Zikir yang Paling Utama dalam Pandangan Ibnu Taymiyyah

1
1352

BincangSyariah.Com – Dalam Alquran, ada banyak deskripsi tentang kaum beriman dalam kaitannya dengan zikir kepada Allah. Misalnya dalam QS. Ali Imran, ayat: 191 dikatakan bahwa orang-orang yang beriman itu mereka yang ingat kepada Allah baik ketika berdiri, ketika duduk dan ketika berbaring. Orang beriman dalam kaitannya dengan zikir itu oleh Alquran surat ar-Raad ayat 28 menjadi tenang jiwanya karena mengingat Allah dan sesungguhnya dengan mengingat Allah maka jiwa akan menjadi lebih tenang.

Dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 152 mengajarkan kepada kita bahwa jika kita ingat kepada Allah maka Allah pun akan ingat kepada kita. Alquran surat al-hasyr ayat 19 juga memperingatkan kita bahwa jangan sampai kita lupa kepada Allah sebab dengan lupa kepada Allah maka Allah pun akan membuat kita lupa akan diri kita sendiri, yakni, kita menjadi manusia yang tidak utuh.

Pertanyaannya kemudian ialah bagaimana kita melakukan zikir agar selalu ingat kepada Allah? Jika kita merujuk kepada banyak literatur kesufian, akan ditemukan bahwa lafal Allah ialah yang paling banyak disebut dan digunakan dalam berzikir kepada Allah SWT. Lafal-lafal yang lain yang digunakan untuk berzikir ialah Asmaul Husna seperti al-Ghafur, al-Wadud, al-Lathif, al-Qowiyy dan seterusntya yang masing-masingnya harus dilakukan dengan penghayatan mendalam akan arti dan maknanya.

Kendati demikian, dalam pandangan Ibnu Taymiyyah, sosok yang dikenal oleh Henry Laost dan George Makdisi sebagai seorang sufi juga, zikir dengan nama tunggal (isim mufrad) tidak dianjurkan dalam agama. Menurut Ibnu Taymiyyah dari telaahnya terhadap beberapa hadis Nabi, zikir yang paling utama ialah yang berupa kalimat lengkap, yakni la ilaha illa Allah. Lafal tahlil ini merupakan zikir yang mengandung makna lengkap (mufid dan taamm), yakni peniadaan jenis penyembahan kepada sesuatu apapun (nafy) dan hanya Allah yang berhak disembah (itsbat).

Baca Juga :  Agar Dibimbing Selalu oleh Allah, Baca Doa yang Diajarkan Nabi pada Sahabat Ali Ini

Anjuran berzikir yang menggunakan lafal tahlil ini sebenarnya dapat kit abaca dari hadis Nabi Muhammad SAW yang bersabda bahwa: “Sebaik-baik ucapan sesudah Alquran ada empat dan semuanya berasal dari Alquran: Subhanallah, Alhamdulillah, la ilaha illa Allah dan Allahu Akbar dan terserah kita mana saja kalimat itu yang ingin kita gunakan dalam berzikir.
Lebih dari itu, Ibnu Taymiyyah mengatakan bahwa dengan zikir dalam kalimat yang lengkap dan bermakna (kalamun tamun mufidun), seseorang lebih terjamin dari segi imannya karena kalimat yang lengkap dan bermakna itu aktif, yakni menegaskan makna dan sikap tertentu yang positif dan baik.

Menariknya lagi, dalam as-Sufiyyah wal Fuqara, Ibnu Taymiyyah kemudian memperluas cakupan zikir itu ke semua aktifitas manusia yang membuatnya dekat dengan Allah SWT seperti aktifitas mempelajari ilmu dan mengajarkannya, aktifitas meneliti alam semesta dan seisinya serta menjalankan amar maruf nahi munkar.

Berangkat dari perluasan aktifitas zikir ini, kita dapat melihat Ibnu Taymiyyah seolah ingin menegaskan bahwa penghayatan keagamaan yang bersifat batin hendaknya tidak mengabaikan aktifitas hidup, dan bahkan dalam pandangan Ibnu Taymiyyah ini kita menemukan satu pesan bahwa dalam mendekati Allah, kita tidak harus beruzlah dari hiruk-pikuk persoalan manusia. Lebih dari itu, dalam pandangan Ibnu Taymiyyah tentang zikir ini, ada satu pesan yang menyiratkan bahwa kita harus aktif terlibat dalam problem-problem sosial kemasyarakatan.

Sesekali beruzlah atau menghindari hiruk pikuk persoalan mungkin bisa dianggap ada baiknya jika hal demikian dilakukan untuk menyegarkan kemabli wawasan dan meluruskan pandangan yang kemudian kita jadikan starting point untuk terlibat lagi dalam aktifitas sosial secara lebih segar dan bersemangat. Allahu Alam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here