik. Saya kemudian berpikir, apa kata-kata pelipur lara paling baik yang dapat diucapkan oleh seseorang yang harus melihat wajah anaknya yang telah meninggal? Maka, Al-Qur’an di satu sisi adalah hukum dan seruan perang, dan di sisi lain adalah penenang untuk penderitaan tak terelakkan di dunia ini. Dalam satu situasi kita akan melihat satu aspek, dan melihat aspek lain dalam situasi yang berbeda.

Perbedaan “lapisan kesan” atau nada Al-Qur’an yang bergantung pada situasi pribadi masing-masing individu ini juga berlaku untuk kehidupan komunitas. Dalam pengertian ini, kita berbicara tentang tema-tema khusus dari beberapa ayat Al-Qur’an. Ketika rasisme merajalela, makna khusus akan diberikan pada ayat-ayat yang berbicara tentang kesamaan asal usul manusia yang membuatnya memiliki hak yang setara (misalnya ayat pertama Surat An-Nisa, juz keempat). Ketika kekerasan dan eksklusivisme agama lazim terjadi, kita perlu menekankan ayat yang berbunyi: “Tidak ada paksaan dalam agama.” (Al-Baqarah [2]: 256) Sebagai seorang Muslim, kita tidak membeda-bedakan ayat Al-Qur’an, tetapi hampir menjadi konsensus di antara non-Muslim bahwa ayat yang baru saja kami kutip ini adalah yang paling tinggi dalam Al-Qur’an. Masalah ini bisa dibahas lebih lanjut, tetapi telalu panjang untuk ditulis di esai singkat ini. Ketika membahas tentang membaca Al-Qur’an, jenis bacaan khususnya biasa kita sebut mengaji (recitation), yaitu membaca dan mendengarkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab.

Membaca dan mendengarkan Al-Qur’an (dalam bahasa Arab) ini dipandang sebelah mata oleh sebagian orang karena kebanyakan dari kita tidak paham artinya. Saya tidak setuju dengan pendapat ini karena saya punya pengalaman yang sangat berkesan. Beberapa tahun lalu saya mendapat kesempatan menghadiri konferensi tentang isu-isu kebangkitan Islam. Selama konferensi tersebut, sejumlah ulama ternama mempresentasikan gagasan mereka tentang isu-isu agama dan isu pembaruan Islam lainnya. Setiap hari, acara konferensi ini dimulai dan diakhiri dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh salah satu hafidz (orang yang hafal Al-Quran) terkenal di dunia. Meski hadirin menyimak selama acara, namun tetap terasa kehadiran ratusan orang: ada yang bisik-bisik, ada suara kursi, ada suara kertas, dan sebagainya.

Baca Juga :  Ramalan Gus Dur atas Masa Depan B.J. Habibie

Tetapi ketika seorang hafidz mulai membaca Al-Quran, semua peserta menjadi tenang sampai terjadi keheningan mematikan dalam beberapa saat. Dalam jeda bacaan qari, tidak ada suara terdengar seperti tidak ada yang bernapas. Dalam keheningan ini orang dapat mendengar detak jantung mereka secara teratur. Al-Qur’an yang dibacakan oleh hafiz ini terdengar seperti sungai yang mengalir. Kadang terdengar sunyi, kadang berubah menjadi air terjun deras menakutkan yang seolah akan menghanyutkan kita.

Puncak dari pengalaman ini adalah pada hari terakhir acara, ketika seorang hafiz memberi hadiah khusus sebagai perpisahan. Saat itu dia membacakan surah Ar-Rahman yang terkenal akan keindahan dan komposisinya. Saya tidak dapat sepenuhnya menggambarkan momen itu. Saya tidak tahu arti dari surat tersebut (kecuali satu kalimat yang diulang-ulang [“nikmat Tuhan yang mana yang akan kamu dustakan?”]), tetapi saya merasa seperti mengetahuinya, baik saya maupun peserta yang lainnya. Setelah sesi pembacaan itu, saya merasa sangat dekat dengan orang lain dan sepertinya semua orang ingin memberi tahu satu sama lain: tidakkah Anda lihat, kita semua bersaudara!

Setelah pengalaman itu, saya tidak pernah mempertanyakan manfaat dari pembacaan Al-Qur’an di depan umum, juga soal mendengarkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Setiap Muslim sejati memahami Al-Qur’an dengan caranya masing-masing.

Saya ingin menutup tulisan singkat ini dengan sebuah perumpamaan: membaca Al-Qur’an itu seperti bepergian melewati negeri-negeri yang dikenali dan tidak. Ada dua orang yang melewati rute yang sama. Yang satu melewatinya dengan penuh kesan, dan yang lain melewatinya dengan mata tertutup. Pilihan pengalaman itu tergantung pada mereka, bukan pada lanskap dan kota yang mereka lewati. Karenanya, setiap orang akan menemukan kesannya sendiri yang khas dari Al-Qur’an.

Alija Izetbegović (8 Agustus 1925 – 19 Oktober 2003) adalah seorang aktivis, pengacara, penulis, ahli filsafat dan politisi yang menjadi presiden pertama Bosnia Herzegovina tahun 1990. Ia seringkali disebut sebagai pemimpin yang sering disalahpahami. Ditengah-tengah fragmentasi politik negara Balkan, ia secara terbuka menunjukkan identitas keislamannya. Beberapa karyanya yang terkenal dalam bahasa Inggris adalah Islam Between the East and the West dan Islamic Declaration

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here