Dasar Zikir Huu Huu Huu dalam Ajaran Tasawuf

0
295

BincangSyariah.Com – Zikir huu huu huu saat ini sedang ramai didiskusikan di media sosial. Beberapa penceraman Youtobe berpendapat bahwa zikir dengan lafal tersebut tidak ada tuntunannya. Dalam tulisan ini, penulis ingin menyampaikan beberapa keterangan para ulama tentang zikir tersebut.

Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa di dalam al-Quran terdapat tiga nama Allah yang berupa isim dhamir (kata ganti). Ketiga kata ganti tersebut adalah “Ana (Aku), Anta (Engkau), dan Hua (Dia). Dari ketiganya, kata ganti yang paling ma’rifat adalah “Ana” yang pertengahan adalah “Anta” dan yang paling akhir adalah “Hua”.

Contoh dari penggunaan kata ganti “Ana” adalah firman Allah:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” (QS. Thaha [20] : 14)

Kalimat “Laailaaha illaa anaa” tidak boleh diucapkan oleh selain Allah kecuali dengan cara hikayah (menceritakan) firman Allah, karena siapa saja yang mengucapkan kalimat tersebut berarti memproklamirkan diri sebagai Tuhan, dan hal tersebut tidak boleh dilakukan kecuali oleh Allah SWT.

Kemudian contoh penggunaan kata ganti “Anta” adalah firman Allah:

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau…” (QS. Al-Anbiya [21] : 87).

Baca Juga :  Masuk Surga Sebab Mentauhidkan Allah

Kalimat “Laailaaha illaa anta” boleh diucapkan oleh seorang hamba dengan syarat hatinya hadir bersama Allah, tidak ghaib, berada pada maqam musyahadah, dan jauh dari segala macam kesenangan nafsu sebagaimana kondisi Nabi Yunus ketika mengucapkan kalimat tersebut.

Penggunaan kata ganti “Hua” sebagai kata ganti Allah banyak digunakan dalam al-Quran, di antaranya adalah firman Allah:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [02] : 163).

Kalimat “Laailaaha illa hua” boleh diucapkan oleh orang-orang yang hatinya tidak hadir, ghaib, dan belum sampai pada maqam musyahadah.

Fahruddin ar-Razi selanjutnya menyebutkan sebelas rahasia tasawuf dalam zikir “Huu”, yang diantaranya adalah:

Seseorang ketika berzikir “Yaa Huu”, seolah-olah dirinya mengatakan “Siapakah aku ini, hingga ingin mengenal-Mu. Siapakah aku ini, hingga ingin berbicara dengan-Mu. Tidak sepadan antara debu dan Rabbu al-Arbaab (Tuhannya seluruh ‘tuhan’). Apakah patut antara manusia yang lahir dari sperma dan darah, dengan Dzat yang bersifat azali dan qidam?...”. Sebab itulah seorang hamba cukup memanggil dengan kata ganti Allah, yaitu “Yaa Huu”.

Masih menurut ar-Razi, orang yang berzikir dengan “Huu” hatinya akan diterangi dengan nur (cahaya) zikir, dan tidak terkontaminasi dengan dzulmah (kegelapan), karena ketika seseorang berzikir “Huu” yang diingat hanyalah huwiyyah atau hakikat Dzat Allah. Berbeda dengan nama-nama Allah yang lain, semisal “Yaa Rahmaan” maka dia akan mengingat belas kasih Allah dan kemudian mengharapkan kasih sayang tersebut untuk dirinya. (Baca: Hukum Menggelengkan Kepala dan Menggerakkan Tubuh ketika Berzikir)

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Bayyinah 4-8: Balasan yang Jelas Bagi Orang Beriman dan Orang Kafir

Selanjutnya Ar-Razi menjelaskan, orang yang selalu mengucapkan zikir tersebut, akan membuat dirinya rindu kepada Allah, sedangkan rindu adalah salah satu maqam (kedudukan) tasawuf yang menyimpan banyak kenikmatan dan kebahagiaan. Rasa rindu tersebut akan membuncah karena “Huu” adalah dhamir ghaib, sehingga seorang yang berzikir akan mengetahui bahwa dirinya adalah orang yang ghaib, tidak melihat Dzat Allah SWT, dan dia akan mengetahui bahwa keghaiban tersebut tidak disebabkan oleh tempat atau arah yang berjauhan, melainkan karena sebab dirinya masih memiliki banya sifat ketidaksempurnaan.

