BincangSyariah.Com- Banyak orang yang salah faham memaknai zuhud. Dengan dalih mengamalkan nilai-nilai zuhud, orang rela meninggalkan seluruh kemewahan dunia bahkan mengabaikan urusan duniawi, seperti berpakaian compang-camping, tersiksa karena menahan diri dari makan dan minum, tidak bekerja dan sibuk beribadah setiap saat sehingga menelantarkan anak dan istri.

Mari kita coba tengok bagaimana Kyai Bisyri Musthofa memaknai zuhud dalam maha karyanya, Tafsir Al-Ibriz. Kyai Bisyri adalah salah satu di antara ulama karismatik Indonesia yang berbicara tentang hakikat zuhud. Melalui pemikiran dan karya-karyanya, Kyai Bisyri menjadi salah satu ulama yang cukup berpengaruh dalam usaha pengajaran nilai-nilai Islam di berbagai kalangan masyarakat.

Lahir pada tahun 1915 M di Kampung Sawahan Rembang Jawa Tengah, ulama yang memiliki nama asli Mas hadi ini selain sebagai seorang muballigh handal, ia juga dikenal sebagai orator dan singa podium. Dalam menyampaikan dakwahnya Kyai Bisyri menyesuaikan diri dengan umat yang dihadapinya dengan penyampaian yang lugas dan mudah dipahami serta disesuaikan dengan konteks dan keadaan masyarakat tersebut.

Dalam hal pemikiran, murid sekaligus menantu dari Kyai Cholil Kasingan ini memiliki pemikiran yang konstekstual dan moderat serta sering melakukan terobosan-terobosan pemikiran yang sifatnya menggugah intelektualitas seseorang. Sikap moderat tersebut tidak hanya dalam bidang social keagamaan, namun juga merambat ke bidang politik, seperti dalam menerima konsep politik Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) yang telah dicetuskan oleh Presiden Seokarno, Keluarga Berencana (KB), Bank, dan lain-lain. Ayah dari A. Musthafa Bisyri atau Gus Mus ini juga telah menguasai beberapa ilmu agama yang dibuktikan melalui kitab-kitab karangannya, baik dalam ilmu tafsir, tasawuf, fiqh, tauhid, dan sebagainya.

Seperti disinggung di atas, salah satu karyanya di bidang tafsir yang terkenal dan cukup melegenda di kalangan masyarakat adalah kitab tafsir yang berjudul Al-Ibriz Li Ma’rifati Al-Qur’an Al-‘Aziz. Kitab ini ditulis menggunakan Bahasa Jawa dengan aksara arab atau Arab Pegon.

Baca Juga :  Bagaimana al-Qur’an Memandang Non-Muslim?

Ditulis kurang lebih selama 4 tahun di Rembang, tafsir ini bertujuan memberikan kemudahan bagi masyarakat Indonesia khususnya Kaum Jawa dalam memahami makna-makna al-Qur’an dan nilai-nilai kandungan di dalamnya. Selain mengacu pada pendapat para mufassir terdahulu seperti Imam Baidhowi, Kyai Bisyri juga berusaha menyajikan tafsir ini dengan menggunakan bahasa yang mudah, lugas, dan dapat langsung dipahami oleh masyarakat awam, sehingga tak heran jika sampai sekarang tafsir ini banyak dikaji oleh masyarakat kalangan dewasa bahkan kaum manula di berbagai pelosok Jawa.

Seperti kitab tafsir lainnya, tafsir monumental karya Kyai Bisyri juga memiliki banyak orientasi tafsir di dalamnya. Seperti orientasi fiqh, tasawuf, tauhid, bahasa, dan lain-lain.

Namun sesuai dengan tema yang saya bahas kali ini, Kyai Bisyri juga tidak luput menyinggung pembahasan tasawuf khususnya pembahasan tentang maqom zuhud, melalui penjelasan dan penafsiran lugas ayat-ayat yang berkaitan dengan zuhud. Beberapa ayat yang di dalamnya mengandung kata-kata yang mengisyaratkan pentingnya berlaku zuhud seperti kata “mata’u ad-dunya”, “al-la’buwa al-lahwu”, “gharrat dan alhayah ad-dunya”, “ziinah”, dan “al-akhirohwa al-khoir”. Seluruhnya diberi penafsiran yang merujuk pada makna kehidupan akhirat lebih baik dari kehidupan dunia yang hanyalah tipu daya dan bersifat sementara. Dalam tafsirnya, Kyai karismatik yang wafat pada tahun 1977 ini mengajak manusia agar tidak terlena dengan kehidupan dunia serta berlaku zuhud di dalamnya.

Pembahasan zuhud juga disebut dalam Qs. Al-Ankabut ayat 64. Kyai Bisyri memberi perumpamaan tentang kehidupan dunia yang sementara seperti anak-anak yang sedang asik bermain, lalu orangtuanya memanggil untuk pulang karena hari sudah larut malam. Hal ini menjelaskan bahwa kehidupan dunia tidaklah abadi sehingga jangan sampai manusia lalai di dalamnya. Penafsiran tersebut disajikan dengan bahasa Jawa yang singkat dan lugas sehingga mudah dipahami oleh masyarakat khususnya masyarakat Jawa. Walaupun Kyai Bisyri tidak disebutkan mengikuti suatu madzhab atau aliran sufi, namun pemikiran beliau dalam tafsirnya merujuk pada pendapat ulama-ulama sufi terutama ketika menafsirkan ayat-ayat tasawuf yang berhubungan dengan maqom zuhud.

Baca Juga :  Di Masa Rasul, Masyarakat Tidak Boleh Dibunuh saat Perang Berkecamuk

Selain pemikiran-pemikirannya yang dituangkan di dalam tafsir Al-Ibriz, Kyai Bisyri juga member contoh zuhud dalam karya lainnya di bidang tasawuf dan dalam perilaku kesehariannya. Seperti diceritakan oleh salah satu putranya, A. Musthofa Bisyri, Kyai Bisyri tidak memanfaatkan kekayaan dari hasil karya-karyanya untuk kepentingan pribadi, namun semata-mata ia gunakan untuk menyebarkan ilmu dan mengharap ridho-Nya. Tak jarang beliau juga memanggil para kyai, sanak kerabat, murid-murid, dan kenalannya untuk mayoran, makan-makan bersama di rumahnya. Beberapa petuah yang sering beliau katakan kepada muridnya juga berkaitan dengan pentingnya melibatkan Allah dalam segala urusan keduniawian. Sejauh mana seseorang menjadi pandai, kaya, sukses, maka akan sia-sia jika ia tidak menggantungkan kehidupan sementara dan penuh dengan tipudaya ini hanya kepada-Nya.

Apa yang dicontohkan oleh Kyai Bisyri dalam perilaku maupun penafsirannya di dalam tafsir Ibriz, juga dikatakan oleh As-Syibli, bahwa zuhud ialah lalai terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak ada apapun di dalamnya, yaitu dunia, maka sudah semestinya dunia yang harus kita jauhi bukan dunia yang membuat kita jauh dan lalai kepada Maha Penciptanya.

Dengan demikian hakikat zuhud yang semestinya kita pahami di zaman yang penuh dengan tipuan seperti sekarang ini, bukanlah zuhud dengan meninggalkan dan mengasingkan diri dari semua kehidupan dunia dan hanya sibuk beribadah sepanjang waktu, melainkan tetap berinteraksi dengan kemewahan dunia dengan tidak terlena di dalamnya serta menggunakan kemewahan-kemewahan tersebut sebagai sarana untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Pemiliknya, Allah subhanahuwata’ala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here