Muhammad al-Mahdi dalam Mathaali’ al-Masarrat mengutip penjelasan dalam kitab at-Tahbiir, lafal “huu” semula diciptakan untuk menunjukkan makna isyarat, kemudian menurut ulama tasawuf, “Huu” digunakan untuk menunjukkan makna puncak hakikat. Bagi kebanyakan orang, lafal “huu” tidak akan memberi pemahaman makna yang jelas kecuali setelah disambung dengan kata lain, semisal “hua qaaimun” (dia berdiri). Berbeda dengan ahli tasawuf, ketika mereka mengucapkan “Huu”, maka sebelumnya, hati mereka telah terkoneksi dengan Dia Sejati, Allah SWT. Maka “Huu” yang mereka maksud pastilah Allah SWT.

Zikir “Huu” selain diajarkan sebagai wirid dalam tarekat, juga diajarkan oleh para ulama Tasawuf dalam rangkaian hizib dan shalawat.

Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam Lathaif al-Minan menuliskan hizib Syaikh Abu Hasan asy-Syadzali yang salah satu kutipannya berbunyi, “Yaa Man Huu.. Hu… Yaa Huu..

Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuliy dalam Dalail al-Khairat juga menyebutkan, “Yaa Huu, Yaa Man Laa Hua illa Hua, Yaa Man laa Ilaaha illa Hua”.

Beberapa redaksi di atas mengindikasikan bahwa, dalam pandangan para ulama tasawuf, “Huu” bukanlah isim dhamir (kata ganti), melainkan salah salah satu dari nama Allah SWT. Karena jika “Huu” tersebut adalah dhamir ghaib, maka dalam Bahasa Arab tidak diperbolehkan memanggil dhamir ghaib menggunakan huruf nida (huruf untuk memanggil).

Baca Juga :  Hukum Body Shaming dalam Islam

Muhammad al-Mahdi dalam Mathaali’ al-Masarrat menjelaskan, menurut para ulama sufi, “Huu” adalah nama tersendiri bagi Allah, bukanlah dhamir ghaib, mereka biasa mengucapkan “Huu” untuk menunjukkan “Allah” sebagaimana nama-nama yang lain. karena itulah, diperbolehkan memasukkan ya’ nida (ya’ untuk memanggil) pada lafal “Huu”, sehingga menjadi “Yaa Huu”.

Muhammad al-Mahdi juga mengutip penjelasan dalam Nawaadir al-Ushul, bahwa “Hua” adalah isim bukan sifat, berasal dari kata “Huwiyyah” (hakikat, pribadi atau jati diri). “Hua” merupakan isyarat hati terhadap Dzat yang telah dikenal dan memiliki beberapa sifat.

Ismail bin Muhammad Sa’id al-Qadiri al-Jilani dalam al-Fuyudhat ar-Rabbaniyyah fi a-Ma’atsir wa al-Aurad al-Qadiriyyah menganjurkan untuk mengamalkan wirid dengan tujuh macam asma’ (nama). Dari ketujuh nama tersebut, nama yang ketiga adalah “Huu” yang dibaca sebanyak 44.600 kali, sekaligus dengan mengamalkan bacaan tawajjuhnya.

Jalaluddin as-Suyuthi dalam Hawi lil Fatawa menampaikan beberapa pendapat tentang asma’ al-a’dzam (nama-nama Allah yang mulia). Pendapat ketiga mengatakan, asma’ al-a’dzam adalah “Huu” sebagaimana dikutip dari ulama-ulama ahli kasyaf.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here